LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
BIO ASSAY
Disusun oleh:
Insan Ridha Ulil Albab
1210706014
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2011
I.
JUDUL
: “ Uji
Biologis ( BIO ASSAY)”
II.
LANDASAN TEORI
Uji Bioassay adalah suatu
cara untuk mengukur efektivitas suatu insektisida terhadap vektor penyakit.
Dalam era industrialisasi dan globalisasi dewasa ini di beberapa negara yang sedang
berkembang termasuk Indonesia, isu kualitas lingkungan menjadi permasalahan
nasional yang perlu dicari jalan pemecahannya. Kualitas lingkungan yang menurun
di suatu negara akan sangat berpengaruh terhadap produk-produk yang dihasilkan
negara yang bersangkutan. Penurunan kualitas lingkungan akan berpengaruh
terhadap produk pertanian, peternakan dan perikanan, sehingga daya saing untuk
keperluan ekspor di pasaran internasional menjadi menurun
Penggunaan pestisda disamping memberikan keuntungan
juga memberikan efek samping yang membahayakan atau merusak bagi tanaman,
jasad, hewan ternak, ikan, manusia dan lingkungan jika cara penggunaanya kurang
bijaksana. Dampak negatif dari
penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:
1. Hama menjadi kebal (resisten)
2. Peledakan hama baru (resurjensi)
3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam
hasil panen
4. Terbunuhnya musuh alami
5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan
kimia
6. Kecelakaan bagi pengguna
III.
TUJUAN
ü Untuk mengakaji efektivitas terhadap
sasaran
ü Untuk mengetahui pengaruh pestisida
terhadap lingkungan
IV.
ALAT DAN BAHAN
·
Breaker
gelas 1000 mm
·
Garden
sprayer
·
Batang
pengaduk
·
Corong
gelas
·
Stoples
1000 ml
·
Cawan
petri
·
Beberapa
jenis insektisida
·
Ikan
koi
·
Air
bersih
V.
CARA KERJA
1. Buat laruan insektisida 1ml,2ml,dan
3ml
2. Masukan larutan kedalam stoples 1000
ml
3. Masukan ikan impun tersebut kedalam
stoples dan berikan selang udara agar ikan dapat memperoleh oksigen
4. Amati tingkat kematian ikankoi
tersebut setiap menitnya
VI.
HASIL DAN PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan Herbisida
|
Kematian jasad sasaran
|
|||
|
Konsaentrasi / ppm
|
|||
|
TL
|
1 ml
|
2 ml
|
3 ml
|
|
-
|
3 ekor, 5 menit
|
3 ekor , 5 menit 12 detik
|
3 ekor 1 menit 6 detik
|
2. Tabel Pengamatan insektisida
|
Kematian jasad sasaran
|
|||
|
Konsaentrasi / ppm
|
|||
|
TL
|
1 ml
|
2 ml
|
3 ml
|
|
-
|
3 ekor, 4 menit
|
3 ekor , 6 menit 20 detik
|
3 ekor 6 menit
|
VII.
PEMBAHASAN
Dari percobaan yang telah kami lakukan, tabel tersebut menunjukkan
bahwa semua ikan uji yang terkena larutan insektisida dan herbisida dengan
konsentrasi/ppm 0,6% bergerak kencang tidak beraturan, lalu menggelepar, lemas,
dan akhirnya mati dalam waktu yang berbeda sesuai dengan volum larutan yang
diberikan. Semakin besar volum larutan yang diberikan, maka semakin cepat mati
ikan yang berada di dalam air yang dicampurkan dengan larutan insektisida dan
herbisida tersebut
Daya meracun
berbagai pestisida khususnya herbisida terhadap kehidupan ikan telah banyak
diteliti. Misalnya kemampuan meracuni
kehidupan ikan, jenis insektisida nampak lebih kuat dibanding herbisida. Akan tetapi, karena
pemakaian herbisida sebagai pengendali gulma intensitas pemakaiannya lebih
tinggi, maka dampak kerusakannya lebih nampak. Nilai toksisitas akut herbisida
terhadap ikan umumnya jauh lebih tinggi dari pada konsentrasi yang dibutuhkan
untuk mengendalikan gulma.
Pestisida peningkatan peracunan
lingkungan yang terjadi karena efek biomagnifikasi (peningkatan biologis) yaitu
peningkatan daya racun suatu zat terjadi dalam tubuh jasad hidup, karena reaksi
hayati tertentu. Semua senyawa OF (organofosfat,o rganophospates) dan KB
(karbamat,carbamate s) bersifat perintang ChE (ensimcho line esterase), ensim
yang berperan dalam penerusan rangsangan syaraf. Peracunan dapat terjadi karena
gangguan dalam fungsi susunan syaraf yang akan menyebabkan kematian atau dapat
pulih kembali. Umur residu dari OF dan KB ini tidak berlangsung lama sehingga
peracunan kronis terhadap lingkungan cenderung tidak terjadi karena faktor-faktor lingkungan mudah
menguraikan senyawa-senyawa OF dan KB menjadi komponen yang tidak beracun.
Walaupun demikian senyawa ini merupakan racun akut sehingga dalam penggunaannya
faktor-faktor keamanan sangat perlu diperhatikan. Karena bahaya yang
ditimbulkannya dalam lingkungan hidup tidak berlangsung lama, sebagian besar
insektisida dan sebagian fungisida yang digunakan saat ini adalah dari golongan
OF dan KB.
VIII.
KESIMPULAN
Daya meracun berbagai pestisida
khususnya herbisida terhadap kehidupan ikan telah banyak diteliti. Misalnya kemampuan meracuni kehidupan ikan,
jenis insektisida nampak lebih kuat dibanding herbisida. Akan tetapi karena pemakaian herbisida
sebagai pengendali gulma intensitas pemakaiannya lebih tinggi, maka dampak
kerusakannya lebih nampak. Nilai toksisitas akut herbisida terhadap ikan
umumnya jauh lebih tinggi dari pada konsentrasi yang dibutuhkan untuk
mengendalikan gulma. Sebagai contoh,
herbisida paraquat pada kadar aplikasi 1,14 ppm dapat mematikan ikan lele, dan
ikan salmon 3 hari setelah aplikasi (Duursma and Marchand, 1974).
IX.
DAFTAR PUSTAKA
·
Diakses pada
tanggal 5 desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar