Jumat, 15 Juni 2012

Vertikultur



I.                    PENDAHULUAN
Vertikultur adalah budidaya tanaman secara vertical. Wadah untuk berdirinya tanaman berupa pipa PVC, bambu betung , atau bahan lain disusun secara bertingkat dengan syarat tanaman  tidak saling menghalangi, sehingga jumlah tanaman per satuan luas lebih banyak. Teknologi ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan lahan sempit melalui cara pemanfaatan ruang secara maksimal untuk budidaya tanaman.
Vertikultur merupakan teknologi sederhana yang dapat dikembangkan pada skala rumah tangga. Untuk keperluan bisnis rancang bangun dapat dilengkapi dengan system pengairan yang diatur dan bersiklus.
Banyak jenis tanaman yang dapat dibudidayakan secara vertikultur, tetapi yang cocok dan umum digunakan adalah tanaman semusim baik itu tanaman sayuran daun maupun tanaman sayuran buah, tanaman hias, dan tanaman obat. Dalam pemilihan jenis tanaman yang perlu mendapat perhatian adalah sistem perakarannya. Tanaman berakar serabut ebih mudah ditanam dengan cara vertikultur karena tidak memerlukan ruang  terlalu luas.

II.                  TUJUAN PRAKTIKUM
·         Mendesain sistem Vertikultur
·         Mengetahui pertumbuhan tanaman pada sistem Vertikultur

III.                DASAR TEORI
Sesuai dengan asal katanya dari bahasa Inggris, yaitu vertical dan culture, maka vertikultur adalah cara pertanian baik indoor maupun outdoor, karena kepemilikan lahan terbatas yang dirancang sedemikian rupa sehingga berposisi vertikal atau bertingkat.  Ini merupakan konsep penghijauan yang diintroduksikan di perkotaan yang mulai gersang dan pengap. Memanfaatkan sedikit lahan dalam sistem ini tidak jauh berbeda dengan menanam pohon seperti di kebun, sawah atau dalam polibag sekalipun.
Vertikultur tidak hanya sekadar kebun vertikal. Namun ide ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan khasanah biodiversitas di pekarangan yang sempit sekalipun. Dengan struktur vertikal, akan memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Walhasil, akan mengundang kupu-kupu dan burung serta makhluk hidup lain meramaikan keberadaan vertikultur tersebut.
Kita dapat memanfaatkan berbagai alat dan bahan yang biasanya tersedia ataupun dijual diperkotaan, misalnya: pipa paralon (PVC) atau bambu betung (diameter ±10 cm), kawat ayam, gergaji atau bor listrik, dengan bibit tanaman serta media tanamnya.  Paralon ataupun bambu dilubangi dan dibuat tegak atau bertingkat-tingkat. Tinggi bambu dari permukaan tanah sesuai dengan kebutuhan (120-150 cm), namun harus dipertimbangkan kemudahan orang yang merawatnya. Jika kita menginginkan membuat rak-rak, buatlah dari kayu, papan atau bumbu. Sejumlah pot tanaman dapat pula dijejerkan di atas rak. Soal wadah pohon itu, tidak harus membelinya di pasar. Coba saja tengok ke gudang atau serambi rumah. Kaleng cat, bekas minyak pelumas, atau botol plastik minuman mineral yang sudah tidak terpakai, dapat dimanfaatkan.
Mengenai model dan ukuran, terserah kreativitas penggunanya. Dibuat sedemikian rupa agar mampu ditanam banyak tanaman. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga. Dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak.  Yang penting adalah kuat ataupun  mudah dipindah-pindahkan.
Tanaman yang akan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan. Namun, usahakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, atau tanaman semusim. Setidaknya, tanaman tersebut berakar pendek, seperti selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun, ataupun bunga-bungaan seperti petunia. Penulis juga melihat saat mengikuti pelatihan di Mesir, orang menanam stroberi dan membibitkan padi dengan sistem vetikultur  ini.
Pemeliharaan dalam vertikultur inipun relatif mudah, tanaman cukup disiram setiap hari, dan jika memungkinkan tidak perlu menggunakan pestisida.  Seandainya kita memiliki aerator dengan watt yang cukup (seperti untuk akuarium), sistem irigasinyapun dapat terus-menerus. Perlakuan lainnya, sama ketika kita menanam di pot atau di atas tanah langsung yaitu dengan memberikan pupuk cair atau pupuk granule dengan cara disemprotkan ke setiap lubang.  Penambahan kompos,  dilakukan dengan cara dipadatkan disekitar tanaman yang sudah tumbuh.



IV.               ALAT DAN BAHAN
·         Alat
-          Gergaji
-          Bor listrik
-          Tali ijuk
-          Media (tanah, pasir, dan pupuk kandang
-          Penggaris dan caliper
-          Ember, gayung, dan sprayer
·         Bahan
-          Piva PVC atau bamboo betung ( 4 inci)
-          Bibit tanaman stroberi ( 2 bibit )
 





V.                 CARA KERJA
Pemupukan dilakukan sesuai dengan perlakuanketika pembibitan (denaya)


Diamati setiap pertumbuhan : tinggi tanaman, jumlahdaun

 


VI.               HASIL DAN PEMBAHASAN
·         Hasil pengamatan
No
Kode tanaman
Tinggi tanaman ( cm )
Jumlah daun ( rumpun )
Minggu ke-
Minggu ke-
1
2
3
4
1
2
3
4
1
A.2.2
7
7,5
10

5
6
6

2
A.2.3
8
9
10

5
6
6

                          
·         Pembahasan
Teknik pertanian vertikultur  seperti ini biasanya untuk membudidayakan tanaman semusim atau berumur pendek, seperti sayuran. Aneka sayuran yang dapat ditanam antara lain seledri, selada, kangkung, bayam, kemangi, sawi, caisim atau kailan. Pohon cabai, tomat, atau terong, juga mudah sekali tumbuh dengan cara ini. Jenis tanaman obat-obatan atau tanaman hias pun layak untuk dicoba. Kesuburan tanah dapat ditingkatkan melalui tindakan pemupukan. Untuk memperoleh hasil yang tinggi dan tetap memperhatikan kaidah konservasi dalam penggunaan pupuk perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu pemberian pupuk dengan jenis dan jumlah yang benar, pemilihan sumber pupuk yang benar untuk memasok hara yang diperlukan dan pemberian pada saat dan cara yang tepat. Pemberian pupuk organik berarti menambah kandungan bahan organik sehingga pengaruhnya terhadap sifat fisik, kimia, dan hayati media juga meningkat. Sumber bahan organik yang saat ini cukup potensial dijadikan sebagai pupuk organik adalah limbah ternak (pupuk kandang) (Agustono et al., 2005).
Ketersediaan unsur hara yang cukup memungkinkan proses fotosintesa optimum dan asimilat yang dihasilkan dapat digunakan sebagai cadangan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena cadangan makanan di dalam jaringan lebih banyak akan memungkinkan terbentuknya daun banyak pula (Pramono, 2002).
Salah satu hal yang perlu diperhatikan bahwa unsur mikro diperlukan dalam jumlah yang sedikit sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu penggunaan pupuk perlu mempertimbangkan patokan-patokannya sehingga dapat digunakan oleh tanaman secara efisien. Salah satu sifat umum unsur mikro adalah penyerapannya harus sesuai dengan kebutuhan dan apabila berlebihan dapat merusak perkembangan tanaman (Sutapradja, 1996). Kekurangan sistem vertikultur antara lain rawan terhadap serangan jamur, sehingga pemantauan kondisi pertanaman harus sering dilakukan. Populasi tanaman yang tinggi menyebabkan kelembaban udara tinggi, sehingga memungkinkan serangan penyakit mudah menyebar. Penyiraman harus dilakukan secara kontinyu meskipun hujan, terutama bila tanaman ditanam pada sistem bangunan beratap (Haryanto et al., 1995).

VII.             KESIMPULAN
·         Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Suatu teknik atau cara budidaya tanaman semusim (khusunya sayuran) pada lahan terbatas yang diatur secara bersusun menggunakan bangunan/tempat khusus atau model wadah tertentu dengan menerapkan paket teknologi maju, serta komoditas yang diusahakan bernilai ekonomi tinggi
·         Vertikultur merupakan salah satu cara budidaya yang efektif untuk dilaksanakan di daerah yang tidak memiliki lahan luas, seperti di perkotaan.
·         Pada hasil pengamatan vertkultur tanaman stroberi . Pada pengamatan pertama pertumbuhan sangat baik begitupun dengan minggu selanjutnya, tanaman ini mengalami pertumbuhan yang meningkat dan baik.
VIII.           DAFTAR PUSTAKA

ü  Agustono, Rohadi, dan Hendrawan. 2005. pada Beberapa Jenis Pupuk Organik dan Anorganik. J. Penelitian dan Informasi Pertanian “Agrin”
ü  Anonim. 2010. OPINI: Solusi Bertanam di Ruang Sempit dan Padat.
ü  Haryanto, E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H. Sunarjono. 1995.. Jakarta.
ü  Diakses pada tanggal 21 mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar