Jumat, 15 Juni 2012

pembibitan Tanaman Jati



A.      PENDAHULUAN
Tanaman jati merupakan salah satu tanaman perkebunan penting di Indonesia. Tanaman ini terutama menghasilkan kayu yang digunakan untuk kusen bangunan maupun furniture yang memiliki kualitas tinggi. Dengan demikian penting untuk mengembangkan pertanaman jati, yang salah satunya didukung dengan ketersediaan bibit jati yang dengan kuantitas yang banyak dan juga berkualitas.
Perbanyakan benih jati dapat dilakukan dengan dua cara, yakni melalui perbanyakan generatif dan vegetative. Perbanyakan generatif dengan cara menyemai biji hingga tumbuh tunas baru sebagai bibit. Hal yang harus diperhatikan untuk penyemaian benih jati adalah dormansi, sehingga perlu dilakukan suatu perlakuan untuk memecahkan dormansi. Perlakuan bisa berupa pemecahan dormansi secara mekanis, fisik, maupun kimia. Jika benih sudah tumbuh menjadi bibit yang terlalu besar, bibit diremajakan dengan memangkas batang dan membiarkan tumbuh tunas baru. Tunas tersebut dipelihara hingga terbentuk batang baru. Cara ini biasaa disebut dengan Stump.
Sementara itu, perbanyakan vegetatif dilakukan dengan cara kultur jaringan, yaitu perbanyakan melalui pertumbuhan sel-sel jaringan titik tumbuh tanaman. Titik tumbuh pada tanaman berada di jaringan meristematik, seperti pada meristem apical. Dengan kultur jaringan, jumlah bibit yang diperoleh cukup banyak. Namun, kesulitan dari kultur jaringan tanaman keras adalah adanya browning yang disebabkan oleh senyawa phenol.
B.      TUJUAN PRAKTIKUM
ü  Untuk mengetahui cara pemecahan dormansi benih jati secara fisik.
C.      DASAR TEORI
Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau.Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f. Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air. Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa. Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak. Pada waktu muda jati mempunyai akar tunggal yang tumbuh cepat dan dalam dengan akar-akar permukaan yang banyak. Tetapi akar tunggal ini segera bercabang sehingga merupakan berkas-berkas akar yang mendalam (Anonim, 1976). Bunga berbentuk corong berwarna putih atau agak merah muda. Buah bulat atau berujung runcing dengan empat ruang berisi biji (Sugiarto, 1996).
Benih yang bermutu baik diantaranya adalah yang cepat berkecambah setelah       ditaburkan dan berdaya tumbuh tinggi. Hal ini akan menetukan persen tumbuh anakan di lapangan. Untuk mengatasi dormansi dan mempercepat proses perkecamabahan benih dapat dibantu dengan beberapa perlakuan pendahuluan  yaitu secara mekanis ( direndam dalam air panas atau dingin, dipukul, dikikir, diamplas atau dibakar), kimiawi (direndam dalam larutan kimia tertentu), atau penggunaan sinar radio aktif (Sukandi et al. 2002).
D.      ALAT DAN BAHAN

·         Bahan
-          Benih jati
-          Spirtus
-          Air
-          Media tanam : tanah, kompos, arang sekam
-          Hormax
·         Alat
-          Bak tabur
-          Serasah
-          Korek api
-          Polybag ukuran 10 x 20 cm



E.       CARA KERJA
a.       Perlakuan Benih dibakar
Sebelum disemai di bak tabur, dormansi benih jati perlu dipecahkan dengan cara membakar benih menggunakan spirtus.
Benih siap untuk disemai
Benih
-       Di tempatkan di dalam wadah dengan alas serasah
-       Ditutup hamparan benih menggunakan serasah
-       Ditaburkan spirtus di atas serasah dan bakar hingga api padam
-       Dinginkan benih selama 24 jam
 









Media tanam/semai
Tanah + kompos + arang ( 1 : 1 : 1 )
Bibit
Bibit jati siap pindah tanam
-          Dipindahkan ke dalam polibag lakukan dengan hati-hati.
-          Pelihara bibit hingga mencapai tinggi 30 cm
-          Dimasukkan media semai ke dalam bak semai/polybag
-          Benih dibenamkan satu per satu ke dalam media semai
-          Benih dibiarkan selama 2-3 minggu hingga menjadi bibit
 















b.      Perlakuan Benih direndam
Sebelum disemai di bak tabur, dormansi benih jati perlu dipecahkan dengan cara merendam benih menggunakan larutan H2SO4 selama 3 hari .

F.       HASIL DAN PEMBAHASAN
·         Hasil pengamatan
a.       Pada perlakuan dibakar menggunakan spiritus, hasil yang telah kami dapatkan adalah tidak tumbuhnya/muncul kecambah pada biji jati tersebut.
b.      Pada perlakuan direndam menngunakan larutan H2SO4 selama 3 hari , hasil yang telah kami amati bahwa tidak terjadinya proses perkecmbahan pada biji jati tersebut
·         Pembahasan
Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.
Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.
a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi
·         Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan
·         Imnate dormancy (rest): dormancy yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ biji itu sendiri
b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji

ü  Mekanisme fisik
Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri; terbagi menjadi:
- mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik
- fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel
- kimia: bagian biji/buah mengandung zat kimia penghambat

ü  Mekanisme fisiologis
Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis; terbagi menjadi:
- photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya
- immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang
- thermodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu
c. Berdasarkan bentuk dormansi
Kulit biji impermeabel terhadap air/O2
  • Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, endocarp
  • Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
  • Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik.
  • Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum.
  • Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.
Embrio belum masak (immature embryo)
  • Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misal: Gnetum gnemon (melinjo)
  • Embrio belum terdiferensiasi
  • Embrio secara morfologis sudah berkembang, namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.
Dormansi karena immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat kimia. Biji membutuhkan pemasakan pascapanen (afterripening) dalam penyimpanan kering.  Dormansi karena kebutuhan akan afterripening ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pengupasan kulit.
·       Dormansi karena zat penghambat
Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.
·         Teknik Pematahan Dormansi Biji
Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.
Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditujukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.

G.     KESIMPULAN
Dari penjelasan yang telah saya uraikan dapat disimpulkan bahwa :
·         Mengetahui Cara pemecahan dormansi benih jati secara fisik yaitu menggunakan perlakuan dibakar menggunakan spirtus dan direndam menggunakan larutan H2SO4.
·         Hasil yang telah kami dapat adalah tidak terjadinya perkecambahan biji pada kedua perlakuan tersebut karena adanya beberapa factor yang mempengaruhi penyebab ternyadinya kegagalan pada dormansi biji jati.

H.     DAFTAR PUSTAKA
ü  Bewley, Derek J. 1997. Seed Germination and Dormancy. The Plant Cell, Vol. 9 1055-1066 America Society of Plant Physiologist.
ü  Lambers, H; Chapin III S. F. And Pons L.T.2008. Plant Physiology Ecology 2rd Edition. 2008 Springer Science and Business Media, LLC. Shanmugavalli, M; Renganayaki, PR; Menka, C.
ü  Diakses pada tanggal 25 mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar