A. PENDAHULUAN
Suksesi adalah suatu proses perubahan,
berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam
jangka waktu tertentu hingga terbentuk
komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan perkataan
lain. suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang
menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan
fisik dalam komunitas atau ekosistem.
Perubahan-perubahan
yang terjadi dalam komunitas dapat dengan mudah diamati dan seringkali
perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh komunitas lain. Dapat kita
lihat misalnya pada sebidang kebun jagung yang setelah panen ditinggalkan dan
tidak ditanami lagi. Disitu akan bermunculan berbagai jenis tumbuhan gulma yang
membentuk komunitas. Apabila lahan itu dibiarkan cukup lama, dalam komunitas
yang terbentuk dari waktu ke waktu akan terjadi pergantian komposisi jenis
(Resosoedarmo,1990).
Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut
klimaks. Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah
mencapai homeostatis. Ini dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat
mempertahankan kestabilan internalnya sebagai akibat dari tanggap (respon) yang
terkoordinasi dari komponen-komponennya terhadap setiap kondisi atau rangsangan
yang cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas. Jadi bila suatu
komunitas telah mencapai klimaks, perubahan yang searah tidak terjadi lagi
(Resosoedarmo,1990).
Proses suksesi sangat terkait dengan faktor linkungan, seperti letak lintang,
iklim, dan tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukkan struktur komunitas
klimaks. Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim kering,
maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas rumput, jika
berlangsung di daerah beriklim dingin dan basah, maka proses suksesi akan
terhenti pada komunitas (hutan) conifer, serta jika berlangsung di daerah
beriklim hangat dan basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada hutan
hujan tropic.
Lalu proses suksesi sangat beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses
suksesi pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus
tahun. Coba kalian bandingkan kejadian suksesi pada daerah yang ekstrim (misalnya
di puncak gunung atau daerah yang sangat kering). Pada daerah tersebut proses
suksesi dapat mencapai ribuan tahun.
Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :
Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan.
1. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di
sekitar komunitas yang terganggu.
2. Kehadiran pemencar benih.
3. Iklim, terutama arah dan kecepatan
angina yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan.
4. Jenis substrat baru yang terbentuk
5. Sifat – sifat jenis tumbuhan yang ada
di sekitar tempat terjadinya suksesi.
Sukses tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan misalnya
di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan
oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik. Dalam setiap komunitas setiap individu
selalu dikelilingi oleh berbagai organisme, yaitu organisme satu spesies atau
spesies lain. Organisme dalam suatu komunitas saling berhubungan. Hubungan
antara spesies di dalam komunitas mempunyai pengaruh besar terhadap berbagai
spesies yang membentuk komunitas (Sastrodinoto, 1980).
B. Tujuan
ü Tujuan praktikum adalah mempelajari
vegetasi tumbuhan bawah sebelum dan sesudah suksesi
ü Dan mengetahui kurun waktu yang
dibutuhkan dalam proses suksesi dan mengetahui tahapan suksesi
B. TINJAUAN PUSTAKA
Seorang ahli biologi menyatakan bahwa suksesi adalah perubahan yang terjadi
pada suatu ekosistem yang berlangsung bertahap- tahap dalam waktu yang lama.
Namun yang dianut oleh ahli- ahli ekologi sekarang adalah pandangan yang
mengatakan bahwa suatu komunitas adalah merupakan suatu gabungan dari beberapa
organisme. Organisme dalam suatu komunitas saling berhubungan, karena melalui
proses- proses kehidupan yang saling berinteraksi. Lingkungan disekitarnya
sangat penting karena mempengaruhi kehidupan organisme. Jika organisme tidak
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka akan berakibat fatal bagi
organisme itu. Misalnya, tanah penting untuk tumbuhan hidup karena mengandung
mineral juga merupakan media bagi air dan sebagai tempat tumbuhnya akar.
Sebaliknya tanah juga dapat dipengaruhi oleh tumbuhan, dapat mengurangi jumlah
mineral dalam tanah dengan akar- akar tanaman yang menembus tanah yang hanya
mengandung beberapa zat organik (Irwan, 1992).
Para ahli biologi
mencoba memberi nama pada berbagai komunitas. Nama ini harus dapat memberikan
keterangan mengenai sifat komunitas itu. Mungkin cara yang sederhana adalah
memberi nama dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana
wujud komunitas itu. Kebanyakan orang dapat membayangkan apa yang dimaksud jika
kita berbicara mengenai “hutan” atau “padang rumput”. Nama ini menunjukkan
bentuk dan wujud komunitas ini dalam keseluruhannya. Sering kali di dalam suatu
komunitas terdapat satu atau dua tumbuhan dalam jumlah yang banyak, sehingga
tumbuhan ini merupakan wujud yang khas daripada komunitas ini. Organisme yang
memberi wujud khas kepada suatu komunitas dinamakan suatu spesies dominan dalam
komunitas ini (Sastrodinoto, 1980). Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke
satu arah secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari
modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi
berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimaks. Dikatakan
bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis.
Menurut Irwan (1992), pemberian nama
komunitas dapat berdasarkan:
- Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup, atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan dipterocarpaceae. Dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil, di Indonesia hutan ini banyak di Flores.
- Berdasarkan habitat fisik komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan dan sebagainya.
- Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional, misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang tertinggi terbagi rata sepanjang tahun dan disebut hutan hujan tropik.
Di antara banyak
organisme yang membentuk suatu komunitas, hanya beberapa spesies atau grup yang
memperlihatkan pengendalian yang nyata dalam memfungsikan keseluruhan
komunitas. Kepentingan relatif organisme dalam suatu komunitas tidak ditentukan
oleh posisi taksonominya, namun oleh jumlah, ukuran, produksi dan hubungan
lainnya. Tingkat kepentingan suatu spesies biasanya dinyatakan oleh indeks
keunggulannya. Komunitas diberi nama dan digolongkan menurut spesies atau
bentuk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan fungsional. Analisis
komunitas dapat dilakukan pada setiap lokasi tertentu berdasarkan perbedaan
zone atau gradien yang terdapat dalam daerah tersebut. Umumnya semakin curam
gradien lingkungan, makin beragam komunitasnya karena batas yang tajam
terbentuk oleh perubahan yang mendadak dalam sifat fisik lingkungannya
(Michael,
1994).
Secara subjektif
siapapun akan menyadari bahwa komunitas hutan itu berbeda dengan komunitas
padang rumput dalam komposisi jenis dan struktur vegetasi. Agar suatu komunitas
menjadi kenyataan yang objektif sebagai koleksi yang nyata dari suatu populasi,
harapannya adalah bahwa kelompok populasi tertentu cenderung untuk terjadi
berulang- ulang dalam lingkungan yang serupa, dan bahwa kelompok-kelompok ini
berbeda dengan komunitas yang bersebelahan.
Harapan ini dapat
diuji analisis gradasi, yang dalam analisis ini dengan distribusi sepanjang
gradasi lingkungan untuk mengetahui kisaran jenis yang membentuk komunitas
(Desmukh, 1992). Kebanyakan
komunitas memperlihatkan pola dan struktur dalam tanan bagian komponen.
Struktur suatu komunitas terdapat dalam bentuk stratifikasi tegak (misalnya
komunitas hutan), zona mendatar (komunitas laut) atau dalam pola- pola
fungsional yang berkaitan dengan aktivitas, jaring makanan, perilaku
reproduksi, atau perilaku sosial dari organisme. Zona peralihan dari suatu
komunitas dinamakan ekoton. Zona-zona ini memiliki organisme yang khas,
demikian juga organisme yang ditemukan diperbatasan. Jumlah dan banyaknya
spesies sering kali lebih besar dalam suatu ekoton daripada komunitas
tetangganya(Michael,1994).
Vegetasi yang terdapat di alam
kebanyakan komunitas hutan mempunyai suatu pola yang jelas. Di dalam komunitas
hutan, daun-daun, cabang-cabang dan bagian lain dari bermacam- macam pohon,
semak dan lain-lain tumbuhan membentuk beberapa lapisan. Masing-masing lapisan
memiliki produsen, konsumen dan makhluk pembusuk lain yang khas. Mikroklimat
tiap lapisan pun berlainan. Hal ini dapat dipahami karena cahaya, angin, dan
hujan yang diterima lapisan ini juga berbeda. Selain dari lapisan tumbuhan,
permukaan tanah hutan juga merupakan tempat hidup. Pada permukaan tanah hutan
terdapat daun-daun, ranting- ranting dan kayu yang membusuk. Zona-zona ini
memiliki organisme yang khas, demikian juga organisme yang ditemukan diperbatasan.
Jumlah dan banyaknya spesies sering kali lebih besar dalam suatu ekoton
daripada komunitas tetangganya. Disini terdapat suatu komunitas yang terdiri
dari mikroorganisme, lumut dan paku- pakuan. Juga terdapat bermacam-macam
kumbang, kutu daun, belalang dan mungkin ular ( Sastrodinoto, 1980).
Organisme individu atau populasi yang
terbentuk sebagai kumpulan populasi spesies dalam daerah tertentu, yang
membentuk suatu komunitas, suatu komunitas dapat berada dalam berbagai ukuran,
misalnya komunitas hutan besar, laut atau komunitas kayu busuk. Para ahli
tumbuhan dan hewan memerikan komunitas secara beragam. Semua definisi komunitas
memiliki pandangan tertentu secara umum.
D. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
a.
Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada lahan
percobaan belakang Fakultas Sains dan Teknologi UIN SGD pada hari Kamis Tanggal
22 Maret 2012 – 5 April 2012
b.
Alat dan Bahan
Pada praktikum suksesi tumbuhan ini dibutuhkan alat dan bahan, yaitu : 1)
cangkul 2) tali rafia 3) lahan percobaan.
c.
Cara Kerja
![]() |
||||||||
![]() |
||||||||
![]() |
||||||||
D. PEMBAHASAN DAN
HASIL
a.
Hasil
|
No.
|
Tanggal
|
Jenis
|
Jumlah
|
|
1
2
3
|
22 Maret 2012
29
29 Maret 2012
5 April 2012
|
-
|
5
20
3
2
7
28
8
13
|
b. Pembahasan
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur
yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas
semula. Dengan perkataan lain. suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan
ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai
akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.
Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu
komunitas terakhir dan stabil ( tidak
berubah) yang mencapai keseimbangan dengan ling kungannya. Komunitas
klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu
komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan
dan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan.
Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam
suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
a.
Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara
total sehingga terbentuk habitat
baru. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh campur
tangan manusia. Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor, letusan
gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai. Gangguan oleh campur tangan
manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara, timah, dan minyak bumi).
Suksesi primer ini diawali tumbuhnya
tumbuhan pionir, biasanya berupa
lumut kerak. Lumut kerak mampu melapukkan batuan menjadi tanah sederhana. Lumut kerak yang mati akan
diuraikan oleh pengurai menjadi zat
anorganik. Zat anorganik ini memperkaya nutrien pada tanah sederhana
sehingga terbentuk tanah yang lebih kompleks. Benih
yang jatuh pada tempat tersebut akan tumbuh subur. Setelah itu. akan tumbuh rumput, semak, perdu, dan
pepohonan. Bersamaan dengan itu pula
hewan mulai memasuki komunitas yang haru terbentuk. Hal ini dapat
terjadi karena suksesi komunitas tumbuhan biasanya selalu diikuti dengan suksesi komunitas hewan.
Secara langsung atau tidak langsung.
Hal ini karena sumber makanan hewan berupa tumbuhan sehingga keberadaan hewan pada suatu wilayah komunitas tumbuhan akan senantiasa menyesuaikan diri dengan jenis tumbuhan yang ada. Akhirnya
terbentuklah komunitas klimaks atau ekosistem seimbang yang tahan terhadap
perubahan (bersifat homeostatis).Salah satu contoh suksesi primer yaitu
peristiwa meletusnya gunung Krakatau. Setelah letusan itu, bagian pulau yang
tersisa tertutup oleh batu apung dan abu
sampai kedalaman rata – rata 30 m.
c. Suksesi sekunder
Suksesi sekunder
terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak
total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat
seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal,
tetapi tidak dari komunitas pionir.
Gangguan yang
menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau
akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angina topan, erosi, banjir,
kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan kekeringan hutan.
Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia contohnya adalah pembukaan areal
hutan.
Proses suksesi
sangat terkait dengan faktor linkungan, seperti letak lintang, iklim, dan
tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukkan struktur komunitas klimaks.
Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim kering, maka
proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas rumput; jika berlangsung
di daerah beriklim dingin dan basah, maka proses suksesi akan terhenti pada
komunitas (hutan) conifer, serta jika berlangsung di daerah beriklim hangat dan
basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada hutan hujan tropic.
Lalu proses suksesi sangat
beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses suksesi pada daerah hangat,
lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus tahun. Coba kalian
bandingkan kejadian suksesi pada daerah yang ekstrim (misalnya di puncak
gunung atau daerah yang sangat kering). Pada daerah tersebut proses suksesi
dapat mencapai ribuan tahun.
Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :
- Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan.
- Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu.
- Kehadiran pemencar benih.
- Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan.
- Jenis substrat baru yang terbentuk
6. Sifat – sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat
terjadinya suksesi.
Sukses tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan
misalnya di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami
pendangkalan oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut
eutrofik. Telah dijelaskan bahwa akhir sukses adalah terbentuknya suatu
komunitas klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis komunitas
klimaks sebagai berikut :
- Hidroser yaitu sukses yang terbentuk di ekosistem air tawar.
- Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau
- xeroser yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun.
Pembentukkan komunitas klimaks sangat
dipengaruhi oleh musim dan biasanya komposisinya bercirikan spesies yang
dominant. Berdasarkan pengaruh musim terhadap bentuknya komunitas klimaks,
terdapat dua teori sebagai berikut :
- Hipotesis monoklimaks menyatakan bahwa pada daerah musim tertentu hanya terdapat satu komunitas klimaks
- Hipoteis poliklimaks mengemukakan bahwa komunitas klimaks dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik yang salah satunya mungkin dominan.
E. KESIMPULAN DAN SARAN
a.
Kesimpulan
1. Suksesi adalah
suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada
suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu
hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula.
2. Komunitas klimaks
adalah suatu komunitas terakhir dan stabil (tidak berubah) yang mencapai
keseimbangan dengan lingkungannya.
3.
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat
gangguan yang mengakibatkan komunitas awal
hilang secara total sehingga terbentuk
habitat baru. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh
campur tangan manusia.
4.
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu
komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih
terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya.
5.
Dalam setiap
komunitas setiap individu selalu dikelilingi oleh berbagai organisme, yaitu
organisme satu spesies atau spesies lain. Organisme dalam suatu komunitas
saling berhubungan. Hubungan antara spesies di dalam komunitas mempunyai
pengaruh besar terhadap berbagai spesies yang membentuk komunitas.
- Saran
Diharapkan dapat
mengetahui pengertian tentang suksesi dan cara perlakuannya, diharapkan
lebih cekatan dalam praktikum ini. Diharapkan waktu yang digunakan dalam
prakikum ini disesuaikan dengan keadaan mahasiswa praktikan. Hasil laporan praktikum lebih dihargai.
Diharapkan lebih menggunakan alat dan bahan yang lebih efisien dan lengkap
agar tidak terlalu keluar tenaga.
DAFTAR PUSTAKA
Desmukh, I.1992. Ekologi dan Biologi Tropika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Bandung: ITB. Hal: 47-82
Irwan, Z. O.1990. Prinsip-prinsip
Ekologi dan Organisasi Ekosistem,
Komunitas, Dan Lingkungan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Michael, P.1994. Metode Ekologi
untuk Penyelidikan Lapangan dan
Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Resosoedarmo, R. S.1989. Pengantar Ekologi. Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya.
Sastrodinoto,S.1980. Biologi Umum I. PT.
Gramedia.Jakarta.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar