BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu dan teknologi adalah hasil olah
pikir manusia yang dipergunakan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh umat manusia. Ilmu dan teknologi pertanian misalnya digunakan
untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi di bidang pertanian yaitu
peningkatan produksi. Teknologi adalah
ilmu tetapi tidak semua ilmu adalah teknologi. Ilmu adalah pengetahuan tetapi
tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang
tersusun secara sistematis dengan menggunakan metode-metode tertentu yang mampu
menggambarkan (mendeskripsi), menjelaskan (eksplanasi) dan meramalkan
(memprediksi) fenomena yang
terjadi. Teknologi adalah rekayasa dan rancang bangun ilmu dengan penerapan kaidah-kaidah, rumus-rumus yang mampu menemukan metode-metode untuk menentukan sesuatu. Pengetahuan yang bukan ilmu adalah pengetahuan yang tidak terakumulasi secara sistematis berdasarkan metode-metode tertentu (Suriasumantri, 1999). Sedangkan ilmu yang tidak merupakan teknologi ialah ilmu yang tidak direkayasa dan dirancangbangun berdasarkan kaidah penerapan prinsip-prinsip keilmuan. Rekayasa dan rancangbangun adalah kaidah penerapan prinsip-prinsip keilmuan.
terjadi. Teknologi adalah rekayasa dan rancang bangun ilmu dengan penerapan kaidah-kaidah, rumus-rumus yang mampu menemukan metode-metode untuk menentukan sesuatu. Pengetahuan yang bukan ilmu adalah pengetahuan yang tidak terakumulasi secara sistematis berdasarkan metode-metode tertentu (Suriasumantri, 1999). Sedangkan ilmu yang tidak merupakan teknologi ialah ilmu yang tidak direkayasa dan dirancangbangun berdasarkan kaidah penerapan prinsip-prinsip keilmuan. Rekayasa dan rancangbangun adalah kaidah penerapan prinsip-prinsip keilmuan.
Baik pengetahuan maupun ilmu dan
teknologi adalah bentuk pemikiran (hasil berfikir) asosiatif yang menjalin dan
menghubungkan suatu pikiran dan kenyataan atau pemikiran lain berdasarkan
pengalaman yang berulang-ulang, baik tanpa maupun dengan pengalaman kausalitas
hakiki dan universal yang disebut pengetahuan. Jika pemahaman kausalitas hakiki
dan universal di sebut ilmu (science).
Antara ilmu dan teknologi yang
dihasilkan terjadi kesenjangan antara penggunanya (petani). Akses petani
terhadap informasi inovasi teknologi relatif terbatas sehingga diperlukan untuk
sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada petani. Pemahaman suatu inovasi
teknologi tentu melalui suatu tahapan proses mental dari individu petani sampai
mengambil keputusan untuk mengadopsinya. Untuk memahami individu dalam
mengadopsi teknologi dimana melalui suatu proses mental maka dapat menggunakan
pendekatan teori kognitif. Psikologi kognitif adalah satu pendekatan kajian
yang bertujuan memahami bagaimana manusia menyusun dan melaksana aktivitas
mental melibatkan proses perolehan, penyusunan, perwakilan, penyimpanan,
pengambilan kembali dan penggunaan pengetahuan yang membolehkan menusia
memahami dan menyelesaikan masalah demi menyesuaikan diri dengan tuntutan alam
sekitar yang berubah-ubah dan merancang bagi menghadapi masa depan. Teori
kognitif merupakan salah satu teori perilaku, teori ini menjelaskan bahwa
individu yang bersangkutan memilih anternatif perilaku yang membawa manfaat
yang sebesar-besarnya bagi yang bersangkutan (Walgito, 2006).
Dengan kemampuan memilih suatu
teknologi yang bermanfaat bagi seorang petani menggunakan kekuatan berpikir
senbagai bahan pertimbangannya. Kekuatan-kekuatan berpikir petani dalam memilih
teknologi sebagai bentuk berperilakunya adalah syarat dengan
pertimbangan-pertimbangan selektif.
Petani dalam memilih teknologi atau
unsur-unsurnya tidak lepas dari interaksinya terhadap lingkungannya, baik
lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Oleh karenanya petani dalam
memilih teknologi yang bermanfaat untuk diterapkan adalah melalui proses
persepsi. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan.
Sedangkan penginderaan adalah merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh
individu melalui alat penerima yaitu alat indera (Walgito, 2006).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Persepsi Petani Terhadap Inovasi Teknologi
Inovasi adalah segala sesuatu ide,
cara-cara ataupun obyek yang dipersepsikan oleh seorang sebagai sesuatu yang
baru. Havelock 1973 dalam Valera et al., (1987) menyatakan bahwa inovasi
merupakan segala perubahan yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh
masyarakat yang mengalaminya.
Seseorang menganggap baru, tetapi belum
tentu ide yang sama itu baru bagi orang lain. Mardikanto (1993) mengemukakan
bahwa inovasi adalah suatu ide, perilaku, produk, informasi, dan pratek-praktek
baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh
sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang mendorong
terjadi perubahan-perubahan disegala aspek kehidupan masyarakat demi
terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu/warga masyarakat yang bersangkutan.
Individu petani dalam memahami suatu
inovasi melalui proses persepsi. Persepsi adalah stimulus yang mengenai
individu itu kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikannya sehingga
individu menyedari tentang apa yang diinderanya (Walgito, 2006). Ketika
individu petani mendengar atau melihat suatu inovasi teknologi, maka muncul
stimulus yang diterima alat inderanya, kemuadian melalui proses persepsi suatu
inovasi teknologi baru yang ditangkap oleh indera sebagai sesuatu yang berarti
dan bermanfaat baginya. Melalui suatu interpretasi dan pemaknaan dari suatu
teknologi maka muncul keyakinan dan kepercayaan terhadap inovasi teknologi
tersebut. Akan tetapi individu petani masih memerlukan pembuktian terhadap
kebenaran inovasi tersebut melalui uji coba atau melihat kepada sesama
petaninya yang telah mencoba.
Davidoff mengatakan bahwa stimulus yang
diterima alat indera, kemuadian melalui persepsi sesuatu yang diindera tersebut
menjadi sesuatu yang berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan
(Walgito, 2006). Dengan demikian menurut Walgito (2006) persepsi merupakan
proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima
oleh individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas
yang terintegrated dalam diri individu.
Persepsi petani terhadap suatu inovasi
teknologi baru (misalnya teknologi budidaya jagung Hibrida) adalah merupakan
proses pengorganisasian dan interpretasi terhadap stimulus yang diterima oleh
individu petani, sehingga inovasi teknologi tersebut merupakan yang berarti dan
bermanfaat serta merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu
sebelum mengambil kebutusan untuk berperilaku. Bentuk kebutusan berpelilaku
adalah merupakan tindakan individu untuk menerpakna inovasi teknologi yang
telah diyakini dan dibuktikan.
Persepsi petani terhadap sesuatu inovasi teknologi baru dapat dipengaruhi oleh faktor internal (dari dalam diri individu) dan faktor eksternal (atau dari stimulus itu sendiri dan lingkungan). Suatu inovasi teknologi baru yang dipersepsi erat kaitannya terhadap kondisi lingkungan (agro-ekosistem) dan tingkat kesulitan untuk menerapkan teknologi tersebut. Penilaian terhadap tingkat kesulitan inovasi teknologi itu merupakan faktor-faktor internal individu dalam mempersepsikan kemampuan diri sendiri untuk melakukan tindakan atau penerapan sebagai pola perilakunya.
Persepsi petani terhadap sesuatu inovasi teknologi baru dapat dipengaruhi oleh faktor internal (dari dalam diri individu) dan faktor eksternal (atau dari stimulus itu sendiri dan lingkungan). Suatu inovasi teknologi baru yang dipersepsi erat kaitannya terhadap kondisi lingkungan (agro-ekosistem) dan tingkat kesulitan untuk menerapkan teknologi tersebut. Penilaian terhadap tingkat kesulitan inovasi teknologi itu merupakan faktor-faktor internal individu dalam mempersepsikan kemampuan diri sendiri untuk melakukan tindakan atau penerapan sebagai pola perilakunya.
Secara psikologis persepsi individu
petani terhadap suatu inovasi teknologi sangat dipengaruhi oleh kemampuan
pemberian makna atau arti dari simbol-simbol teknologi itu, pengalaman
individu, perasaan, keyakinan, pengetahuan tentang inovasi, kemampuan berfikir,
sumber referensi dan dan motivasi untuk belajar. Faktor-faktor tersebut akan
berpengaruh pada seorang individu petani dalam mengadakan atau melakukan
persepsi terhadap inovasi teknologi. Belajar adalah memperoleh dan memperbaiki
kemampuan untuk melaksanakan suatu pola sikap melalui pengalaman dan praktek
(Van den Ban dan Hawkins, 2000).
Antara pengetahuan, sikap, kepribadian
dan perilaku merupakan faktor yang saling terkait yang mengarahkan individu
dalam melakukan suatu usaha yang bermanfaat bagi kehidupan dan masa depannya.
Menurut Puspadi (2002), Perubahan-perubahan sikap petani menyebabkan perubahan
kebutuhan petani. Kebutuhan petani saat ini adalah tingkat pendapatan yang
layak dan ketersediaan uang segar sebagai instrumen untuk mengaktualisasikan
dirinya, mengembangkan dirinya dan mempertahankan dirinya.
Petani banyak belajar dari
pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain tentang suatu inovasi
teknologi dengan mencoba serangkain tindakan yang beragam. Tingkat tindakan
yang dilakukan petani tergantung pada tingkat manfaat dan keuntungan yang akan
diterima. Seorang petani dengan pendidikan yang rendah seringkali bersifat
apatis terhadap inovasi sebagai akibat kegagalan yang dialaminya pada masa
lampau, karena kurangnya pengetahuan tentang inovasi. Sifat-sifat apatis
tersebut banyak dialami oleh sebagian besar petani lahan kering akibat
kegagalan usahatani yang dialaminya yang disebabkan oleh faktor kondisi iklim
yang tidak menentu.
Suatu inovasi teknologi yang diterima
petani selalu menilai perilaku diri sendiri akan kemampuan untuk melakukan
teknologi itu dengan baik. Jika seorang petani dengan tingkat penilaian diri
atau pengendalian perilaku yang tinggi gagal mencapai hasil yang diinginkan,
maka ia akan mencoba lagi untuk menemukan yang lebih baik. Sebaliknya jika
seorang petani dengan tingkat penilaian perilaku dirinya rendah, maka cepat
berhenti berusaha terutama pada pekerjaan-pekerjaan tertentu atau
inovasi-inovasi yang spesifik (Van den Ban dan Hawkins, 2000).
2.2
Perubahan Sikap Pertani
Selain faktor psikologis yang
menentukan sikap, juga komunikasi sosial merupakan determinan paling dominan
menentukan sikap seorang petani terhadap inovasi teknologi pertanian.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa suatu inovasi teknologi baru yang diterima
individu petani melalui proses persepsi. Terbentuknya sikap seseorang menurut
Mar’at (1984) yaitu dipengaruhi oleh faktor internal (fisiologis dan
psikologis) dan faktor eksternal (pengalaman, situasi, norma-norma, hambatan
dan dorongan).
Menurut Baron dan Byrne, Garungan dan
Mayers, dan Allport dalam Azwar (2002; Walgito (2006), mengatakan bahwa sikap
mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap yang saling menunjang,
yaitu komponen kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif (komponen
perceptual) yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan atau
ide, keyakinan dan konsep. Komponen afektif (komponen emosional), yaitu
menyangkut perasaan seseorang yang dihubungkan dengan keyakinan, seperti rasa
senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. Sedangkan komponen konatif
(komponen perilaku), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan
bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap,
yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau perilaku
seseorang terhadap obyek sikap. Perilaku petani terhadap adopsi teknologi jika
teknologi tersebut memberikan manfaat sesuai tujuan yang ingin dicapainya.
Kenyataan bahwa sikap petani terhadap
suatu inovasi teknologi dipengaruhi oleh faktor internal individu
(karakteristik kepribadian individu) dan faktor internal (faktor-faktor di luar
diri individu). Akan tetapi yang lebih dominan mempengaruhi sikap dan keputusan
petani terhadap suatu inovasi adalah faktor-faktor eksternal. Faktor-faktor eksternal
meliputi norma-norma, kebiasaan, komunikasi sosial, interaksi sosial, dan
belajar sosial individu petani dalam sistem sosial. Proses belajar sosial yang
sering dilakukan petani dalam menjaring informasi inovasi teknologi baru
bersifat pembelajaran observasional. Menurut Teori Pembelajaran Sosial Bandura
(1977), pengaruh modeling menghasilkan pembelajaran melalui fungsi informatik.
Individu dapat mencapai gambaran simbolis tentang aktivitas-aktivitas yang
berfungsi sebagai pemandu untuk pelaksanaan tindakan yang sesuai. Sikap petani
terhadap inovasi teknologi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam
(agro-ekosistem dan agro-klimat), ini adalah salah satu faktor yang mungkin
disebut Mar’at (1984) sebagai “hambatan” yang merupakan salah satu variabel eksternal
yang menentukan sikap terutama kesesuaian teknologi tersebut terhadap kondisi
ago-ekosistem dan agro-klimat setempat.
Sikap yang dimiliki seseorang
memberikan corak pada perilaku atau tindakan orang yang bersangkutan (Walgito,
2006). Krech dan Crutchfield dalam Walgito (2006), mengatakan bahwa perilaku
seseorang akan diwarnai atau dilatarbelakangi oleh sikap yang ada pada orang
yang bersangkutan. Para ahli psikologi sosial memberikan pengertian tentang
sikap yang sedikit berbeda-beda namun pada dasarnya semuanya bertujuan untuk
mengetahui prilaku seseorang. Walgito (2006) mendefinisikan sikap adalah suatu
organisasi yang mengandung pendapat, pengetahuan, perasaan, keyakinan tentang
sesuatu yang sifatnya relatif konstan pada perasaan tertentu dan memberikan
dasar untuk berperilaku. Van den Ban dan Hawkins (2000) mendefinisikan sikap
sebagai perasaan pikiran, dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih
bersifat parmanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungan. Dengan
demikian komponen-komponen sikap meliputi pengetahuan, pendapat, pikiran,
keyakinan dan perasaan-perasaan dan kecenderungan bertindak. Festinger dalam
Walgito (2006) mengemukakan bahwa sikap individu biasanya konsisten satu dengan
yang lain dan juga dalam tindakan konsisten satu dengan yang lain. Akan tetapi
bagi petani sikap dan tindakan bisa konsisten apabila inovasi yang diyakininya
dapat memberikan manfaat dan keuntungan, apabila suatu inovasi tersebut tidak
memberikan manfaat maka sikapnya dapat berubah pada inovasi yang lain.
Perubahan sikap dapat secara langsung maupun tidak langsung. Perubahan sikap
secara langsung dalam arti adanya hubungan secara langsung antara individu
dengan individu, antara individu dengan kelompok, dan natara kelompok dengan
kelompok. Sedangkan melalui hubungan tidak langsung adalah dengan perantaraan
alat media komunikasi massa, baik cetak maupun elektronik (Walgito, 2006).
Dalam psikologi komunikasi peranan media komunikasi (Rakhmat, 1989) menjelaskan
bahwa media massa mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam perubahan sikap
petani terhadap adopsi inovasi teknologi pertanian.
Dewasa ini banyak psikologi sosial
berasumsi bahwa diantara faktor-faktor lain, perilaku dipengaruhi oleh
tujuannya. Tujuan perilaku ini tidak hanya dipengaruhi oleh sikap seseorang,
tetapi juga oleh harapan lingkungan sosialnya, terhadap perilaku tersebut,
norma-norma subyektif, serta kemampuanya untuk melakukan perilaku itu, yaitu
penilaian perilaku sendiri (Van den Ban dan Hawkins, 2000). Perubahan penerapan
atau adopsi teknologi oleh petani dari sistem tradisional ke sistem modern
merupakan salah satu bentuk yang namapk dari perubahan sikap dan perilaku
petani. Perubahan sikap petani terhadap adopsi teknologi dipengaruhi oleh
proses interkasi dan komunikasi dalam sistem sosial. Untuk memperoleh informasi
seorang individu petani selalu mengadakan interkasi, komunikasi, dan belajar
sosial tentang suatu teknologi yang dibutuhkan.
Teori Ronsenberg mengatakan bahwa sikap
dapat berubah jika terjadi perubahan komponen kognitif dan komponen afektif.
Apabila komponen kognitif berubah, maka komponen afektif akan berubah yang pada
akhirnya perilaku juga berubah. Sebaliknya apabila komponen afektif, maka
komponen kognitifnya juga berubah dan perilaku akan berubah (Walgito, 2006).
Afektif atau afek adalah suatu
penilaian positif atau negatif terhadap suatu obyek (Azwar, 2002). Berkaitan
dengan adopsi teknologi, seorang individu petani akan selalu menilai suatu
inovasi teknologi terhadap kemampuannya, ksesuaian terhadap kondisi lingkungan,
tujuan yang ingin dicapai serta norma-norma dalam masyarakat. Terdapat
keterkaitan antara perilaku, karekateristik individu dan lingkungan. Sehubungan
dengan hal tersebut Kurt Lewin merumuskan model hubungan perilaku yang
mengatakan bahwa perilaku (B) adalah fungsi dari karakteristik individu (P) dan
lingkungan (E) (Azwar, 2002; Walgito, 2006). Hal serupa juga dikemukakan oleh
Ajzen dan Fishbein dalam Azwar (2002) yang mencoba melihat perilaku yang
dilakukan atas kemauan sendiri dengan berdasarkan pada asumsi-asumsi (a) bahwa
manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara yang masuk akal; (b) bahwa
manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada; (c) bahwa secara eksplisit
maupun implisit manusia memperhitungkan implikasi tindakan mereka.
2.3
Perilaku Petani Terhadap Adopsi Inovasi
Inovasi adalah suatu gagasan, praktek,
atau obyek yang di rasa baru oleh seseorang. Ini merupakan suatu cara yang baru
dalam melakukan sesuatu tindakan (Rogers, 1983). Aspek dari corak baru suatu
inovasi dinyatakan dalam pengetahuan, sikap, atau suatu keputusan untuk
menggunakannya.
Proses adopsi inovasi merupakan proses
kejiwaan/mental yang terjadi pada diri petani pada saat menghadapi suatu
inovasi, dimana terjadi proses penerapan suatu ide baru sejak diketahui atau
didengar sampai diterapkannya ide baru tersebut. Pada proses adopsi akan
terjadi perubahan-perubahan dalam perilaku sasaran umumnya akan menentukan
suatu jarak waktu tertentu. Cepat lambatnya proses adopsi akan tergantung dari
sifat dinamika sasaran.
Rogers (1983) adopsi adalah proses mental, dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak ide baru dan menegaskan lebih lanjut tentang penerimaan dan penolakan ide baru tersebut. Adopsi juga dapat didefenisikan sebagai proses mental seseorang dari mendengar, mengetahui inovasi sampai akhirnya mengadopsi. Adopsi adalah suatu proses dimulai dan keluarnya ide-ide dari satu pihak, disampaikan kepada pihak kedua, sampai ide tersebut diterima oleh masyarakat sebagai pihak kedua. Selanjutnya menurut Mardikanto (1993) adopsi dalam penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan, sikap, maupun keterampilan pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan penyuluh kepada sasarannya. Penerimaan disini mengandung arti tidak sekedar “tahu” tetapi dengan benar-benar dapat dilaksanakan atau diterapkan dengan benar serta menghayatinya. Penerimaan inovasi tersebut, biasanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain sebagai cerminan dari adanya perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Herianto (2005) menjelaskan dari sisi intensitas adopsi yaitu tingkat penggunaan inovasi. Adopsi suatu inovasi baru biasanya diukur dari persentase penerapan komponen inovasi dari usaha tani tertentu pada persatuan luas lahan. Bulu (2010) menjelaskan bahwa tingkat adopsi inovasi dapat diukur dari kualitas adopsi dan kuantitas adopsi. Kualitas adopsi diartikan sebagai ketepatan dalam menerapkan komponen inovasi dari usaha tani tertentu secara sempurna. Kuantitas adopsi adalah jumlah penerapan komponen inovasi dari usaha tani tertentu sesuai anjuran. Pada situasi kondisi tertentu atau kondisi dari pengadopsi itu sendiri yang tidak memungkinkan sehingga tidak semua komponen inovasi dari usaha tani tertentu dapat diadopsi.
Rogers (1983) adopsi adalah proses mental, dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak ide baru dan menegaskan lebih lanjut tentang penerimaan dan penolakan ide baru tersebut. Adopsi juga dapat didefenisikan sebagai proses mental seseorang dari mendengar, mengetahui inovasi sampai akhirnya mengadopsi. Adopsi adalah suatu proses dimulai dan keluarnya ide-ide dari satu pihak, disampaikan kepada pihak kedua, sampai ide tersebut diterima oleh masyarakat sebagai pihak kedua. Selanjutnya menurut Mardikanto (1993) adopsi dalam penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan, sikap, maupun keterampilan pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan penyuluh kepada sasarannya. Penerimaan disini mengandung arti tidak sekedar “tahu” tetapi dengan benar-benar dapat dilaksanakan atau diterapkan dengan benar serta menghayatinya. Penerimaan inovasi tersebut, biasanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain sebagai cerminan dari adanya perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Herianto (2005) menjelaskan dari sisi intensitas adopsi yaitu tingkat penggunaan inovasi. Adopsi suatu inovasi baru biasanya diukur dari persentase penerapan komponen inovasi dari usaha tani tertentu pada persatuan luas lahan. Bulu (2010) menjelaskan bahwa tingkat adopsi inovasi dapat diukur dari kualitas adopsi dan kuantitas adopsi. Kualitas adopsi diartikan sebagai ketepatan dalam menerapkan komponen inovasi dari usaha tani tertentu secara sempurna. Kuantitas adopsi adalah jumlah penerapan komponen inovasi dari usaha tani tertentu sesuai anjuran. Pada situasi kondisi tertentu atau kondisi dari pengadopsi itu sendiri yang tidak memungkinkan sehingga tidak semua komponen inovasi dari usaha tani tertentu dapat diadopsi.
Sehubungan dengan itu Rogers (1983) dan
Ray, (1998), mengemukakan lima tahap proses adopsi yaitu: (1) Awareness (tahu
dan sadar), pertama kali mendapat suatu ide dan praktek baru, (2) Interest
(minat), mencari rintisan informasi, (3) Evaluation (evaluasi), menilai manfaat
inovasi yaitu penilaian tentang untung ruginya sesuatu inovasi bila ia
melaksanakannya (mudah dikerjakan), (4) Trial (mencoba), mencoba menerapkan
ivovasi pada skala kecil, (5) Adoption (adopsi), menerapkan inovasi pada skala
besar pada usahataninya.
Lima tahap inovasi ini bukan merupakan pola kaku yang pasti diikuti oleh petani, tetapi sekedar menunjukkan adanya lima urutan yang sering ditemukan oleh peneliti maupun penyuluh. Peneliti menunjukkan perlunya waktu yang lama antara saat pertama kali petani mendengar suatu inovasi dengan saat melakukan adopsi.
Lima tahap inovasi ini bukan merupakan pola kaku yang pasti diikuti oleh petani, tetapi sekedar menunjukkan adanya lima urutan yang sering ditemukan oleh peneliti maupun penyuluh. Peneliti menunjukkan perlunya waktu yang lama antara saat pertama kali petani mendengar suatu inovasi dengan saat melakukan adopsi.
Pengklasifikasian kelompok pengadopsi
berikut persentasenya ditunjukkan dalam Gambar simpangan baku (standar deviasi)
dari rata-rata dijadikan ukuran atau garis pembatas kelompok inovator,
pengadopsi awal, mayoritas awal, mayoritas lambat dan kelompok lamban.
Kategorisasi tersebut memberikan gambaran keragaman sikap dan perilaku individu
petani dalam proses adopsi inovasi teknologi.
Sumber informasi yang digunakan dalam
setiap tahap proses adopsi yang menunjukkan urutan peringkat dimana peranan
media masa dan komunikasi sosial dalam proses adopsi teknologi. Komunikasi
sosial hampir terdapat pada semua tahapan proses adopsi. Rogers (1983)
mempertimbangkan bahwa tingkat adopsi dari suatu inovasi tergantung pada
persepsi adopter tentang karakteristik teknologi tersebut. Lima atribut yang
mendukung penjelasan tingkat adopsi dari suatu inovasi meliputi: (1) keuntungan
relatif, (2) kecocokan, (3) kompleksitas, (4) trialabilitas, dan (5)
observabilitas.
Keuntungan relatif: Keuntungan relatif
menjadi tingkat yang mana suatu inovasi dirasa lebih baik daripada menggantikan
gagasan yang baru. Kecocokan: Kecocokan menjadi tingkat yang mana suatu inovasi
dirasa konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu, dan potensi
kebutuhan adopter. Kompleksitas: Kompleksitas merupakan tingkatan di mana suatu
inovasi dirasa lebih lanjut secara relatif sukar untuk dipahami dan digunakan.
Trialabilitas: "Trialabilitas merupakan tingkatan di mana suatu inovasi
mungkin dicoba dengan pada suatu basis terbatas." Trialabilitas merupakan
tingkatan di mana suatu inovasi mungkin dicoba pada suatu basis terbatas.
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Adopsi Inovasi
Ada beberapa hasil penelitian yang menunjukkan adanya
faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi. Suparlan (1981) menyatakan
bahwa adopsi inovasi dipengaruhi oleh (a) tidak bertentangan dengan pola
kebudayaan yang telah ada, (b) struktur sosial masyarakat dan pranata sosial,
dan (c) persepsi masyarakat terhadap inovasi. Kecepatan proses adopsi
dipengaruhi oleh klasifikasi pengadopsi, ciri-ciri pribadi, sosial, budaya dan
lingkungan serta sumber informasi. Selain faktor-faktor yang telah diuraikan di
atas Lionberger dalam Cambell dan Barker (1997) mengatakan bahwa faktor lain
yang mempengaruhi adopsi teknologi antara lain, variabel internal (personal),
variabel eksternal (situasional) dan variabel kelembagaan (pendukung). Menurut
Bulu (2008), melaporkan bahwa faktor-faktor karekateristik pribadi, seperti
sikap, motivasi, dan pengetahuan bukan lagi faktor dominan yang mempengaruhi
tingkat adopsi inovasi. Lebih lanjut mengatakan bahwa faktor dominan yang
mempengaruhi tingkat adopsi inovasi pertanian adalah faktor sosial (modal
sosial). Modal sosial merupakan salah satu faktor utama yang mampu menggerakkan
semua elemen dalam proses adopsi inovasi. Modal sosial yang semakin kuat secara
konsisten meningkat adopsi inovasi pertanian. Sebaliknya tingkat adopsi inovasi
yang semakin tinggi secara konsisten memperkuat modal sosial dalam proses
adopsi inovasi pertanian. Dengan demikian antara modal sosial dan tingkat
adopsi inovasi pertanian mempunyai hubungan timbal balik (saling mempengaruhi)
(Bulu, 2008).
2.5 Proses Difusi Inovasi Sebagai suatu
Jaringan
Difusi inovasi diartikan sebagai suatu proses dimana
dikomunikasikannya inovasi kepada petani dalam suatu sistem sosial melalui
saluran-saluran komunikasi tertentu, pada suatu kurung waktu tertentu pula
(Ray, 1998). Dengan demikian difusi inovasi merupakan salah satu bentuk proses
komunikasi antar pihak pengirim dan penerima informasi melalui jaringan
tertentu baik jaringan komunikasi maupun kerjasama, sehingga dicapai pengertian
yang sama mengenai informasi yang dikomunikasikan. Difusi adalah proses dimana
inovasi dikomunikasikan melalui saluran-saluran tertentu dari waktu ke waktu
diantara anggota sistem sosial (Van Den Ban dan Hawkins, 2000; Cruz, 1987 dalam
Valera, 1987).
Saluran-saluran yang digunakan dalam menggkomunikasi pesan
inovasi merupakan suatu jaringan-jaringan. Informasi inovasi yang
dikomunikasikan itu mengacu kepada adanya pemikiran baru, yaitu inovasi
sendiri, namun harus mampu memberikan kepercayaan (trust) dan keyakinan bagi
pengguna yang menerima informasi tersebut.. Berlangsungnya proses difusi
inovasi sebenarnya tidak berbeda dengan proses adopsi inovasi. Dari beberapa
pengertian di atas, maka difusi inovasi pertanian diartikan sebagai preses
penyebaran inovasi pertanian dari petani yang sudah mengadopsi kepada petani
yang belum mengadopsi melalui saluran komunikasi tertentu pada suatu sistem
sosial yang sama dalam dimensi waktu yang tertentu.
Difusi dari suatu inovasi mengacu pada keseluruhan proses dimana inovasi yang di gelar antar petani sampai sejumlah besar petani sudah mengadopsi. Bukan untuk mengetahui bagaimana petani tertentu bergerak secara bertahap ke arah adopsi, tetapi bagaimana suatu inovasi dapat diadopsi oleh banyak petani. Kecepatan proses difusi inovasi sangat tergantung pada pemanfaatan modal sosial melalui jaringan-jaringan dalam pertukaran informasi inovasi.
Rogers dan Shoemaker (1971) dalam Valera et al., (1987), menunjukkan unsur-unsur yang rumit di dalam difusi dari gagasan baru; dimana inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu, dari waktu ke waktu di antara anggota suatu sistem sosial.
Difusi dari suatu inovasi mengacu pada keseluruhan proses dimana inovasi yang di gelar antar petani sampai sejumlah besar petani sudah mengadopsi. Bukan untuk mengetahui bagaimana petani tertentu bergerak secara bertahap ke arah adopsi, tetapi bagaimana suatu inovasi dapat diadopsi oleh banyak petani. Kecepatan proses difusi inovasi sangat tergantung pada pemanfaatan modal sosial melalui jaringan-jaringan dalam pertukaran informasi inovasi.
Rogers dan Shoemaker (1971) dalam Valera et al., (1987), menunjukkan unsur-unsur yang rumit di dalam difusi dari gagasan baru; dimana inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu, dari waktu ke waktu di antara anggota suatu sistem sosial.
Saluran komunikasi digunakan oleh agen perubahan untuk
menyebarkan suatu inovasi kepada para klien nya. Saluran media massa adalah
yang sering dan paling cepat, merupakan suatu alat yang efisien untuk
menjangkau sejumlah besar pendengar atau petani. Saluran hubungan antar pribadi
(interpersonal), atau komunikasi tatap muka satu persatu dari klien, memang
lebih efektif ketika orang ingin menciptakan suatu sikap baik ke arah suatu
inovasi.
Waktu adalah suatu faktor penting dalam proses difusi. Dimensi waktu di dalamnya meliputi:
Waktu adalah suatu faktor penting dalam proses difusi. Dimensi waktu di dalamnya meliputi:
•Proses keputusan inovasi (adopsi), dimana seseorang melalui
pengetahuan pertama menyangkut inovasi sampai pada penolakan atau adopsi;
•Inovatif dari individu, merupakan hubungan kekeluargaan antara
pengadopsi awal – pengadopsi akhir dimana seseorang mengadopsi suatu inovasi
ketika membandingkan dengan anggota sistem sosial lain;
•Penentuan tingkat adopsi, di mana pada umumnya di ukur oleh
banyaknya anggota sistem yang sudah mengadopsi inovasi itu.
Sistem sosial mengacu pada tempat atau masyarakat. Struktur
sistem sosial dapat mempunyai suatu pengaruh penting atas gagasan baru.
Struktur sistem sosial dapat menghalangi/merintangi atau memudahkan tingkat
adopsi dan difusi dari gagasan baru. Norma-Norma, status sosial, peran, posisi,
hirarki, dan seterusnya suatu sistem sosial dapat mempengaruhi perilaku dari
individu. Model perubahan yang berpengaruh, merupakan kombinasi dari teori
Rogers mengenai perilaku manusia dalam proses adopsi dan teori Lewis tentang
keseimbangan (Berton, 1972 dalam Ray, 1998).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar