Senin, 16 Januari 2012

BIO ASSAY



LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
BIO ASSAY







Disusun oleh:
Insan Ridha Ulil Albab
1210706014






PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2011

I.                    JUDUL  : “ Uji Biologis ( BIO ASSAY)”
II.                  LANDASAN TEORI
Uji Bioassay adalah suatu cara untuk mengukur efektivitas suatu insektisida terhadap vektor penyakit. Dalam era industrialisasi dan globalisasi dewasa ini di beberapa negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, isu kualitas lingkungan menjadi permasalahan nasional yang perlu dicari jalan pemecahannya. Kualitas lingkungan yang menurun di suatu negara akan sangat berpengaruh terhadap produk-produk yang dihasilkan negara yang bersangkutan. Penurunan kualitas lingkungan akan berpengaruh terhadap produk pertanian, peternakan dan perikanan, sehingga daya saing untuk keperluan ekspor di pasaran internasional menjadi menurun

Penggunaan pestisda disamping memberikan keuntungan juga memberikan efek samping yang membahayakan atau merusak bagi tanaman, jasad, hewan ternak, ikan, manusia dan lingkungan jika cara penggunaanya kurang bijaksana. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:
1.      Hama menjadi kebal (resisten)
2.      Peledakan hama baru (resurjensi)
3.      Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
4.      Terbunuhnya musuh alami
5.      Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
6.      Kecelakaan bagi pengguna
III.                TUJUAN
ü  Untuk mengakaji efektivitas terhadap sasaran
ü  Untuk mengetahui pengaruh pestisida terhadap lingkungan
IV.               ALAT DAN BAHAN

·         Breaker gelas 1000 mm
·         Garden sprayer
·         Batang pengaduk
·         Corong gelas
·         Stoples 1000 ml
·         Cawan petri
·         Beberapa jenis insektisida
·         Ikan koi
·         Air bersih

V.                 CARA KERJA
1.      Buat laruan insektisida 1ml,2ml,dan 3ml
2.      Masukan larutan kedalam stoples 1000 ml
3.      Masukan ikan impun tersebut kedalam stoples dan berikan selang udara agar ikan dapat memperoleh oksigen
4.      Amati tingkat kematian ikankoi tersebut setiap menitnya

VI.               HASIL DAN PENGAMATAN
1.      Tabel Pengamatan Herbisida

Kematian jasad sasaran
Konsaentrasi / ppm
TL
1 ml
2 ml
3 ml
-
3 ekor, 5 menit
3 ekor , 5 menit 12 detik
3 ekor 1 menit 6 detik

2.      Tabel Pengamatan insektisida

Kematian jasad sasaran
Konsaentrasi / ppm
TL
1 ml
2 ml
3 ml
-
3 ekor, 4 menit
3 ekor , 6 menit 20 detik
3 ekor 6 menit

VII.             PEMBAHASAN
Dari percobaan yang telah kami lakukan, tabel tersebut  menunjukkan bahwa semua ikan uji yang terkena larutan insektisida dan herbisida dengan konsentrasi/ppm 0,6% bergerak kencang tidak beraturan, lalu menggelepar, lemas, dan akhirnya mati dalam waktu yang berbeda sesuai dengan volum larutan yang diberikan. Semakin besar volum larutan yang diberikan, maka semakin cepat mati ikan yang berada di dalam air yang dicampurkan dengan larutan insektisida dan herbisida tersebut
Daya meracun berbagai pestisida khususnya herbisida terhadap kehidupan ikan telah banyak diteliti.  Misalnya kemampuan meracuni kehidupan ikan, jenis insektisida nampak lebih kuat dibanding herbisida.  Akan tetapi, karena pemakaian herbisida sebagai pengendali gulma intensitas pemakaiannya lebih tinggi, maka dampak kerusakannya lebih nampak. Nilai toksisitas akut herbisida terhadap ikan umumnya jauh lebih tinggi dari pada konsentrasi yang dibutuhkan untuk mengendalikan gulma.
Pestisida peningkatan peracunan lingkungan yang terjadi karena efek biomagnifikasi (peningkatan biologis) yaitu peningkatan daya racun suatu zat terjadi dalam tubuh jasad hidup, karena reaksi hayati tertentu. Semua senyawa OF (organofosfat,o rganophospates) dan KB (karbamat,carbamate s) bersifat perintang ChE (ensimcho line esterase), ensim yang berperan dalam penerusan rangsangan syaraf. Peracunan dapat terjadi karena gangguan dalam fungsi susunan syaraf yang akan menyebabkan kematian atau dapat pulih kembali. Umur residu dari OF dan KB ini tidak berlangsung lama sehingga peracunan kronis terhadap lingkungan cenderung tidak terjadi karena faktor-faktor lingkungan mudah menguraikan senyawa-senyawa OF dan KB menjadi komponen yang tidak beracun. Walaupun demikian senyawa ini merupakan racun akut sehingga dalam penggunaannya faktor-faktor keamanan sangat perlu diperhatikan. Karena bahaya yang ditimbulkannya dalam lingkungan hidup tidak berlangsung lama, sebagian besar insektisida dan sebagian fungisida yang digunakan saat ini adalah dari golongan OF dan KB. 


VIII.           KESIMPULAN
Daya meracun berbagai pestisida khususnya herbisida terhadap kehidupan ikan telah banyak diteliti.  Misalnya kemampuan meracuni kehidupan ikan, jenis insektisida nampak lebih kuat dibanding herbisida.  Akan tetapi karena pemakaian herbisida sebagai pengendali gulma intensitas pemakaiannya lebih tinggi, maka dampak kerusakannya lebih nampak. Nilai toksisitas akut herbisida terhadap ikan umumnya jauh lebih tinggi dari pada konsentrasi yang dibutuhkan untuk mengendalikan gulma.  Sebagai contoh, herbisida paraquat pada kadar aplikasi 1,14 ppm dapat mematikan ikan lele, dan ikan salmon 3 hari setelah aplikasi (Duursma and Marchand, 1974).

IX.                DAFTAR PUSTAKA

·         Diakses pada tanggal 5 desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar