A. PENDAHULUAN
Di alam jarang sekali
ditemukan kehidupan yang secara individu terisolasi, biasanya suatu kehidupan
lebih suka mengelompok atau membentuk koloni. Kumpulan berbagai jenis organisme
disebut komunitas biotik yang terdiri atas komunitas tumbuhan (vegetasi),
komunitas hewan dan komunitas jasad renik. Ketiga macam komunitas itu
berhubungan erat dan saling bergantung. Ilmu untuk menelaah komunitas
(masyarakat) ini disebut sinekologi. Di dalam komunitas percampuran jenis-jenis
tidak demikian saja terjadi, melainkan setiap spesies menempati ruang tertentu
sebagai kelompok yang saling mengatur di antara mereka. Kelompok ini disebut
populasi sehingga populasi merupakan kumpulan individu - individu dari satu
macam spesies. (Heddy, 1994)
Karena ada hubungan
yang khas antara lingkungan dan organisme, maka komunitas di suatu lingkungan
bersifat spesifik. Dengan demikian pola vegetasi di permukaan bumi menunjukkan
pola diskontinyu. Seringkali suatu komunitas bergabung atau tumpang tindih
dengan komunitas lain. Karena tanggapan setiap spesies terhadap kondisi fisik,
kimia maupun biotik di suatu habitat berlainan maka perubahan di suatu habitat
cenderung mengakibatkan perubahan komposisi komunitas. Untuk itu perlu
dilakukan suatu analisis yang dapat menentukan bagaimana penyebaran suatu jenis
vegetasi agar dapat dipelajari dengan mudah (Sugianto, 1994).
Dalam mempelajari
suatu komunitas tumbuhan sering diperlukan suatu gambaran dari suatu wilayah
dimana pengamatan itu dilakukan, untuk tujuan tersebut diperlukan keterampilan
dalam membuat peta.
Pemetaan adalah proses
pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi (terminologi geodesi)
dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil
berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun raster
(Anonim, 2010).
Berikut Prinsip
Pemetaan dengan pengukuran secara sederhana seperti : kerja Lapangan, unsur yang Perlu di ukur
dalam pembuatan peta sederhana adalah Pengukuran Jarak, Pengukuran Sudut Arah, Pengelolaan Data dan Penyajian Data. Selain dengan pengukuran,
peta dapat di buat dengan menggunakan yang sudah ada. Berikut ini langkah Umum
dalam membuat peta dari peta yang sudah ada ialah: menentukan daerah yang akan di petakan, memilih peta dasar yang tepat, membuat peta dasar baru, yaitu peta yang
belum di beri simbol,
mencari dan mengklasifikasikan data sesuai kebutuhan, membuat simbol-simbol yang mewakili data, menempatkan simbol pada peta dasar, melengkapi peta dengan komponen yang lain (Hartana, 2009).
Keterampilan dalam pemetaan
ini sangat mambantu dalam mempelajari penyebaran vegetasi atau jenis tumbuhan
tertentu di suatu area atau wilayah. Berbagai metode dalam pemetaan telah
banyak dikembangkan, dan khusus untuk praktikum ini akan dipelajari
metode-metode yang sangat sederhana.
B. Tujuan
ü Tujuan Praktikum yaitu untuk mempelajari serta menggambarkan
daerah lokasi praktikum melalui pemetaan sederhana pada lokasi sampel tertentu
serta memetakan vegetasi yang terdapat pada suatu lokasi tersebut
C.
Bahan dan Alat
ü Alat yang digunakan yaitu, kompas, meteran, tali, busur derajat, kertas grafik dan alat
tulis.
D.
Tahapan Praktikum
Pengamatan diawali dengan ditentukan titik konstan A dan B
didalam areal yang akan di petakan, kemudian ditentukan titik-titik batas luar
areal terutama pada belokan atau tikungan, kemudian di ukur jarak dan azimut
dari titik A dan B ke titik- titik batas luar areal tersebut. Dan berdasarkan
jarak dan azimut tersebut buat peta pada kertas grafik dengan menggunakan skala
tertentu.
E. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemetaan ini digunakan
untuk mengetahui letak suatu jenis tumbuhan dan pola penyebarannya dalam suatu
wilayah (komunitas). Untuk melakukan analisis vegetasi ada beberapa metode yang
digunakan, selain ada metode yang digunakan untuk menganalisis kualitatif dari
vegetasi dan ada pula anilisis kuantitatif terhadap vegetasi. Analisis
kualitatif meliputi jumlah, kerapatan, luas penutupan dan lain sebagainya.
Sedangkan analisisis yang bersifat kualitatif biasanya digunakan untuk
mengetahui penyebaran jenis tumbuhan tertentu di dalam suatu komunitas. Untuk
melakukan analisis kualitatif ini dapat digunakan cara pemetaan, yaitu pemetaan
dengan mengukur jarak dan arah dan pemetaan dengan menggunakan 2 titik konstan.
Pemetaan dilakukan
untuk menentukan letak suatu jenis tumbuhan di suatu area dan mempelajari pola
penyebaran vegetasi atau tumbuhan di wilayah tersebut misalnya hutan tropis.
Ada 3 macam pola penyebaran vegetasi dalam komunitas yaitu :
1.Pola penyebaran secara acak (random
distribution) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu menyebar pada
beberapa tempat dan mengelompok pada tempat tertentu. Pada tumbuhan pola
penyebaran acak ini dapat terjadi karena penghamburan benih oleh angin.
2.Pola penyebaran Seragam (uniform
distribution) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu terdapat pada
tempat tempat tertentu dalam komunitasnya dengan jarak yang relatif sama.
Penyebaran seperti ini dapat terjadi karena adanya persaingan yang keras antar
individu (jenis tumbuhan) untuk memperoleh komponen pemenuh kebutuhan tumbuhan
seperti cahaya, nutrisi, air dan sebagainya, serta adanya antagonisme positif
yang mendorong pembagian ruang yang sama.
3.Pola penyebaran kelompok (clumped
dispertion) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu selalu ada dalam
kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat terpisah atau sendiri.
Pengelompokan ini terjadi karena pola reproduksi vegetatif, susunan benih lokal
dan fenimena lain dimana benihbanih cenderung tersusun mengelompok.
Metode pemetaan dengan
pengukuran jarak dan arah dilakukan dengan menentukan titik awal pada daerah
yang akan dibuat petanya, sehingga susunan titik-titik tersebut menggambarkan
bentuk penyebaran tumbuhan di daerah tersebut. Tiap titik merupakan letak dari
suatu jenis tumbuhan, kemudian diukur jarak dari satu titik ke tititk yang
berikutnya yang berdekatan hingga bertemu kembali ke titik awal.
Selain dilakukan
pengukuran jarak juga dilakukan penentuan kedudukan atau arah antar titik-titik
tersebut, sehingga kita dapat menentukan tumbuhan mana saja yang merupakan
sampel dari analisis yang akan dilakukan yang biasanya berada di suatu hutan
yang luas dan pengamatan dilakukan secara berkala. Dengan titik-titik tersebut
kita dapat menemukan tumbuhan sama yang mana yang merupakan sampel analisis.
Dari hasil pengukuran
pada saat pengamatan, diperoleh data seperti pada data pengamatan yang berupa
peta titik-titik dengan kedudukan yang berbeda-beda.
Ini menunjukkan bahwa
penyebaran jenis tumbuhan pada komunitas tersebut adalah tersebar secara acak
(random distribution) karena jarak antar tumbuhan satu dengan yang lainnya
adalah berbeda-beda dengan kedudukan yang saling berjauhan secara acak.
Penyebaran secara acak ini dapat terjadi karena pola penyebaran benih tumbuhan
yang mungkin dibantu oleh angin. Tetapi sebenarnya untuk menentukan pola
penyebaran suatu jenis tumbuhan diperlukan luasan area sampel yang lebih luas
misalnya hutan, karena dengan luas sampel yang kita gunakan tidak dapat kita
simpulkan pola penyebaran yang sebenarnya.
Metode pemetaan yang kedua yaitu dengan menggunakan dua titik konstan. Ini dilakukan dengan menentukan dua titik tertentu dimana dari kedua titik tersebut dapat terlihat seluruh daerah yang hendak dipetakan, selanjutnya dari kedua titik tersebut diambil titik-titik yang merupakan letak dari masing-masing tumbuhan yang ada pada wilayah tersebut. Kemudian dilakukan pengukuran jarak dan arah masing-masing titik terhadap titik konstan.
Metode pemetaan yang kedua yaitu dengan menggunakan dua titik konstan. Ini dilakukan dengan menentukan dua titik tertentu dimana dari kedua titik tersebut dapat terlihat seluruh daerah yang hendak dipetakan, selanjutnya dari kedua titik tersebut diambil titik-titik yang merupakan letak dari masing-masing tumbuhan yang ada pada wilayah tersebut. Kemudian dilakukan pengukuran jarak dan arah masing-masing titik terhadap titik konstan.
Table Hasil Pengamatan Pengukuran Pemetaan
Sederhana :
|
Titik Batas Luar Areal
|
Kedudukan Terhadap Titik Konstan
|
|||
|
P
|
Q
|
|||
|
Azimut
|
Jarak
(m)
|
Azimut
|
Jarak (m)
|
|
|
A
|
450
|
7,6
|
3450
|
8,1
|
|
B
|
970
|
10,7
|
200
|
6,8
|
|
C
|
1180
|
33,1
|
1120
|
23,8,
|
|
D
|
1400
|
25,08
|
1490
|
17,3
|
|
E
|
1800
|
30,26
|
2060
|
29
|
|
F
|
2210
|
16,09
|
2540
|
23
|
|
G
|
3220
|
10,4
|
3000
|
20,8
|
Q – P = 2800
Dari Hasil diatas dapat diketahui bahwa
perbandingan jarak dan azimuth ada yang tidak ditemukannya titik potong, pada
titik b, c dan d. karena perbedaan dari titik tersebut sangat jauh titik potong
sehingga antara titik P dan Q tidak bersatu. Untuk skala yang digunakan
menggunakan skla 1 : 200.
Dari data hasil pengamatan tentang pemetaan
berdasarkan dua titik konstan, dimana dua titik konstan tersebut (P - Q) berjarak 9 meter diperoleh tiga arah tembak, yaitu arah 1, dan arah 2. Masing-masing arah memiliki jarak berbeda - beda terhadap dua
titik konstan.
Jarak arah 1 terhadap titik A sebesar 7,6 meter, terhadap titik B sebesar 10,7 meter. Jarak arah 2 terhadap titik A sebesar 8,1 meter, terhadap titik B sebesar 6,8 meter. Arah 1 terhadap titik A sebesar 450°. Arah 2 terhadap titik A sebesar 345°. Arah 1 terhadap titik B sebesar 97°. Arah 2 terhadap titik B sebesar
20°, dab seterusnya.
Berdasarkan data
pengamatan yang diperoleh dapat diketahui bahwa penyebaran tumbuhan adalah memencar karena jarak antar
tumbuhan relative tidak sama. Dengan metode pemetaan dua titik konstan ini kita
lebih mudah untuk melihat posisi dan pola penyebaran sampel-sampel tumbuhan
dari arah tepi atau horisontal area. Dari data kedua cara pemetaan dapat
diketahui bahwa penyebaran vegetasi pada lahan praktikum terjadi secara acak.
Penyebaran secara
seragam ditunjukkan oleh jarak yang relative sama dari satu arah terhadap arah yang lain. Karena terjadi pembagian ruang
yang sama akibat adanya suatu persaingan. Penyebaran vegetasi pada daerah tersebut
(lahan praktikum) juga tidak dikatakan penyebaran kelompok karena jenis
penyebarannya hanya terjadi akibat reproduksi vegetative dan individunya selalu
ditemukan secara berkelompok, sedangkan pada hasil pengamatan vegetasi jenis
tumbuhan ditemukan sendiri - sendiri secara terpisah.
Didalam praktikum ini banyak kendala - kendala
yang ditemukan dalam melakukan percobaan, diantaranya : tidak kepastian dalam
membidik titik yang akan ditembak, tempatnya yang sangat luas, dalam pemakaian
kompas masih belum mengerti. Sehingga data yang di dapat sangat tidak akurat.
Dalam hal ini perlu hati - hati dalam memakai suatu alat yang digunakan untuk
melakukan percobaan sesuai dengan metode kerja yang tepat.
Tumbuhan yang ditemukan seperti, putri
malu, rumput, pohon bambu. Tumbuhan tersebut banyak mendominasi ditempat
tersebut. Banyak rumput yang membuat agak sulit dalam menentukan titik yang akan dijadikan patokan untuk
membidik.
F.
KESIMPULAN
Pemetaan dengan
pengukuran jarak dan arah dilakukan dengan menentukan titik awal pada daerah
yang akan dibuat petanya, sehingga susunan titik-titik tersebut menggambarkan
bentuk penyebaran tumbuhan di daerah tersebut. Tiap titik merupakan letak dari
suatu jenis tumbuhan, kemudian diukur jarak dari satu titik ke tititk yang
berikutnya yang berdekatan hingga bertemu kembali ke titik awal.
Metode pemetaan
berdasarkan dua titik konstan dilakukan dengan menentukan dua titik tertentu
dimana dari kedua titik tersebut dapat terlihat seluruh daerah yang hendak
dipetakan, selanjutnya dari kedua titik tersebut diambil titik-titik yang
merupakan letak dari masing-masing pada arah tembak tersebut. Kemudian
dilakukan pengukuran jarak dan arah masing-masing titik terhadap titik konstan.
Dari beberapa hasil arah tembak yang didapatkan, ada
beberapa tidak menemukan titik temunya.
DAFTAR PUSTAKA
·
Anonim 1. 2010. Survei, Pemetaan dan Sistem
Informasi Geografis. Dalam awiryawan@ditjenphka.go.id. (diakses, 30 November 2010).
·
Heddy, Suasono dan Metikurniati, 1994.
Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi. Malang : Raja Grafindo Persada.
·
Sugianto, A. 1994. Ekologi Kwantitatif,
Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Surabaya: Usaha Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar