Jumat, 15 Juni 2012

laporan stek pada sansiviera dan lidah mertua

  1. PENDAHULUAN

Perbanyakan tanaman merupakan salah satu aspek penting dalam budidaya tanaman karen hal tersebut terkait dengan penyediaan bibit tanaman bermutu. Tanamn dapat diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif.
Cara generatif dengan memanfaatkan biji yang merupakan hasil dari proses perkawinan induk jantan dan betina, yang memiliki kelemahan kemungkinan kemunduran mutu genetik akibat pencampuran dua induk. Kelemahan ini dapat ditanggulangi oleh perbanyakan vegetatif yang menghasilkan turunan sama dengan induknya. Keunggulan sifat pada tanaman induk akan diturunkan kepada turunannya.
Terdapat beberapa cara perbanyakan vegetatif, yaitu : mencangkok, merunduk, setek, menyambung, okulasi, dan pemisahan anakan. Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangan. Suatu cara perbanyakan vegetatif sesuai untuk satu jenis tanaman dan tidak berhasil ketika diterapkan pada tanaman lain.
Keberhasilan perbanyakan vegetatif ditentukan oleh jenis dan karakteristik tanaman, media, kondisi lingkungan, keterampilan manusia, dan lain sebagainya.
  1. TUJUAN
·          Mengetahui cara perbanyakan vegetatif
·          Mengetahiu factor factor yang mempengaruhinya

  1. DASAR TEORI

Reproduksi vegetatif adalah cara reproduksi makhluk hidup secara aseksual (tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina). Reproduksi vegetatif bisa terjadi secara alami maupun buatan. Perkembangbiakan dengan membelah diri biasanya terjadi pada hewan tingkat rendah,bersel satu/protoza, misalnya: amuba dan paramaecium. Pembelahan diri biner jika terjadi pembelahan individu menjadi 2 individu baru, dan disebut pembelahan diri multipel (perkembangbiakan dengan spora) jika pembelahan individu menjadi banyak individu, misalnya: plasmanium
Terdapat bermacam-macam teknik yang acap kali khas untuk jenis tumbuhan yang berbeda. Beberapa teknik hanya memanfaatkan organ reproduksi khusus yang diproduksi tanaman tertentu, sementara teknik lainnya sengaja merangsang pertumbuhan baru pada bagian tumbuhan tertentu. Berikut ini dipaparkan secara singkat berbagai teknik yang dipakai orang.
Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.
Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.
·         Penyetekan
Perkembangbiakan dengan setek dilakukan dengan cara menanam bagian tertentu tumbuhan tanpa menunggu tumbuhnya akar baru lebih dahulu. Dibandingkan cara perkembangbiakan vegetatif buatan lainnya, cara setek adalah cara termudah. Pemebiakan tanaman dengan setek ada yang menggunakan batang (kayu) disebut setek batang, dan ada juga yang menggunakan daun disebut setek daun.
Sansevieria atau lidah mertua adalah marga tanaman hias yang cukup populer sebagai penghias bagian dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari. Sansevieria memiliki daun keras, sukulen, tegak, dengan ujung meruncing.
Sanseviera dikenal dengan sebutan tanaman lidah mertua karena bentuknya yang tajam. Sanseviera tak hanya sebagai tanaman hias, tapi juga memiliki manfaat untuk menyuburkan rambut, mengobati diabetes, wasir, hingga kanker ganas. Sementara seratnya digunakan sebagai bahan pakaian. Di Jepang, Sanseviera digunakan untuk menghilangkan bau perabotan rumah di ruangan.
Dibanding tumbuhan lain, Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun, seperti karbondioksida, benzene, formaldehyde, dan trichloroethylene.
Sansevieria dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang, dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan.
Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen, sehingga tahan kekeringan. Namun dalam kondisi lembap atau basah, sansiviera bisa tumbuh subur.
Warna daun Sansevieria beragam, mulai hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, perak, dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi, ada yang mengikuti arah serat daun, tidak beraturan, dan ada juga yang zig-zag. Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut. Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid.
Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Liliidae
Ordo: Liliales
Famili: Agavaceae
Genus: Sansevieria
Spesies: Sansevieria trifasciata Prain.
  1. BAHAN DAN ALAT

    • Pisau / cutter
    • Media tanah dan bahan organic
    • Tanaman lidah mertua
    • Fungisida
    • Plastic transparan

    • Hormone tumbuh : IBA,GA3 dan hormax
    • Nampan plastic tinggi 20 cm
    • Bambu tinggi 30 cm
  1. CARA KERJA





Text Box: Direndam potongan stek 2 buah stek per perlakuan : IBA 100 ppm,GA3 100 ppm, hormax 4ml/L, tanpa perlakuan apapun
 










Text Box: Ditanam daun pada media stek, beri label. Lalu lakukan penyiraman serta amati pemunculan akar, batang,dan tanaman utuh .
 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
·         Daun Sansevieria atau lidah mertua

    

Gambar : hormax, tanpa perlakuan, GA3 dan IBA

Perlakuan
Jumlah akar

Tanaman 1
Tanaman 2
hormax
27
33
IBA
17
30
GA3
1
mati
Tanpa perlakuan
17
25
Dari hasil praktikum yang telah kami lakukan, telah didapat data bahwa daun sansiviera pada perlakuan hormax menghasilkan jumlah akar yang paling banyak yakni pada tanaman 1 = 27 dan pada tanaman 2 = 33 . ini membuktikan hormon hormax  yang telah direndam memberikan pengaruh bagi akar yang tumbuh pada tanaman ini. Adapun manfaat hormax adalah :
·         Mengandung hormon / ZPT organik terlengkap
·         Merangsang percepatan keluarnya akar, panjang akar, perbanyak serabut akar dan mata akar
·         Merangsang proses penyembuhan dari luka petik atau luka gigitan hama penyakit
Sedangkan pada tanaman yang telah direndamoleh hormaon IBA , menghasilkan data pada tanaman 1 = 17 dan tanaman 2 = 30, hal ini membuktikan hormon IBA merangsang pertumbuhan akar pada tiap tiap tanaman sansiviera ini. Secara alami tanaman menghasilakn hormon tumbuh sendiri, yaitu auksin. Namun kadang-kadang jumlahnya tidak mencukupi untuk membantu pembentukan akar. Oleh karena itu, perlu tambahan auksin dari luar untuk memacunya. Hormon auksin yang digunakan dapat berupa IBA .

Selain dari pada menambahkan dengan hormon seperti hormax,IBA dan GA3,pada praktikum ini kami melakukan pernelitian dengantanpa perlakuanapapun pada tanamanini. Ternyata mengahasilkan data yangbaik bagi pertumbuhan akarnya, data tersebut adalah tanaman 1=17 dan tanaman 2 = 25. Hal ini menunjukan hormon yang berada pada tanaman ini sepertiauksin, dapat memproses adanya akar pada tanaman dengan tanpa perlakuan. Ini disebabkan adanya faktor intern yang berperan penting pada pertumbuhan akar tersebut, faktor internt itu adalah ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
·         Faktor yang mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Alami
1. Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti
2. Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
3. Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.
4. Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang.
(Rochiman.1973)
Faktor yang mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Buatan
Faktor Intern :
  1. dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
  2. ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
Faktor Ekstern:
  1. suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
  2. kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
  3. cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang tidak banyak, maka perlu diberi naungan)
  4. jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)
  • daun sri rejeki
 Karakter atau ciri pokok sebagai pedoman bahwa tumbuhan berkembang biak secara Aseksual Vegetatif yaitu
  • hampir dipastikan keturunan yang terbentuk 100 % sama dengan induknya
  • tidak memerlukan individu lain untuk dilibatkan dalam reproduksi
  • tidak melibatkan sel kelamin untuk menurunkan keturunan tetapi menggunakan sel tubuh ( sel somatik )
  • reproduksi ini dipastikan melepaskan bagian tubuhnya yang mempunyai kemampuan totipotensi untuk membentuk individu baru , individu baru dibentuk dari bagian tubuh induk yang dilepaskan sehingga terbentuk individu yang sama
  • bisa melepaskan bagian tubuhnya secara alami , bisa juga secara buatan dibantu organisme lain misalnya manusia.
Pada perbanyakan sri rejeki metode perbanyakan yang digunakan ialah metode stek batang, perlakukan yang diberiakan ialah merendam batang pada larutan gula dengan kosentrasi 50 mg/l air dan pendaman pada air biasa. Dari hasil pengamatan dapat dilihat,bahwa tanaman dengan perlakuan  laruat gula, Pertumbuhan akarnya lebih cepat di bandingkan dengan tanpa perlakuan. Menurut (Frank Salisbury.1995) menyatakan jika larutan disekitar disekitar osmometer wadah penampungan memiliki konsentrasi linarut disekitar linarut lebih tinggi,akan terjadi aliran keluar dari osmometer. Jadi terjadi pengangkutan dari osmoter satu ke osmoter yang lainnya. Pemberian larutan glukosa, memungkinkan adanya membrane yang menimbulkan gardien tekanan akibat adanya gradient osmotik, ada lintasan tabung bertahan rendah antara dua osmometer. Difusi air keluar dari sel floem dan akibatnya penurunan turgor floem.Membuat gradien tekanan dari sumber wadah penampung lebih tajam, sehingga aliran membesar. Menurunnya turgor dalam sel floem pada sumber memacu pemuatan floem yang lebih cepa, dan hal itu akan menaikan laju pengangkutan.

(Anonim.1992)
Cara perbanyakan dengan metode stek juga sering mengalami kegagalan, hal ini kemungkinan disebabkan karena batang stek yang masih muda, temperatur yang terlalu tinggi, kurangnya ketersediaan air bagi batang yang telah distek. Menurut Redaksi (2007),Pada dasarnya cara perbanyakam stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop. Plagiotrop ialah rantingranting yang tumbuh dari batang orthotrop, yang jumlahnya banyak sekali. Ranting-ranting ini pendek, agak kecil dan tak melekat pada tajar sebab masingmasing, bukunya tak berakar lekat. Pada setiap buku tumbuh sehelai daun yang berhadaphadapan, dan disinilah akan tumbuh malai bunga. Cabang plagiotrop ini tumbuhnya selalu ke samping (lateral), dan pada cabang plagiotrop ini masih bisa tumbuh ranting-ranting lagi. Inilah bagian-bagian yang selalu mengeluarkan malai bunga ataubuah,maka ia juga disebut cabang-cabang buah. ( tanaman yang masih bertahan. Kondisi batang pada saat pengambilan berada dalam keadaan muda dengan warna batang setengah hijau atau setengah tua dengan warna kulit batang biasanya coklat muda. Pada saat ini kandungan karbohidrat dan auxin (hormon) pada batang cukup memadai untuk menunjang terjadinya perakaran setek. Pada batang yang masih muda, kandungan karbohidrat rendah tetapi hormonnya cukup tinggi. Pada kasus ini hasil setekan tumbuh tunas terlebih dahulu. Padahal seharusnya setek yang baik harus tumbuh akar dulu. Oleh karena itu, pada setek yang batangnya muda memang akan sering terjadi kegagalan. Selain itu kegagalan dalam stek dapat terjadi karena gunting stek tidak tajam sehingga batang yang akan distek memar, Hal ini mengundang bibit penyakit masuk ke bagian yang memar, sehingga bisa membusukkan pangkal setek serta kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber, diantaranya adalah:
a.       Status air. Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam kondisi turgid.
b.       Temperatur. Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C hingga 27°C.
c.       Cahaya. Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tamnaman sumber tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat.






  1. KESIMPULAN

Kesimpulan dari paparan yang telah saya bahas adalah :
    1. Perbanyakan vegetatif pada tanaman sansiviera menggunakan cara stek .
    2. Faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman ini
·         Faktor Intern :
ü  dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
ü  ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
·         Faktor Ekstern:
ü  suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
ü  kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
ü  cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang tidak banyak, maka perlu diberi naungan)
ü  jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)
  1. DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar