A. PENDAHULUAN
Tanaman jati merupakan salah satu tanaman perkebunan penting di
Indonesia. Tanaman ini terutama menghasilkan kayu yang digunakan untuk kusen
bangunan maupun furniture yang memiliki kualitas tinggi. Dengan demikian
penting untuk mengembangkan pertanaman jati, yang salah satunya didukung dengan
ketersediaan bibit jati yang dengan kuantitas yang banyak dan juga berkualitas.
Perbanyakan benih jati dapat dilakukan dengan dua cara, yakni
melalui perbanyakan generatif dan vegetative. Perbanyakan generatif dengan cara
menyemai biji hingga tumbuh tunas baru sebagai bibit. Hal yang harus
diperhatikan untuk penyemaian benih jati adalah dormansi, sehingga perlu
dilakukan suatu perlakuan untuk memecahkan dormansi. Perlakuan bisa berupa
pemecahan dormansi secara mekanis, fisik, maupun kimia. Jika benih sudah tumbuh
menjadi bibit yang terlalu besar, bibit diremajakan dengan memangkas batang dan
membiarkan tumbuh tunas baru. Tunas tersebut dipelihara hingga terbentuk batang
baru. Cara ini biasaa disebut dengan Stump.
Sementara itu, perbanyakan vegetatif dilakukan dengan cara kultur
jaringan, yaitu perbanyakan melalui pertumbuhan sel-sel jaringan titik tumbuh
tanaman. Titik tumbuh pada tanaman berada di jaringan meristematik, seperti
pada meristem apical. Dengan kultur jaringan, jumlah bibit yang diperoleh cukup
banyak. Namun, kesulitan dari kultur jaringan tanaman keras adalah adanya browning yang disebabkan oleh senyawa
phenol.
B. TUJUAN PRAKTIKUM
ü
Untuk mengetahui cara pemecahan dormansi benih
jati secara fisik.
C. DASAR TEORI
Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi.
Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar,
yang luruh di musim kemarau.Nama ilmiah jati adalah Tectona
grandis L.f. Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan
1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran
tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak
dibanjiri dengan air. Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat
mencapai 30 – 60 cm saat dewasa. Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya
kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit
sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. Jati biasanya
diproduksi secara konvensional dengan
menggunakan biji.
Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi
terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah
dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air,
memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam,
basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk
menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak. Pada waktu muda jati
mempunyai akar tunggal yang tumbuh cepat dan dalam dengan akar-akar permukaan
yang banyak. Tetapi akar tunggal ini segera bercabang sehingga merupakan
berkas-berkas akar yang mendalam (Anonim, 1976). Bunga berbentuk corong
berwarna putih atau agak merah muda. Buah bulat atau berujung runcing dengan
empat ruang berisi biji (Sugiarto, 1996).
Benih yang bermutu
baik diantaranya adalah yang cepat berkecambah setelah ditaburkan dan berdaya tumbuh tinggi.
Hal ini akan menetukan persen tumbuh anakan di lapangan. Untuk mengatasi
dormansi dan mempercepat proses perkecamabahan benih dapat dibantu dengan
beberapa perlakuan pendahuluan yaitu
secara mekanis ( direndam dalam air panas atau dingin, dipukul, dikikir,
diamplas atau dibakar), kimiawi (direndam dalam larutan kimia tertentu), atau
penggunaan sinar radio aktif (Sukandi et al. 2002).
D. ALAT DAN BAHAN
·
Bahan
-
Benih jati
-
Spirtus
-
Air
-
Media tanam : tanah, kompos, arang sekam
-
Hormax
·
Alat
-
Bak tabur
-
Serasah
-
Korek api
-
Polybag ukuran 10 x 20 cm
E. CARA KERJA
a. Perlakuan Benih dibakar
Sebelum disemai di bak tabur, dormansi
benih jati perlu dipecahkan dengan cara membakar benih menggunakan spirtus.
|
Benih siap untuk
disemai
|
|
Benih
|
|
-
Di tempatkan di dalam wadah dengan alas
serasah
-
Ditutup hamparan benih menggunakan serasah
-
Ditaburkan spirtus di atas serasah dan bakar
hingga api padam
-
Dinginkan benih selama 24 jam
|
Media
tanam/semai
|
Tanah + kompos + arang ( 1 : 1 : 1 )
|
|
Bibit
|
|
Bibit jati siap pindah tanam
|
|
-
Dipindahkan ke dalam polibag lakukan dengan
hati-hati.
-
Pelihara bibit hingga mencapai tinggi 30 cm
|
|
-
Dimasukkan media semai ke dalam bak semai/polybag
-
Benih dibenamkan satu per satu ke dalam
media semai
-
Benih dibiarkan selama 2-3 minggu hingga
menjadi bibit
|
b. Perlakuan Benih direndam
Sebelum disemai di bak tabur, dormansi
benih jati perlu dipecahkan dengan cara merendam benih menggunakan larutan H2SO4
selama 3 hari .
F. HASIL DAN PEMBAHASAN
·
Hasil
pengamatan
a.
Pada perlakuan dibakar menggunakan spiritus,
hasil yang telah kami dapatkan adalah tidak tumbuhnya/muncul kecambah pada biji
jati tersebut.
b.
Pada perlakuan direndam menngunakan larutan H2SO4
selama 3 hari , hasil yang telah kami amati bahwa tidak terjadinya proses
perkecmbahan pada biji jati tersebut
·
Pembahasan
Dormansi benih
berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan
kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi
dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan
siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang
sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment
skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan
stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.
Dormansi diklasifikasikan
menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.
a.
Berdasarkan faktor penyebab dormansi
·
Imposed dormancy (quiscence):
terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak
menguntungkan
·
Imnate dormancy (rest): dormancy
yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ biji itu sendiri
b.
Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji
ü Mekanisme
fisik
Merupakan
dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri;
terbagi menjadi:
-
mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik
-
fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel
-
kimia: bagian biji/buah mengandung zat kimia penghambat
ü Mekanisme
fisiologis
Merupakan
dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis;
terbagi menjadi:
-
photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya
-
immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio
yang tidak/belum matang
-
thermodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu
c.
Berdasarkan bentuk dormansi
Kulit biji
impermeabel terhadap air/O2
- Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, endocarp
- Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
- Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik.
- Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum.
- Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.
Embrio
belum masak (immature embryo)
- Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misal: Gnetum gnemon (melinjo)
- Embrio belum terdiferensiasi
- Embrio secara morfologis sudah berkembang, namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.
Dormansi karena immature
embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat
kimia. Biji
membutuhkan pemasakan pascapanen (afterripening) dalam penyimpanan kering. Dormansi
karena kebutuhan akan afterripening ini dapat dipatahkan dengan
perlakuan temperatur tinggi dan pengupasan kulit.
· Dormansi
karena zat penghambat
Perkecambahan biji adalah kulminasi
dari serangkaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus
berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses
akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan.
Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin
dan lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena
daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat
penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.
·
Teknik Pematahan Dormansi Biji
Biji yang telah masak
dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang
sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment
skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan
stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.
Skarifikasi merupakan
salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang
ditujukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan
biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan
secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan
dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.
G. KESIMPULAN
Dari
penjelasan yang telah saya uraikan dapat disimpulkan bahwa :
·
Mengetahui Cara pemecahan dormansi benih jati
secara fisik yaitu menggunakan perlakuan dibakar menggunakan spirtus dan
direndam menggunakan larutan H2SO4.
·
Hasil yang telah kami dapat adalah tidak
terjadinya perkecambahan biji pada kedua perlakuan tersebut karena adanya
beberapa factor yang mempengaruhi penyebab ternyadinya kegagalan pada dormansi
biji jati.
H. DAFTAR PUSTAKA
ü
Bewley, Derek J. 1997. Seed Germination and
Dormancy. The Plant Cell, Vol. 9 1055-1066 America Society of Plant
Physiologist.
ü
Lambers, H; Chapin III S. F. And Pons L.T.2008.
Plant Physiology Ecology 2rd Edition. 2008 Springer Science and Business Media,
LLC. Shanmugavalli, M; Renganayaki, PR; Menka, C.
ü
Diakses pada tanggal 25 mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar