Jumat, 15 Juni 2012

Persilangan Pada Jagung


A.     PENDAHULUAN

Salah satu upaya yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan hasil pertanian adalah dengan penggunaan bibit unggul. Sifat bibit unggul pada tanaman dapat timbul secara alami karena adanya seleksi alam dan dapat juga timbul karena adanya campur tangan manusia melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suaatu populasi untuk mendapatkan genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya akan dikembangkan dan diperbanyak sebagai benih atau bibit unggul. Namun demikian, kegiatan seleksi tersebut seringkali tidak dapat langsung diterapkan, karena sifat-sifat keunggulan yang dimaksud tidak seluruhnya terdapat pada satu genotipe saja, melainkan terpisah pada genotipe yang lainnya. Misalnya, suatu genotipe mempunyai daya hasil yang tinggi tapi rentan terhadap penyakit, sedangkan genotipe lainnya memiliki sifat-sifat lainnya (sebaliknya). Jika seleksi diterapkan secara langsung maka kedua sifat unggul tersebut akan selalu terpisah pada genotipe yang berbeda. Oleh sebab itu untuk mendapatkan genotipe yang baru yang memiliki kedua sifat unggul tersebut perlu dilakukan penggabungan melalui rekombinasi gen.
Persilangan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan rekombinasi gen. Secara teknis, persilangan dilakukan dengan cara memindahklan tepung sari kekepala putik pada tanaman yang diinginkan sebagai tetua, baik pada tanaman yang menyerbuk sendiri (self polination crop) maupun pada tanaman yang menmyerbuk silang (cross polination crop).
Keberhasilan persilangan sangat ditentukan oleh pemulia tanaman mengenai tehnik persilangan itu sendiri maupun pada pengetahuan akan bunga, misalnya:
ü  Stuktur bunga.
ü  Waktu berbunga.
ü  Saat bunga mekar.
ü  Kapan bunga betina siap menerima bunga jantan (tepung sari).
ü  Tipe penyerbukan.
B.      Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum pada acara ini adalah:
a. Mempelajari taknik persilangan pada tanamann menyerbuk sendiri dan tanaman menyerbuk silang.
b. Menhitung persentasi keberhasilan persilangan.

C.      TINJAUAN PUSTAKA

Reproduksi merupakan kemampuan mahluk hidup untuk memperbanyak diri. Reproduksi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu reproduksi seksual (reproduksi melalui peleburan gamet tetua) dan reproduksi aseksual (reproduksi tanpa peleburan gamet tetua). Penyerbukan adalah jatuhnya serbuk sari kekepala putik. Sedangkan pembuahan adalah bergabungnya gamet jantan dan gamet betina. (Anonim, …). Kriteria klasifikasi yang dipergunakan hanya berdasarkan tingkat penyerbkan sendiri dan penyerbukan silang. Polonasi sendiri sudah barang tentu hanya merupakan salah satu system perbanyakan tanaman dan hanya sebagai salah satu jalan dimana populasi dapat dikawinkan. Didalam group penyerbukan silang jumlah persilangan dari luar adalah sangat penting karena ia memepengaruhi dalam kontaminasi stok pemuliaan. Ada perbedaan yang besar antara jumlah persilangan dengan luar didalam species dari suatu kelompok. Jumlah persilangan dari varietas yang diberikan juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang berubah. (R.W. Allard, 1992)
Penyerbukan dapat dibedan atas dua cara yaitu:
1. Penyerbukan sendiri
Penyerbukan sendiri adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma pada bunga yang sama atau stigma dari bunga yang lain pada tanaman yang sama atau klon yang sama. Prinsipyang memungkinkan terjadinya penyerbukan penyerbukan sendiri adalah kleistogami yaitu pada waktu terjadi penyerbukan bunga yang belum mekar atau tidak terbuka, misalnya pada kedelai, padi, tembakau dan lain-lain. Jumlah penyerbukan silang yang munkin terjadi pada 5tanaman-tanaman tersebut berkisar antara 0% sampai 4 atau 5%.
Terjadinya penyerbukan sendiri disababkan oleh :
a. Bunga tidak membuka.
b. Serbuk sari sudah matang dan jatuh sebelum bunga terbuka.
c. Stigma dan stamen tersembunyi oleh organ bung yang sudah terbuka.
d. Stigma memanjang melalui tabung staminal segera sesudah anter membuka.
e. Bunga matang serempak.
Penyerbukan diawali oleh pembungaan proses ini disebut anthesis.(Anonim, ...)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan persilangan buatan, yaitu:
1. Periode bunga tertua jantan dan betina
Pengaturan waktu tanam yang perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga saat keluarnya bunga hampir serentak antara kedua tetua yang disilangkan.

2. Waktu emaskulasi dan persilangan. (M. Nasir, 2001)
Metode pemuliaan yang terbukti telah berhasil terhadap species perbanyakan sendiri berada pada kategori sebagai berikut :
1. Seleksi galur murni
Seleksi ini digunakan untk memilih varietas baru dari varietas yang dahulu telah melewati petani dari generasi ke generasi. Sebagian besar tanaman diseleksi dari varietas tersebut dan dapat diharapkan bersifat homozigot dan inilah titik awal dari perkembangan pemuliaan.
2. Seleksi missal
Seleksi ini berbeda dengan seleksi galur murni dalanjumlah tanaman dimana tidak hanya sebatang yang diseleksi untuk mendapatkan varietas baru. Varietas yang dikembangkan dengan cara ini mencakup beberapa genotipe yang lebih banyak dibandingkan populasi induknya.
3. Metode hibridisasi, dengan pemisahan secara :
3a. Metode catatan terhadap galur asal usul
Metode silsilah digunakan secara luas oleh pemuliaan tanaman saat ini. Ia menurunkan namanya dari catatan yang disimpan oleh pendahulunya. Seleksi ini keungulanya didasarkan pada keadaan fisik dan sifat yang lain dari individu.
3.b. Metode curah
Metode ini digunakan jika seleksi buatan dilakukan selama perbanyakan massal, pemilihan iini biasanya didasarkan atas tabiat dari individu tanaman.
3.c. Metode persilangan kembali
Dalam metode ini diulang manjadi induk yang dikehendaki selama seleksi di kerjakan terhadap sifat karakteristik yang sedangdipindahkan dari dari satu donor induknya.(R.W. Allard, 1992)





2. Penyerbukan silang
Penyerbukan silang adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma bunga yang berbeda. Contoh dari persilangan ini adalah ubi kayu, alfalfa, jagung, padi liar ,dan lain-lain.
Terjadinya penyerbukan silang disebabkan oleh:
a. Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri.
b. Perbedaan periode matang sebuk sari dan kepala putik.
c. Sterilitas dan inkompatibilitas
d. Adanya bunga monocious dan diocious.
Jagung adalah tipe monocious, staminate terdapat diujung batang dan pistilate pada batang. Serbuk sari mudah diterbangkan angin sehingga penyerbukan lebih dominan meskipun penyerbukan sendiri bisa terjadi 5% atau lebih. (Anonim,...)
Ada perbedaan besar dalam hal penyerbukan pengontrolan polinasi silang dan juga kemudahan pengontrolan polinasi silang oleh pemulia tanaman. Beberapa species mempunyai sifat tidak serasi dan dapat dikawinkan tanpa adanya kesulitan terhadap sifat yang tidak cocok.
Metode penting yang sesuai dengan penyerbukan silang antara lain:
1.      Seleksi missal
Seleksi ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macam-macamvarietas yang disilangkan.Dalam seleksi ini jumlah yang dipilih banyak untuk memperbanyak generasi berikutnya .
2. Pemuliaan persilangan kembali
Metode ini digunakan dengan species persilangan luar yang nilainya sama baiknya dengan species yang berpolinasi sendiri.
3. Hibridisasi dari galur yang dikawinkan
Varietas hibrida tergantung dari keunggulan keragamanyang mencirikan hibrid F1 diantara genotipe tertentu.Tipe genotipe yantg disilangkan melahirkan galur-galur, klon, strain, dan varietas.
4. Seleksi berulang
Seleksi yang diulang, genotip[e yang diinginkan dipilih dari genotipe ini atau turunan sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi yang menghasilkan populasi untuk disilangkan.
5. Pengembangan varietas buatan. (R. W. Allard, 1992).
D. BAHAN DAN METODE.
·         BAHAN DAN ALAT
Adapun bahan yang kami gunakan pada acara praktikum ini adalah:
ü  Tanaman padi
ü  Tanaman jagung
ü  Tanaman tomat
Adapun alat yang kami gunakan selama praktikum ini adalah:
a.Pinset
b. Gunting
c. Kaca pembesar
d. Kertas label
e. Benang
f. Spidol permanen
g. Kantong kertas 40 x 50
h. Klip
i. Staples

·         METODE PELAKSANAAN

ü  PELAKSANAAN PERSILANGAN JAGUNG
Setelah berumur 5 mst,bunga jantan mulai keluar, penutupan bunga yang dilakukan setiap hari.
1. Memilih bunga betina (tongkol) yang akan diserbuki sebelum rambut pada ujung tongkol keluar, dibungkus dengan kantong kertas yang sudah disiapkan.
2. Memilih tanaman yang akan dipakai sebagai pejantan (sumber serbuk sari) dengan tanda-tanda bunga jantan sudah mekar, kemudian bungkus bunga jantan tersebut sampai rapatdengan kantong kertas, jangan sampai serbuk sari jatuh beterbangan
3. Setelah satu atau dua hari bunga jantan tersebut telah siap untuk disilangkan. Untuk memastikan dipeolehnya tepung sari yang cukup, maka tepuklah bunga jantan yang terbungkus tersebut.
4. Apabila bunga betina yang dipilih telah siap diserbuki, yaitu pada tongkolyang telah keluar rambut diujungnya, maka persilangan telah siap dilaksanakan.
5. Persilangan dilakukan dengan cara memindahkanbunga jantan (serbuk sari) ke bunga betina(putik) dengan meletakkan serbuk sari pada rambut tongkol.
6. Menutup kembali tongkol yang telah disebuki. Tulis dan gantungkan label persilangan pada tongkol tersebut.
Pengamatan dilakukan pada saat panen, pada kedelai ditandai dengan perubahan warna polong dari hijau menjadi kecoklatan, peubah yang diamati sebagai berikut:
1. Persentase keberhasilan persilangan dihitung dengan: jumlah bunga yang berhasil disilangkan dibagi jumlah polong bunga yang disilangkan dikali 100%.
2. Jumlah biji per polong
Pengamatan tanaman jagung dilakukan saat panen meliputi:
1. Jumlah tongkol yang jadi (buah)
2. Panjang tongkol (cm), diukur setelah tongkol dikupas.
3. Diameter tongkol (cm), diukur pada bagian tengah tongkol.
4. Jumlah biji per tongkol

E.HASIL DAN PEMBAHASAN
·         HASIL PERCOBAAN
A.      Tingkat Keberhasilan Persilangan Tanaman Jagung
No Tetua Persilangan Jml bunga yg disilangkan Jml persilangan yg menghasilakan polong Persentase keberhasilan
1 Bisi2xpioner 5 4 80%
Pioner x bisi 2 4 2 50%
·         Pembahasan
1.      Persilangan pada jagung
Pada tanaman jagung keberhasilan persilangan keseluruhan didapatkan sebesar 66.67% dari 9 kali persilangan yang dilakukan. Yaitu bpada ntanaman jagung bisi 2 yang disilangkan dengan pioner menghasilkan sekitar 80 % tingkat keberhasilan dari 5 kali persilangan. Dan pada tanaman pioner yang disilangkan dengan bisi 2 menghasilkan sekitar 66.67% dari 6 kali persilangan.

Hasil persilangan jagung terlihat jumlah biji yang dihasilkan tidak rata atau tongkol yang bernas sedikit, hal ini menunjukkan serbuk sari pejantannya sedikit yang berhasil membuahi putik. Hal ini disebabkan oleh kesalahan pemulia dan faktor lingkungan yang mempengaruhi. Dan dari yang praktikan ketahui tentang persilangan jagung dengan varietas berbeda maka biasanya tongkolnya tidak akan berbentuk atau berbiji sempurna Mengapa tongkol yang disilangkan tidak berbiji sempurna dan mengapa tongkol tumbuh tidak besar dan panjang? praktikan kira ada beberapa hal yang berpengaruh terhadap perbedaan tersebut, antara lain:
a. Akibat dari persilangan, artinya akibat adanya persilangan maka tongkol tidak dapat menghasilkan biji dengan sempurna. Hal ini terjadi karena pada saat penyerbukan belum semua rambut jagung (stigma) keluar sehingga sewaktu penyerbukan ada stigma yang tidak kena tepung sari.
b. Pengaruh organisme hidup, hal ini bisa terjadi karena pada saat penyerbukan banyak sekali semut yang bersarang pada tongkol dan anter yang dibngkus oleh penutup.
c. Pengaruh iklin , sebab pada saat penyerbukan, kondisi cuaca tidak baik (ada hujan dan angin) sehingga ada kemungkinan tepung sari jatuh dan tidak sampai ke ovule karena tebawa air atau angin.
d. Kurangnya unsur hara, hal ini terjadi sebab kondisi yang kurang baik, mungkin tanaman ini kekurangan unsur Phosfor untuk pengisian biji jagung.
F. KESIMPULAN
Ada beberapa hal yang perlu kami simpulkan disini antara lain:
1. Setiap tumbuhan memiliki tehnik persilangan yang tidak sama.
2. Tehnik persilangan menyerbuk sendiri dilakukan pada tanaman yang dapat melakukan penyerbukan dalam satu bunga.
3. Tehnik persilangan menyerbuk sendiri dilakukan pada tanaman yang dapat melakukan penyerbukan pada bunga lain.
4. Banyak hal yang mempengaruhi pada tanaman menyerbuk sendiri antara lain kondisi lingkungan, stuktur bunga, jenis varietas dan ketelitian si pemulia.
5. Demikian pula pada tanaman yang menyerbuk silang, ada beberapa faktor yang juga berpengaruh pada persilangannya, antara lain pengaruh organisme hidup, iklim dan keterampilan pemulia.
6. Persilangan pada tanaman menyerbuk silang lebih mudah dilakukan dari tanaman yang menyerbuk sendiri.
7. Tingkat keberhasilan pada tanaman yang menyerbuk silang ternyata lebih besar dari tanaman yang menyerbuk sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

·         Anonim, 2011. Penuntun Praktikum Pemuliaan Tanaman. Prodi Agroekoteknologi .FAPERTA UNIB.
·         Allard, R. W, 1992. Pemuliaan Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta
·         Nasir. M, 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Depatemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
·         Syamsuri, Istamar, 2000. Biologi 2000. Erlangga. Jakarta.

Pemetaan Sederhana


A.     PENDAHULUAN

Di alam jarang sekali ditemukan kehidupan yang secara individu terisolasi, biasanya suatu kehidupan lebih suka mengelompok atau membentuk koloni. Kumpulan berbagai jenis organisme disebut komunitas biotik yang terdiri atas komunitas tumbuhan (vegetasi), komunitas hewan dan komunitas jasad renik. Ketiga macam komunitas itu berhubungan erat dan saling bergantung. Ilmu untuk menelaah komunitas (masyarakat) ini disebut sinekologi. Di dalam komunitas percampuran jenis-jenis tidak demikian saja terjadi, melainkan setiap spesies menempati ruang tertentu sebagai kelompok yang saling mengatur di antara mereka. Kelompok ini disebut populasi sehingga populasi merupakan kumpulan individu - individu dari satu macam spesies. (Heddy, 1994)
Karena ada hubungan yang khas antara lingkungan dan organisme, maka komunitas di suatu lingkungan bersifat spesifik. Dengan demikian pola vegetasi di permukaan bumi menunjukkan pola diskontinyu. Seringkali suatu komunitas bergabung atau tumpang tindih dengan komunitas lain. Karena tanggapan setiap spesies terhadap kondisi fisik, kimia maupun biotik di suatu habitat berlainan maka perubahan di suatu habitat cenderung mengakibatkan perubahan komposisi komunitas. Untuk itu perlu dilakukan suatu analisis yang dapat menentukan bagaimana penyebaran suatu jenis vegetasi agar dapat dipelajari dengan mudah (Sugianto, 1994).
Dalam mempelajari suatu komunitas tumbuhan sering diperlukan suatu gambaran dari suatu wilayah dimana pengamatan itu dilakukan, untuk tujuan tersebut diperlukan keterampilan dalam membuat peta.
Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi (terminologi geodesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun raster (Anonim, 2010).
Berikut Prinsip Pemetaan dengan pengukuran secara sederhana seperti : kerja Lapangan, unsur yang Perlu di ukur dalam pembuatan peta sederhana adalah Pengukuran Jarak, Pengukuran Sudut Arah, Pengelolaan Data dan Penyajian Data. Selain dengan pengukuran, peta dapat di buat dengan menggunakan yang sudah ada. Berikut ini langkah Umum dalam membuat peta dari peta yang sudah ada ialah: menentukan daerah yang akan di petakan, memilih peta dasar yang tepat, membuat peta dasar baru, yaitu peta yang belum di beri simbol, mencari dan mengklasifikasikan data sesuai kebutuhan, membuat simbol-simbol yang mewakili data, menempatkan simbol pada peta dasar, melengkapi peta dengan komponen yang lain (Hartana, 2009).
Keterampilan dalam pemetaan ini sangat mambantu dalam mempelajari penyebaran vegetasi atau jenis tumbuhan tertentu di suatu area atau wilayah. Berbagai metode dalam pemetaan telah banyak dikembangkan, dan khusus untuk praktikum ini akan dipelajari metode-metode yang sangat sederhana.
B.      Tujuan
ü  Tujuan Praktikum yaitu untuk mempelajari serta menggambarkan daerah lokasi praktikum melalui pemetaan sederhana pada lokasi sampel tertentu serta memetakan vegetasi yang terdapat pada suatu lokasi tersebut

C.      Bahan dan Alat 
ü  Alat yang digunakan yaitu, kompas, meteran, tali, busur derajat, kertas grafik dan alat tulis.

D.     Tahapan Praktikum
Pengamatan diawali dengan ditentukan titik konstan A dan B didalam areal yang akan di petakan, kemudian ditentukan titik-titik batas luar areal terutama pada belokan atau tikungan, kemudian di ukur jarak dan azimut dari titik A dan B ke titik- titik batas luar areal tersebut. Dan berdasarkan jarak dan azimut tersebut buat peta pada kertas grafik dengan menggunakan skala tertentu.
 
E.      HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemetaan ini digunakan untuk mengetahui letak suatu jenis tumbuhan dan pola penyebarannya dalam suatu wilayah (komunitas). Untuk melakukan analisis vegetasi ada beberapa metode yang digunakan, selain ada metode yang digunakan untuk menganalisis kualitatif dari vegetasi dan ada pula anilisis kuantitatif terhadap vegetasi. Analisis kualitatif meliputi jumlah, kerapatan, luas penutupan dan lain sebagainya. Sedangkan analisisis yang bersifat kualitatif biasanya digunakan untuk mengetahui penyebaran jenis tumbuhan tertentu di dalam suatu komunitas. Untuk melakukan analisis kualitatif ini dapat digunakan cara pemetaan, yaitu pemetaan dengan mengukur jarak dan arah dan pemetaan dengan menggunakan 2 titik konstan.
Pemetaan dilakukan untuk menentukan letak suatu jenis tumbuhan di suatu area dan mempelajari pola penyebaran vegetasi atau tumbuhan di wilayah tersebut misalnya hutan tropis. Ada 3 macam pola penyebaran vegetasi dalam komunitas yaitu :
1.Pola penyebaran secara acak (random distribution) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu menyebar pada beberapa tempat dan mengelompok pada tempat tertentu. Pada tumbuhan pola penyebaran acak ini dapat terjadi karena penghamburan benih oleh angin.
2.Pola penyebaran Seragam (uniform distribution) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu terdapat pada tempat tempat tertentu dalam komunitasnya dengan jarak yang relatif sama. Penyebaran seperti ini dapat terjadi karena adanya persaingan yang keras antar individu (jenis tumbuhan) untuk memperoleh komponen pemenuh kebutuhan tumbuhan seperti cahaya, nutrisi, air dan sebagainya, serta adanya antagonisme positif yang mendorong pembagian ruang yang sama.
3.Pola penyebaran kelompok (clumped dispertion) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu selalu ada dalam kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat terpisah atau sendiri. Pengelompokan ini terjadi karena pola reproduksi vegetatif, susunan benih lokal dan fenimena lain dimana benihbanih cenderung tersusun mengelompok.
Metode pemetaan dengan pengukuran jarak dan arah dilakukan dengan menentukan titik awal pada daerah yang akan dibuat petanya, sehingga susunan titik-titik tersebut menggambarkan bentuk penyebaran tumbuhan di daerah tersebut. Tiap titik merupakan letak dari suatu jenis tumbuhan, kemudian diukur jarak dari satu titik ke tititk yang berikutnya yang berdekatan hingga bertemu kembali ke titik awal.
Selain dilakukan pengukuran jarak juga dilakukan penentuan kedudukan atau arah antar titik-titik tersebut, sehingga kita dapat menentukan tumbuhan mana saja yang merupakan sampel dari analisis yang akan dilakukan yang biasanya berada di suatu hutan yang luas dan pengamatan dilakukan secara berkala. Dengan titik-titik tersebut kita dapat menemukan tumbuhan sama yang mana yang merupakan sampel analisis.
Dari hasil pengukuran pada saat pengamatan, diperoleh data seperti pada data pengamatan yang berupa peta titik-titik dengan kedudukan yang berbeda-beda.
Ini menunjukkan bahwa penyebaran jenis tumbuhan pada komunitas tersebut adalah tersebar secara acak (random distribution) karena jarak antar tumbuhan satu dengan yang lainnya adalah berbeda-beda dengan kedudukan yang saling berjauhan secara acak. Penyebaran secara acak ini dapat terjadi karena pola penyebaran benih tumbuhan yang mungkin dibantu oleh angin. Tetapi sebenarnya untuk menentukan pola penyebaran suatu jenis tumbuhan diperlukan luasan area sampel yang lebih luas misalnya hutan, karena dengan luas sampel yang kita gunakan tidak dapat kita simpulkan pola penyebaran yang sebenarnya. 
Metode pemetaan yang kedua yaitu dengan menggunakan dua titik konstan. Ini dilakukan dengan menentukan dua titik tertentu dimana dari kedua titik tersebut dapat terlihat seluruh daerah yang hendak dipetakan, selanjutnya dari kedua titik tersebut diambil titik-titik yang merupakan letak dari masing-masing tumbuhan yang ada pada wilayah tersebut. Kemudian dilakukan pengukuran jarak dan arah masing-masing titik terhadap titik konstan.

Table Hasil Pengamatan Pengukuran Pemetaan Sederhana :

Titik Batas Luar Areal
Kedudukan Terhadap Titik Konstan
P
Q
Azimut
Jarak (m)
Azimut
Jarak (m)
A
450
7,6
3450
8,1
B
970
10,7
200
6,8
C
1180
33,1
1120
23,8,
D
1400
25,08
1490
17,3
E
1800
30,26
2060
29
F
2210
16,09
2540
23
G
3220
10,4
3000
20,8

Ket : P – Q = 1000                       P – Q dari arah utara dengan jarak 9,4 m
         Q – P = 2800

Dari Hasil diatas dapat diketahui bahwa perbandingan jarak dan azimuth ada yang tidak ditemukannya titik potong, pada titik b, c dan d. karena perbedaan dari titik tersebut sangat jauh titik potong sehingga antara titik P dan Q tidak bersatu. Untuk skala yang digunakan menggunakan skla 1 : 200.
Dari data hasil pengamatan tentang pemetaan berdasarkan dua titik konstan, dimana dua titik konstan tersebut (P - Q) berjarak 9 meter diperoleh tiga arah tembak, yaitu arah 1, dan arah 2. Masing-masing arah memiliki jarak berbeda - beda terhadap dua titik konstan.
Jarak arah 1 terhadap titik A sebesar 7,6 meter, terhadap titik B sebesar 10,7 meter. Jarak arah 2 terhadap titik A sebesar 8,1 meter, terhadap titik B sebesar 6,8 meter. Arah 1 terhadap titik A sebesar 450°. Arah 2 terhadap titik A sebesar 345°. Arah 1 terhadap titik B sebesar 97°. Arah  2 terhadap titik B sebesar 20°, dab seterusnya.
Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh dapat diketahui bahwa penyebaran tumbuhan adalah memencar karena jarak antar tumbuhan relative tidak sama. Dengan metode pemetaan dua titik konstan ini kita lebih mudah untuk melihat posisi dan pola penyebaran sampel-sampel tumbuhan dari arah tepi atau horisontal area. Dari data kedua cara pemetaan dapat diketahui bahwa penyebaran vegetasi pada lahan praktikum terjadi secara acak.
Penyebaran secara seragam ditunjukkan oleh jarak yang relative sama dari satu arah terhadap arah yang lain. Karena terjadi pembagian ruang yang sama akibat adanya suatu persaingan. Penyebaran vegetasi pada daerah tersebut (lahan praktikum) juga tidak dikatakan penyebaran kelompok karena jenis penyebarannya hanya terjadi akibat reproduksi vegetative dan individunya selalu ditemukan secara berkelompok, sedangkan pada hasil pengamatan vegetasi jenis tumbuhan ditemukan sendiri - sendiri secara terpisah.
Didalam praktikum ini banyak kendala - kendala yang ditemukan dalam melakukan percobaan, diantaranya : tidak kepastian dalam membidik titik yang akan ditembak, tempatnya yang sangat luas, dalam pemakaian kompas masih belum mengerti. Sehingga data yang di dapat sangat tidak akurat. Dalam hal ini perlu hati - hati dalam memakai suatu alat yang digunakan untuk melakukan percobaan sesuai dengan metode kerja yang tepat.
Tumbuhan yang ditemukan seperti, putri malu, rumput, pohon bambu. Tumbuhan tersebut banyak mendominasi ditempat tersebut. Banyak rumput yang membuat agak sulit dalam menentukan titik yang akan dijadikan patokan untuk membidik.

F.       KESIMPULAN
Pemetaan dengan pengukuran jarak dan arah dilakukan dengan menentukan titik awal pada daerah yang akan dibuat petanya, sehingga susunan titik-titik tersebut menggambarkan bentuk penyebaran tumbuhan di daerah tersebut. Tiap titik merupakan letak dari suatu jenis tumbuhan, kemudian diukur jarak dari satu titik ke tititk yang berikutnya yang berdekatan hingga bertemu kembali ke titik awal.
Metode pemetaan berdasarkan dua titik konstan dilakukan dengan menentukan dua titik tertentu dimana dari kedua titik tersebut dapat terlihat seluruh daerah yang hendak dipetakan, selanjutnya dari kedua titik tersebut diambil titik-titik yang merupakan letak dari masing-masing pada arah tembak tersebut. Kemudian dilakukan pengukuran jarak dan arah masing-masing titik terhadap titik konstan. Dari beberapa hasil arah tembak yang didapatkan, ada beberapa tidak menemukan titik temunya.

DAFTAR PUSTAKA

·         Anonim 1. 2010. Survei, Pemetaan dan Sistem Informasi Geografis. Dalam awiryawan@ditjenphka.go.id. (diakses, 30 November 2010).
·         Heddy, Suasono dan Metikurniati, 1994. Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi. Malang : Raja Grafindo Persada.
·         Isdi Hartana Hadi. 2009. Peta. http://hadi.blogspot.com. [diakses tanggal 15 Februari 2012].
·         Sugianto, A. 1994. Ekologi Kwantitatif, Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Surabaya: Usaha Nasional