- PENDAHULUAN
Perbanyakan tanaman
merupakan salah satu aspek penting dalam budidaya tanaman karen hal tersebut
terkait dengan penyediaan bibit tanaman bermutu. Tanamn dapat diperbanyak
dengan cara generatif dan vegetatif.
Cara generatif dengan
memanfaatkan biji yang merupakan hasil dari proses perkawinan induk jantan dan
betina, yang memiliki kelemahan kemungkinan kemunduran mutu genetik akibat
pencampuran dua induk. Kelemahan ini dapat ditanggulangi oleh perbanyakan
vegetatif yang menghasilkan turunan sama dengan induknya. Keunggulan sifat pada
tanaman induk akan diturunkan kepada turunannya.
Terdapat beberapa cara
perbanyakan vegetatif, yaitu : mencangkok, merunduk, setek, menyambung,
okulasi, dan pemisahan anakan. Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangan.
Suatu cara perbanyakan vegetatif sesuai untuk satu jenis tanaman dan tidak
berhasil ketika diterapkan pada tanaman lain.
Keberhasilan perbanyakan vegetatif
ditentukan oleh jenis dan karakteristik tanaman, media, kondisi lingkungan,
keterampilan manusia, dan lain sebagainya.
- TUJUAN
·
Mengetahui cara perbanyakan vegetatif
·
Mengetahiu factor factor yang mempengaruhinya
- DASAR TEORI
Reproduksi vegetatif
adalah cara reproduksi makhluk hidup secara aseksual (tanpa adanya
peleburan sel kelamin jantan dan
betina). Reproduksi vegetatif bisa terjadi secara alami maupun buatan. Perkembangbiakan dengan
membelah diri biasanya terjadi pada hewan tingkat rendah,bersel satu/protoza,
misalnya: amuba dan paramaecium. Pembelahan diri biner jika terjadi pembelahan
individu menjadi 2 individu baru, dan disebut pembelahan diri multipel (perkembangbiakan
dengan spora) jika pembelahan individu menjadi banyak individu, misalnya:
plasmanium
Terdapat bermacam-macam teknik yang
acap kali khas untuk jenis tumbuhan yang berbeda. Beberapa teknik hanya
memanfaatkan organ reproduksi khusus yang diproduksi tanaman tertentu,
sementara teknik lainnya sengaja merangsang pertumbuhan baru pada bagian
tumbuhan tertentu. Berikut ini dipaparkan secara singkat berbagai teknik yang
dipakai orang.
Perbanyakan secara vegetatif
dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk,
daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di
bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki
akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan
dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.
Keunggulan perbanyakan ini adalah
menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya.
Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat
berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon
induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain,
tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang
digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal
sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak
dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika
dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.
·
Penyetekan
Perkembangbiakan
dengan setek dilakukan dengan cara menanam bagian tertentu tumbuhan tanpa
menunggu tumbuhnya akar baru lebih dahulu. Dibandingkan cara perkembangbiakan
vegetatif buatan lainnya, cara setek adalah cara termudah. Pemebiakan tanaman
dengan setek ada yang menggunakan batang (kayu) disebut setek batang,
dan ada juga yang menggunakan daun disebut setek daun.
Sansevieria atau lidah mertua adalah
marga tanaman
hias yang cukup populer sebagai penghias bagian dalam rumah karena tanaman
ini dapat tumbuh dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari. Sansevieria
memiliki daun keras, sukulen, tegak, dengan ujung
meruncing.
Sanseviera dikenal dengan sebutan tanaman
lidah mertua karena bentuknya yang tajam. Sanseviera tak hanya sebagai
tanaman hias, tapi juga memiliki manfaat untuk menyuburkan rambut, mengobati
diabetes, wasir,
hingga kanker
ganas. Sementara seratnya digunakan sebagai bahan pakaian. Di Jepang, Sanseviera
digunakan untuk menghilangkan bau perabotan rumah di ruangan.
Dibanding tumbuhan lain, Sanseviera
memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun, seperti karbondioksida,
benzene, formaldehyde, dan trichloroethylene.
Sansevieria
dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan
ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan
panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti
mata pedang, dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai
tanaman pedang-pedangan.
Tumbuhan ini berdaun tebal dan
memiliki kandungan air sukulen, sehingga tahan
kekeringan. Namun dalam kondisi lembap atau basah, sansiviera bisa
tumbuh subur.
Warna daun Sansevieria
beragam, mulai hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, perak, dan warna kombinasi
putih kuning atau hijau kuning. Motif alur
atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi, ada yang
mengikuti arah serat daun, tidak beraturan, dan ada juga yang zig-zag. Keistimewaan
lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi
terhadap lingkungan. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa
tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut. Ditinjau berdasarkan
jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria
keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil
persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid.
Dari bentuk hibrid inilah
sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya
atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. Mutasi
sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Liliidae
Ordo: Liliales
Famili: Agavaceae
Genus: Sansevieria
Spesies: Sansevieria trifasciata Prain.
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Liliidae
Ordo: Liliales
Famili: Agavaceae
Genus: Sansevieria
Spesies: Sansevieria trifasciata Prain.
- BAHAN DAN ALAT
- Pisau / cutter
- Media tanah dan bahan organic
- Tanaman lidah mertua
- Fungisida
- Plastic transparan
- Hormone tumbuh : IBA,GA3 dan hormax
- Nampan plastic tinggi 20 cm
- Bambu tinggi 30 cm
- CARA KERJA
![]() |
|
![]() |
![]() |
- HASIL DAN PEMBAHASAN
·
Daun Sansevieria
atau lidah mertua


Gambar : hormax, tanpa perlakuan,
GA3 dan IBA
|
Perlakuan
|
Jumlah
akar
|
|
|
|
Tanaman
1
|
Tanaman
2
|
|
hormax
|
27
|
33
|
|
IBA
|
17
|
30
|
|
GA3
|
1
|
mati
|
|
Tanpa
perlakuan
|
17
|
25
|
Dari hasil
praktikum yang telah kami lakukan, telah didapat data bahwa daun sansiviera
pada perlakuan hormax menghasilkan jumlah akar yang paling banyak yakni pada
tanaman 1 = 27 dan pada tanaman 2 = 33 . ini membuktikan hormon hormax yang telah direndam memberikan pengaruh bagi
akar yang tumbuh pada tanaman ini. Adapun manfaat hormax adalah :
·
Mengandung
hormon / ZPT organik terlengkap
·
Merangsang
percepatan keluarnya akar, panjang akar, perbanyak serabut akar dan mata akar
·
Merangsang
proses penyembuhan dari luka petik atau luka gigitan hama penyakit
Sedangkan pada
tanaman yang telah direndamoleh hormaon IBA , menghasilkan data pada tanaman 1
= 17 dan tanaman 2 = 30, hal ini membuktikan hormon IBA merangsang pertumbuhan
akar pada tiap tiap tanaman sansiviera ini. Secara
alami tanaman menghasilakn hormon tumbuh sendiri, yaitu auksin. Namun kadang-kadang
jumlahnya tidak mencukupi untuk membantu pembentukan akar. Oleh karena itu,
perlu tambahan auksin dari luar untuk memacunya. Hormon auksin yang digunakan
dapat berupa IBA .
Selain dari pada menambahkan
dengan hormon seperti hormax,IBA dan GA3,pada praktikum ini kami melakukan
pernelitian dengantanpa perlakuanapapun pada tanamanini. Ternyata mengahasilkan
data yangbaik bagi pertumbuhan akarnya, data tersebut adalah tanaman 1=17 dan
tanaman 2 = 25. Hal ini menunjukan hormon yang berada pada tanaman ini
sepertiauksin, dapat memproses adanya akar pada tanaman dengan tanpa perlakuan.
Ini disebabkan adanya faktor intern yang berperan penting pada pertumbuhan akar
tersebut, faktor internt itu adalah ZPT
(dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
·
Faktor
yang mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Alami
1.
Faktor
Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi
rendah suhu menjadi salah satu faktor
yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang
baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad
selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat
mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti
2.
Faktor
Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar
air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan.
Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat
mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak
pada pembentukan sel yang lebih cepat.
3.
Faktor
Cahaya Matahari
Sinar
matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman
untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan
cahaya matahari, maka tanaman
itu bisa tampak pucat dan warna tanaman
itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat
menghambat proses pertumbuhan.
4.
Faktor
Hormon
Hormon
pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan
pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon
giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk
menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi
matang.
(Rochiman.1973)
Faktor yang
mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Buatan
Faktor Intern :
- dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
- ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
Faktor Ekstern:
- suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
- kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
- cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang tidak banyak, maka perlu diberi naungan)
- jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)
- daun sri rejeki
Karakter
atau ciri pokok sebagai pedoman bahwa tumbuhan berkembang biak secara Aseksual
Vegetatif yaitu
- hampir dipastikan keturunan yang terbentuk 100 % sama dengan induknya
- tidak memerlukan individu lain untuk dilibatkan dalam reproduksi
- tidak melibatkan sel kelamin untuk menurunkan keturunan tetapi menggunakan sel tubuh ( sel somatik )
- reproduksi ini dipastikan melepaskan bagian tubuhnya yang mempunyai kemampuan totipotensi untuk membentuk individu baru , individu baru dibentuk dari bagian tubuh induk yang dilepaskan sehingga terbentuk individu yang sama
- bisa melepaskan bagian tubuhnya secara alami , bisa juga secara buatan dibantu organisme lain misalnya manusia.
Pada perbanyakan sri rejeki metode perbanyakan
yang digunakan ialah metode stek batang, perlakukan yang diberiakan ialah
merendam batang pada larutan gula dengan kosentrasi 50 mg/l air dan pendaman
pada air biasa. Dari hasil pengamatan dapat dilihat,bahwa tanaman dengan
perlakuan laruat gula, Pertumbuhan
akarnya lebih cepat di bandingkan dengan tanpa perlakuan. Menurut (Frank
Salisbury.1995) menyatakan jika larutan disekitar disekitar osmometer wadah
penampungan memiliki konsentrasi linarut disekitar linarut lebih tinggi,akan
terjadi aliran keluar dari osmometer. Jadi terjadi pengangkutan dari osmoter
satu ke osmoter yang lainnya. Pemberian larutan glukosa, memungkinkan adanya
membrane yang menimbulkan gardien tekanan akibat adanya gradient osmotik, ada
lintasan tabung bertahan rendah antara dua osmometer. Difusi air keluar dari
sel floem dan akibatnya penurunan turgor floem.Membuat gradien tekanan dari
sumber wadah penampung lebih tajam, sehingga aliran membesar. Menurunnya turgor
dalam sel floem pada sumber memacu pemuatan floem yang lebih cepa, dan hal itu
akan menaikan laju pengangkutan.
(Anonim.1992)
Cara
perbanyakan dengan metode stek juga sering mengalami kegagalan, hal ini
kemungkinan disebabkan karena batang stek yang masih muda, temperatur yang
terlalu tinggi, kurangnya ketersediaan air bagi batang yang telah distek. Menurut
Redaksi (2007),Pada dasarnya cara
perbanyakam stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman
yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan
adanya sifat plagiotrop.
Plagiotrop ialah rantingranting yang tumbuh dari batang orthotrop, yang
jumlahnya banyak sekali. Ranting-ranting ini pendek, agak kecil dan tak melekat
pada tajar sebab masingmasing, bukunya tak berakar lekat. Pada setiap buku
tumbuh sehelai daun yang berhadaphadapan, dan disinilah akan tumbuh malai
bunga. Cabang plagiotrop ini tumbuhnya selalu ke samping (lateral), dan pada cabang
plagiotrop ini masih bisa tumbuh ranting-ranting lagi. Inilah bagian-bagian
yang selalu mengeluarkan malai bunga ataubuah,maka ia juga disebut
cabang-cabang buah. ( tanaman
yang masih bertahan. Kondisi batang pada saat pengambilan berada dalam keadaan
muda dengan warna batang setengah hijau atau setengah tua dengan warna kulit
batang biasanya coklat muda. Pada saat ini kandungan karbohidrat dan auxin
(hormon) pada batang cukup memadai untuk menunjang terjadinya perakaran setek.
Pada batang yang masih muda, kandungan karbohidrat rendah tetapi hormonnya
cukup tinggi. Pada kasus ini hasil setekan tumbuh tunas terlebih dahulu.
Padahal seharusnya setek yang baik harus tumbuh akar dulu. Oleh karena itu,
pada setek yang batangnya muda memang akan sering terjadi kegagalan. Selain itu
kegagalan dalam stek dapat terjadi karena gunting stek tidak tajam sehingga
batang yang akan distek memar, Hal ini mengundang bibit penyakit masuk ke
bagian yang memar, sehingga bisa membusukkan pangkal setek serta kondisi lingkungan
dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber, diantaranya adalah:
a.
Status air.
Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam kondisi turgid.
b.
Temperatur.
Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C hingga 27°C.
c.
Cahaya. Durasi
dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tamnaman sumber tergantung pada jenis
tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan pada kondisi cahaya
yang tepat.
- KESIMPULAN
Kesimpulan dari paparan yang telah
saya bahas adalah :
- Perbanyakan vegetatif pada tanaman sansiviera menggunakan cara stek .
- Faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman ini
·
Faktor Intern :
ü
dormansi
bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
ü
ZPT
(dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
·
Faktor Ekstern:
ü
suhu
(bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
ü
kelembaban
(pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
ü
cahaya
(pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang tidak banyak, maka
perlu diberi naungan)
ü
jamur
dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan tanam
yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga
menyebabkan kebusukan)
- DAFTAR PUSTAKA
- http://ipasd.engviet.com/2011/04/03/perkembangbiakan-secara-vegetatif-alami-dan-vegetatif-buatan/
- http://www.plantamor.com/index.php?plant=1411
- http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2163637-perkembangbiakan-vegetatif-buatan-pada-tumbuhan/
- http://veganojustice.wordpress.com/2011/07/18/perbanyakan-vegetatif/
- Anonymous.2011
- Diakses pada tanggal 20 mei 2012



Tidak ada komentar:
Posting Komentar