Senin, 31 Desember 2012

Sistem Irigasi Curah



I.           DASAR TEORI
Air sebagai salah satu factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan keberhasilan  peningkatan produksi pertanian, ketersediaanya mutlak diperlukan baik secara jumlah maupun kualitasnya. Akan tetapi seiring dengan adanya dampak perubahan iklim,pergeseran musim kemarau ataupun musim hujan memberikan dampak  pada  ketersediaan air di areal pertanian.
Sistem irigasi curah (sprinkler) merupakan salah satu alternative metode pemberian air dengan efisiensi pemberian air lebih tinggi dibandingkan dengan irigasi curah ini menggunakan energy tekanan untuk membentuk dan mendistribusikan air ke lahan. Tekanan merupakan salah satu factor penting yang menentukan kinerja sprinkler. Komponen utama dari sistem ini antara lain mata curah (sprinkler), lateral, saluran cabang, (sub main), dan saluran utama (main line. Sprinkler digunakan untuk mengemprotkan air dalam bentuk rintik ke lahan, jaringan lateral, saluran cabang, dan saluran utama digunakan untuk mengalirkan air dari sumber, ke sprinkler, alat pencurah dinyatakan dalam lima parameter yaitu debit sprinkler, jarak pancaran, pola sebarab air, harga pemberian air, dan ukuran rintik.
II MAKSUD DAN TUJUAN
ü  Mengenal sistem irigasi curah
ü  Mempelajari dan memahami kinerja sistem irigasi curah
III TINJAUAN PUSTAKA
Irigasi curah atau siraman (sprinkle) menggunakan tekanan untuk membentuk tetesan air yang mirip hujan ke permukaan lahan pertanian. Disamping untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Sistem ini dapat pula digunakan untuk mencegah pembekuan, mengurangi erosi angin, memberikan pupuk dan lain-lain. Pada irigasi curah air dialirkan dari sumber melalui jaringan pipa yang disebut mainline dan sub-mainlen dan ke beberapa lateral yang masing-masing mempunyai beberapa mata pencurah (sprinkler) (Prastowo, 1995).
            Sistem irigasi curah dibagi menjadi dua yaitu set system (alat pencurah memiliki posisi yang tepat),serta continius system (alat pencurah dapat dipindah-pindahkan). Pada set system termasuk ; hand move, wheel line lateral, perforated pipe, sprinkle untuk tanaman buah-buahan dan gun sprinkle.  Sprinkle jenis ini ada yang dipindahkan secara periodic dan ada yang disebut fixed system atau tetap (main line lateral dan nozel tetap tidak dipindah-pindahkan). Yang termasuk continius move system adalah center pivot, linear moving lateral dan traveling sprinkle (Keller dan Bliesner, 1990).
            Menurut Hansen et. Al (1992) menyebutkan ada tiga jenis penyiraman yang umum digunakan yaitu nozel tetap yang dipasang pada pipa, pipa yang dilubangi (perforated sprinkle) dan penyiraman berputar. Sesuai dengan kapasitas dan luas lahan yang diairi serta kondisi topografi, tata letak system irigasi curah dapat digolongkan menjadi tiga yaitu (1) Farm system, system dirancang untuk suatu luas lahan dan merupakan satu-satunya fasilitas pemberian air irigasi, (2) Field system, system dirancang untuk dipasang di beberapa laha pertanian dan biasanya dipergunakan untuk pemberian air pendahuluan pada letak persemaian, (3) Incomplete farm system, system dirancang untuk dapat diubah dari farm system menjadi fiekd system atau sebaliknya.
            Berapa kelebihan sistem irigasi curah disbanding desain konvensional atau irigasi gravitasi antara lain ; (1) sesuai untuk daerah-daerah dengan keadaan topografi yang kurang teratur dan profil tanah yang relative dangkal, (2) tidak memerlukan jaringan saluran sehingga secara tidak langsung akan menambah luas lahan produktif serta terhindar dari gulma air, (3) sesuai untuk lahan berlereng tampa menimbulkan masalah erosi yang dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah. Sedangkan kelemahan sistem irigasi curah adalah (1) memerlukan biaya investasi dan operasional yang cukup tinggi, antara lain untuk operasi pompa air dan tenaga pelaksana yang terampil, (2) memerlukan rancangan dan tata letak yang cukup teliti untuk memperoleh tingkat efisiensi yang tinggi (Bustomi, 1999).   
            Menurut Keller (1990) efisiensi irigasi curah dapat diukur berdasarkan keseragaman penyebaran air dari sprinkle. Apabila penyebaran air tidak seragam maka dikatakan efisiensi irigasi curah rendah. Parameter yang umum digunakan untuk mengevaluasi keseragaman penyebaran air adalah coefficient of uniformity (CU). Efisiensi irigasi curah yang tergolong tinggi adalah bila nilai CU lebih besar dari 85%.
            Berdasarkan penyusunan alat penyemprot, irigasi curah dapat dibedakan ; (1) system berputar (rotaring hed system) terdiri dari satu atau dua buah nozzle miring yang berputar dengan sumbu vertical akibat adanya gerakan memukul dari alat pemukul (hammer blade). Sprinkle ini umumnya disambung dengan suatu pipa peninggi (riser) berdiameter 25 mm yang disambungkan dengan pipa lateral, (2) system pipa berlubang (perforated pipe system), terdiri dari pipa berlubang-lubang, biasa dirancang untuk tekanan rendah antara 0,5-2,5 kg/cm2 , hingga sumber tekanan cukup diperoleh dari tangkai air yang ditempatkan pada ketinggian tertentu (Prastowo dan Liyantono, 2002).
            Umumnya komponen irigasi curah terdiri dari (a) pompa dengan tenaga penggerak sebagai sumber tekanan, (b) pipa utama, (c) pipa lateral, (d) pipa peninggi (riser) dan (e) kepala sprinkle (head sprinkle). Sumber tenaga penggerak pompa dapat berupa motor listrik atau motor bakar. Pipa utama adalah pipa yang mengalirkan air ke pipa lateral. Pipa lateral adalah pipa yang mengalirkan air dari pipa utama ke sprinkle. Kepala sprinkle adalah alat/bagian sprinkle yang menyemprotkan air ke tanah (Melvyn, 1983).

IV ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
1. Gelas Penampung
2. Presure Gauge
3.  Stopwach
4. Gelas Ukur
5. Alat Ukur Panjang
7. Alat Tulis
IV. CARA KERJA
1. Mempersiapkan alat dan bahan tersebut, serta memasang dalm suatu rangkaian seperti terlihat pada gambar 4.1
2.  Mengukur jarak antar gelas penampung 50 cm ( semakin rapat penempatan gelas penampung meningkatkan akurasi pengukuran / mengurangi kesalahan)
3. Ukur debit yang keluar dari kran sumber air dengan menggunakan gelas ukur 2 liter catat waktu yang dibutuhkan lakukan ulangan sebanyak 3 kali.
4. Ukur tekanan air pada kran dengan menggunakan pressure gauge, berapa tekanan untuk bukaan kran penuh dan bukaan kran setengah. Lakukan dua kali pengukuran tiap masing – masing bukaan kran.
5. Mengoperasikan sistem irigasi curah dalam selang waktu tertentu (5 menit) kemudian diukur:
a.      Volume air tamping dalam kolektor
b.      Diameter air dalam kolektor
c.       Jarak pancaran
d.      Kecepatan dan arah angin
e.      Suhu dan RH udara

V. HASIL PENGAMATAN
a.      Debit Air Di Saluran Lateral Sprinkle  
No.
Pengukuran
Bukaan Kran
Volume (liter)
T (waktu)
Debit (Q) m3/jam
1
I
Satu putaran
2
20” 82
0,35
2
II
Satu putaran
2
19” 80
0,36
3
III
Satu putaran
2
19”47
0,36
4
I
½ putaran
2
1’ 39” 84
0,072
5
II
½ putaran
2
1’ 40” 34
0,072
6
III
½ putaran
2
1’ 33” 94
0,072

Pengukuran Tekanan
Tinggi tangki air ke dasar permukaan tanah : 3 m
No.
Pengukuran
Bukaan Kran
Tekanan Presure Gauge (Psi)
Perhitungan Teoritis Tekanan
1
I
Satu putaran
4
3,5
2
II
Satu putaran
4
3.8
3
I
½ putaran
2
2
4
II
½ putaran
2
2
*
c.      Pengukuran Sprinkle (satu putaran kran) ; t = 10 menit
Nomor Gelas
Hasil Tampungan (ml)
Harga Mutlak Deviasi (ml)
Nomor Gelas
Hasil Tampungan (ml)
Harga Mutlak Deviasi (ml)
1
6
0,61
23
0,5
6,11
2
1,5
5,11
24
7
0,39
3
17,5
10,89
25
9,5
2,89
4
1,5
5,11
26
5,5
1,11
5
6
0,61
27
6
0,61
6
6,5
0,11
28
4
2,61
7
2
4,61
29
5
1,61
8
18
11,39
30
8,5
1,89
9
7,5
0,89
31
9
2,39
10
8,5
1,89
32
6
0,61
11
6,5
0,11
33
5,5
1,11
12
10
3,39
34
6
0,61
13
6,5
0,11
35
5,5
1,11
14
2
4,61
36
4
2,61
15
7
0,39
37
0,5
6,11
16
3,5
3,11
38
1,5
5,11
17
6,5
0,11
39
1,5
5,11
18
6
0,61
40
5,5
1,11
19
0,5
6,11
41
9
2,39
20
19
12,39
42
2
4,61
21
7,5
0,89
43
11
4,39
22
17
10,39
44
11
4,39
∑ Hasil Tampungan = 291 ml                         rerata hasil tampungan 6,61 ml
Harga Mutlak Deviasi = 
∑ Harga Mutlak Deviasi = 142,32 ml              rerata Harga Mutlak Deviasi 3,23 ml






¼ nilai terendah tampungan = 0,5 ; 0,5; 0,5 ; 1,5 ; 1,5 ; 1,5 ; 1,5 ; 2 ; 2 ; 2 ; 3,5.
VI. PEMBAHASAN
Dari data yang diamati, dapat katakan bahwa keseragaman pada setiap baris atau pada setiap titik pengamatan curahan air dari sprinkler kurang merata. Terdapat wadah yang tidak terisi air sama sekali dan terdapat pula wadah yang banyak terisi air. Dengan tingkat rata-rata curahan air irigasi 6,61 ml. Namun, ketidakmerataan hanya berjumlah cukup banyak . Sehingga saat semua jumlah air dirata-rata, seperti pada hasil perhitungan koefisien keseragaman cristiansen, hasilnya 51%. Menurut literatur (Ary,WR.,2010) nilai koefisien keseragaman 100% didapat dari sprinkler yang menghasilkan semburan tumpang tindih, merupakan keseragaman mutlak dan apabila persentasenya lebih rendah menandakan kurang seragam, koefisien keseragaman 85% atau lebih menunjukkan keadaan semburannya baik.
Pada perhitungan Koefisien Distribusi Keseragaman nilainya rendah yaitu 0,23 %. Karena pada perhitungan ini, hanya mengambil data 25% terkecil. Nilai terkecil ini kebanyakan diperoleh dari wadah yang jaraknya jauh dari sprinkler dan di daerah pinggir. Selain itu hal ini juga dipengaruhi oleh semburan yang tumpang tindih yang menyebabkan daerah sedikit terbasahi saat curahan masih ada .
Jadi, sprinkler dengan radius 15 m memiliki nilai CU dan DU yang jauh berbeda. Karena nilai CU merupakan nilai rata-rata keseluruhan sedangkan nilai DK hanya diambil 25% atau seperempat data terkecil. Namun, jika melihat data yang ada keseragaman pada sprinkler berada pada daerah yang agak dekat dengan letak sprinkler itu sendiri.

VII.KESIMPULAN         
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa, sprinkler dengan radius 15m memiliki nilai CU dan DU yang jauh berbeda. Pada hasil perhitungan koefisien keseragaman cristiansen, hasilnya 51 % . Dan Pada perhitungan Koefisien Distribusi Keseragaman nilainya rendah yaitu 0,23 %. Karena nilai atau volume terkecil kebanyakan diperoleh dari wadah yang jaraknya jauh dari sprinkler dan di yang berada di daerah pinggir. Selain itu hal ini juga dipengaruhi oleh semburan yang tumpang tindih yang menyebabkan terdekat dengan sprinkler ikut terbasahi (terisi air).
      
Untuk mengevaluasi system irigasi sprinkler harus teliti dalam mengamati keseragaman curahan. Agar tanaman mendapatkan air secara merata.
Untuk praktikum, praktikum mungkin akan lebih lancar jika dimulai tanpa adanya keterlambatan dari praktikan maupun asisten serta persiapan alat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2012. Irigasi Tetes. http://mechanarticle.blogspot.com/2012/12/irigasi-tetes.htm, diakses pada 27 Desember 2012.

Ary,WR., 2010. Makalah Irigasi dan Bangunan Air : Irigasi dengan Sistem Sprinkler berdasarkan Koefisien Keseragaman. Fakultas Teknik,Universitas Katolik Parahyangan. Bandung.