I.
PENDAHULUAN
Vertikultur adalah budidaya tanaman secara
vertical. Wadah untuk berdirinya tanaman berupa pipa PVC, bambu betung , atau
bahan lain disusun secara bertingkat dengan syarat tanaman tidak saling menghalangi, sehingga jumlah
tanaman per satuan luas lebih banyak. Teknologi ini bertujuan untuk mengatasi
permasalahan lahan sempit melalui cara pemanfaatan ruang secara maksimal untuk
budidaya tanaman.
Vertikultur merupakan teknologi sederhana yang
dapat dikembangkan pada skala rumah tangga. Untuk keperluan bisnis rancang
bangun dapat dilengkapi dengan system pengairan yang diatur dan bersiklus.
Banyak jenis tanaman yang dapat dibudidayakan
secara vertikultur, tetapi yang cocok dan umum digunakan adalah tanaman semusim
baik itu tanaman sayuran daun maupun tanaman sayuran buah, tanaman hias, dan
tanaman obat. Dalam pemilihan jenis tanaman yang perlu mendapat perhatian
adalah sistem perakarannya. Tanaman berakar serabut ebih mudah ditanam dengan
cara vertikultur karena tidak memerlukan ruang
terlalu luas.
II.
TUJUAN PRAKTIKUM
·
Mendesain sistem
Vertikultur
·
Mengetahui
pertumbuhan tanaman pada sistem Vertikultur
III.
DASAR TEORI
Sesuai dengan asal
katanya dari bahasa Inggris, yaitu vertical dan culture, maka vertikultur
adalah cara pertanian baik indoor maupun outdoor, karena kepemilikan lahan
terbatas yang dirancang sedemikian rupa sehingga berposisi vertikal atau
bertingkat. Ini merupakan konsep penghijauan yang diintroduksikan di
perkotaan yang mulai gersang dan pengap. Memanfaatkan sedikit lahan dalam sistem
ini tidak jauh berbeda dengan menanam pohon seperti di kebun, sawah atau dalam
polibag sekalipun.
Vertikultur tidak
hanya sekadar kebun vertikal. Namun ide ini akan merangsang seseorang untuk
menciptakan khasanah biodiversitas di pekarangan yang sempit sekalipun. Dengan
struktur vertikal, akan memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya.
Walhasil, akan mengundang kupu-kupu dan burung serta makhluk hidup lain
meramaikan keberadaan vertikultur tersebut.
Kita dapat
memanfaatkan berbagai alat dan bahan yang biasanya tersedia ataupun dijual
diperkotaan, misalnya: pipa paralon (PVC) atau bambu betung (diameter ±10 cm),
kawat ayam, gergaji atau bor listrik, dengan bibit tanaman serta media
tanamnya. Paralon ataupun bambu dilubangi dan dibuat tegak atau bertingkat-tingkat.
Tinggi bambu dari permukaan tanah sesuai dengan kebutuhan (120-150 cm), namun
harus dipertimbangkan kemudahan orang yang merawatnya. Jika kita menginginkan
membuat rak-rak, buatlah dari kayu, papan atau bumbu. Sejumlah pot tanaman
dapat pula dijejerkan di atas rak. Soal wadah pohon itu, tidak harus membelinya
di pasar. Coba saja tengok ke gudang atau serambi rumah. Kaleng cat, bekas
minyak pelumas, atau botol plastik minuman mineral yang sudah tidak terpakai,
dapat dimanfaatkan.
Mengenai model dan ukuran,
terserah kreativitas penggunanya. Dibuat sedemikian rupa agar mampu ditanam
banyak tanaman. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau
dibentuk mirip anak tangga. Dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah
rak. Yang penting adalah kuat ataupun mudah dipindah-pindahkan.
Tanaman yang akan
dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan. Namun, usahakan tanaman yang
memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, atau tanaman semusim.
Setidaknya, tanaman tersebut berakar pendek, seperti selada, kangkung, bayam,
pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun, ataupun
bunga-bungaan seperti petunia. Penulis juga melihat saat mengikuti pelatihan di
Mesir, orang menanam stroberi dan membibitkan padi dengan sistem vetikultur
ini.
Pemeliharaan dalam
vertikultur inipun relatif mudah, tanaman cukup disiram setiap hari, dan jika
memungkinkan tidak perlu menggunakan pestisida. Seandainya kita memiliki
aerator dengan watt yang cukup (seperti untuk akuarium), sistem irigasinyapun
dapat terus-menerus. Perlakuan lainnya, sama ketika kita menanam di pot atau di
atas tanah langsung yaitu dengan memberikan pupuk cair atau pupuk granule
dengan cara disemprotkan ke setiap lubang. Penambahan kompos,
dilakukan dengan cara dipadatkan disekitar tanaman yang sudah tumbuh.
IV.
ALAT DAN BAHAN
|
·
Alat
-
Gergaji
-
Bor listrik
-
Tali ijuk
-
Media (tanah, pasir, dan pupuk kandang
-
Penggaris dan caliper
-
Ember, gayung, dan sprayer
|
|
·
Bahan
-
Piva PVC atau bamboo betung ( 4 inci)
-
Bibit tanaman stroberi ( 2 bibit )
|
V.
CARA KERJA
|
Pemupukan
dilakukan sesuai dengan perlakuanketika pembibitan (denaya)
|
|
Diamati setiap
pertumbuhan : tinggi tanaman, jumlahdaun
|
VI.
HASIL DAN PEMBAHASAN
·
Hasil pengamatan
|
No
|
Kode tanaman
|
Tinggi tanaman ( cm )
|
Jumlah daun ( rumpun )
|
||||||
|
Minggu ke-
|
Minggu ke-
|
||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
A.2.2
|
7
|
7,5
|
10
|
|
5
|
6
|
6
|
|
|
2
|
A.2.3
|
8
|
9
|
10
|
|
5
|
6
|
6
|
|
·
Pembahasan
Teknik
pertanian vertikultur seperti ini biasanya untuk membudidayakan tanaman
semusim atau berumur pendek, seperti sayuran. Aneka sayuran yang dapat ditanam
antara lain seledri, selada, kangkung, bayam, kemangi, sawi, caisim atau
kailan. Pohon cabai, tomat, atau terong, juga mudah sekali tumbuh dengan cara
ini. Jenis tanaman obat-obatan atau tanaman hias pun layak untuk dicoba. Kesuburan tanah dapat
ditingkatkan melalui tindakan pemupukan. Untuk memperoleh hasil yang tinggi dan
tetap memperhatikan kaidah konservasi dalam penggunaan pupuk perlu
memperhatikan beberapa hal, yaitu pemberian pupuk dengan jenis dan jumlah yang
benar, pemilihan sumber pupuk yang benar untuk memasok hara yang diperlukan dan
pemberian pada saat dan cara yang tepat. Pemberian pupuk organik berarti
menambah kandungan bahan organik sehingga pengaruhnya terhadap sifat fisik, kimia,
dan hayati media juga meningkat. Sumber bahan organik yang saat ini cukup
potensial dijadikan sebagai pupuk organik adalah limbah ternak (pupuk kandang)
(Agustono et al., 2005).
Ketersediaan unsur hara yang cukup memungkinkan proses
fotosintesa optimum dan asimilat yang dihasilkan dapat digunakan sebagai
cadangan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena cadangan
makanan di dalam jaringan lebih banyak akan memungkinkan terbentuknya daun
banyak pula (Pramono, 2002).
Salah satu hal yang perlu diperhatikan bahwa unsur
mikro diperlukan dalam jumlah yang sedikit sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu
penggunaan pupuk perlu mempertimbangkan patokan-patokannya sehingga dapat
digunakan oleh tanaman secara efisien. Salah satu sifat umum unsur mikro adalah
penyerapannya harus sesuai dengan kebutuhan dan apabila berlebihan dapat
merusak perkembangan tanaman (Sutapradja, 1996). Kekurangan sistem vertikultur
antara lain rawan terhadap serangan jamur, sehingga pemantauan kondisi
pertanaman harus sering dilakukan. Populasi tanaman yang tinggi menyebabkan
kelembaban udara tinggi, sehingga memungkinkan serangan penyakit mudah
menyebar. Penyiraman harus dilakukan secara kontinyu meskipun hujan, terutama
bila tanaman ditanam pada sistem bangunan beratap (Haryanto et al., 1995).
VII.
KESIMPULAN
·
Vertikultur
adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau
bertingkat. Suatu teknik atau cara budidaya tanaman semusim (khusunya sayuran)
pada lahan terbatas yang diatur secara bersusun menggunakan bangunan/tempat
khusus atau model wadah tertentu dengan menerapkan paket teknologi maju, serta
komoditas yang diusahakan bernilai ekonomi tinggi
·
Vertikultur
merupakan salah satu cara budidaya yang efektif untuk dilaksanakan di daerah
yang tidak memiliki lahan luas, seperti di perkotaan.
·
Pada
hasil pengamatan vertkultur tanaman stroberi . Pada pengamatan pertama
pertumbuhan sangat baik begitupun dengan minggu selanjutnya, tanaman ini
mengalami pertumbuhan yang meningkat dan baik.
VIII.
DAFTAR PUSTAKA
ü Agustono,
Rohadi, dan Hendrawan. 2005. pada Beberapa Jenis Pupuk Organik dan Anorganik.
J. Penelitian dan Informasi Pertanian “Agrin”
ü Anonim.
2010. OPINI: Solusi Bertanam di Ruang Sempit dan Padat.
ü Haryanto,
E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H. Sunarjono. 1995.. Jakarta.
ü Diakses pada tanggal 21 mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar