I.
PENDAHULUAN
Gejala adalah ekspresi dari inang yang rentan terhadap
kondisi patologik dimana suatu penyakit tertentu dapat dibedakan dengan
penyakit lain . secara umum gejala penyakit tumbuhan digolongkan pada tiga
kelompok besar yaitu nekrotik, hipoplasia, dan hiperplasia. Gejala nekrotik
ditandai dengan adanya kematian sel atau jaringan tanaman yang terserang
patogen seperti gejala bercak, hawar, layu, busuk, mati pucuk, dan lain
sebagainya . Gejala hipoplasia adalah
menunnjukan adanya penghambatan pertumbuhan dari tanaman yang terserang patogen
seperti kerdil, mosaik, etiolasi, dan sebagainya. Gejala hiperplasia adalah
gejala penyakit yang menunjukan adanya pertumbuhan yang berlebihan dari tanaman
terserang patogen seperti puru,kudis, pustul, keriting , dan lain sebagainnya .
·
Tujuan
Praktikum
Memberikan pengalaman lapangan kepada mahasiswa dalam mengenali jenis
penyakit tumbuhan dari gejala yang nampak pada tumbuhan yang terserang patogen.
·
Manfaat
praktikum
Dapat mengenali secara langsung penyakit yang terserang pada suatu
komoditi tertentu.
·
Lokasi
dan waktu pelaksanaan praktikum
Lokasi praktikum penyakit tanaman ini bertempat pada lahan komoditi
jagung di kawasan pertamina cibiru . waktu pelaksanaan praktikum hari
II.
POKOK BAHASAN
Pengenalan
jenis penyakit tumbuhan dari gejala yang nampak pada tumbuhan yang
terserang patogen.
III.
LOKASI PRAKTIKUM
Lokasi
praktikum penyakit tanaman ini bertempat pada lahan komoditi jagung di kawasan
cibiru kota Bandung.
IV.
LANGKAH KERJA
·
ALAT DAN BAHAN
ü Alat tulis
ü Pinset
ü Kamera
ü Alkohol 95%
ü Lahan jagung
I.
PEMBAHASAN
1
Penyakit karat daun ( Rust )
·
Gejala
Puccinia polysora membentuk irediosorus bulat atau
jorong. Di lapangan kadang-kadang epidermis tetap mempunyai urediosorus sampai
matang. Tetapi ada kalanya epidermis pecah dan mass spora dalam jumlah besar
menjadi tampak. Setelah terbuaka urediosorus berwarna jingga atau jingga tua.
Jamuur membeuntuk banyak urediosorus pada daun dan kadang-kadang pada upih
daun. Karena adanya sorus ini permukaan atas daun menjadi kasar. Pada tingkatan
yang jauh penyakit karat menyebakan mengeringnya bagian-bagian daun. Puccinia sorghi membentuk
urediosorus panjang atau bulat panjang pada daun. Epidermis pecah sebagian dan
massa spora dibebaskan yang menyebabkan urediosorus berwarna coklat atau coklat
tua. Urediosorus yang masak berubah menjadi hitam bila teliospora terbentuk.
·
Daur
penyakit
P.polysora mempertahankan diri dari musim ke
musim pada tanaman jagung hidup yang selalu terdapat, dan dipencarkan olah
uredyiospora. Spora ini dapat diterbangkan jauh oleh angin dengan tetap hidup,
karena kering dan mempunyai dinding yang cukup tebal. Jamur ini mempunnyai dua
marga yang mempunyai hubungn dekat dengan jagung, yaitu Euchlaena dan Tripsacum antara lain E.mexicana dan T.laxum. kedua macam tanaman ini
pelatif jarang terdapat, sehingga kurang memegang peran dalam pemencaran P.polysora. rumput Guatemala sering
di tanam di kebun-kebun the sebagai sumber bahan organic. Jamur karat tidak
dapat hidup sebagai saprofit, sehingga tidak dapat mempertahankan diri pada
sisa-sisa tanaman jagung . tidak terdapat bahwa jamur ini mempertahankan diri
dalam biji yang dihasilkan pada tanaman sakit. P.sorghi
terutama juga mempertahankan diri pada tanaman jagung yang masih
hidup, dandipencarkan pada urediospora yang dapat terangkut jarak jauholeh
angin dengan tetap hidup. Selain pada jagung, jamur ini telah dijertahui
membentuk uredium dan telium pada Euchlaenamexicana . P.sorghi membentuk
piknidium dan aesium pada Oxalis. Namun
sampai sekarang peran Oxalis yang
abnyak terdapat sebagai gulma di pegunungan dan sering terserang oleh P.sorghi dalam pemencaran penyakit
karat pada jagung belum diketahui dengan pasti. Sampai sekarang di Indonesia
belum pernah dilakukan percobaan infeksi pada tanaman jagung dengan memekai
aesiospora jamur karat Oxalis.
·
Faktor-faktor yang mempengaruhi
penyakit
P.polysora terutama merugikan di daerah basah di
tropika. Urediospora palinh banyak dipoencarkanmenjelang tengah hari. Suhu
optimum untuk pekecambahan urediospora adalah 27-280C. pada suhu ini
uredium terbentuk 9 hari setelah infeksi. Jamur mengadakan infeksi melalui
mulut kulit. Penyekit dipengruhi oleh jenis tanaman jagung. Telah diketahui
bahwa kwtahanan terhadap P.polysora
ditentukan oleh gen-gen dominan atau dominan yang tidak penuh. P.sorghi terutama terdapat pada
suhu yang agak rendah, di daerah pegunungan tropika atau di daerah beriklim
sedang. Penyakit ini dibantu oleh suhu 16-230C. urediospora terdapat
di udara paling banyak di waktu siang, pada tengah hari dan setelah tengah
hari. Infeksi terjadi melalui mulut kulit, pada umumnya dengan pembentukan
apresorium.
Ketahanan tanaman jagung terhadap P.sorghi ternyata sangat kompleks,
ada yang ditentukan oleh gen dominan, gen dominan yang tidak penuh, tetapi ada
juga yang ditentukan oleh gen resesif. Menurut pengujian Sudjono di Bogor
diketahui bahwa XCI 47, XCJ 33, TCKUJ 1414,TC arren CI-23-3, Pool 168, dan
Arjuna tahan terhadap P.polysora.
seterusnya Sudjono menyatakan bahwa jenis Kalingga, Arjuna, Wiyasa, dan
Pioner-2 tahan terhdap karat, sedangkan hibrida C1 terbukti rentan.
2.
Penyakit bercak Daun
Gejala : Lesio pada daun jagung biasanya
memanjang di antara tulang daun dengan warna coklat muda danukuran
mencapai 1,2 x 2,7 cm, berbentuk elip (hawar/bercak daun maydis/carbonum/
rostratum).Lesio sering dikelilingi oleh warna coklat dan
dapat terjadi di batang, upih daun, dan tongkol.Tanaman yang tumbuh dari biji terinfeksi akan layu dan mati pada umur
3-4 minggu.
Penyebab
penyakit bercak daun pada tanaman jagung adalah Bipolaris maydis
(Nisik) Shoemaker,yang sinonim
dengan Drechslera maydis (Nisik) Subran dan Jani. Stadia sempurnanya
adalahCochliobolus heterostrophus Drecks. Perbedaan ras telah dilaporkan oleh
Shurtleff (1980) dengan nama ras O dan T.
Siklus Hidup : Dalam kondisi tidak ada tanaman jagung
di areal pertanaman, miselium dan spora jamur Bipolarisdapat bertahan hidup
pada sisa tanaman dan biji terinfeksi. Konidia (Gambar 2b) diterbangkan
olehangin atau terbawa percikan air untuk sampai ke tanaman baru. Siklus hidup
lengkapnya mencapai60-72 jam (Shurtleff 1980). Pada pertanaman jagung manis
yang ditanam setiap bulan sepanjangtahun di Maros, Sulawesi Selatan, penyakit
bercak daun Bipolaris selalu terjadi sepanjang tahun,dengan intensitas yang
berfluktuasi karena pengaruh curah hujan (Wakman dan Kontong 1997).Jamur
Bipolaris berkembang baik pada keadaan udara lembab dengan suhu 20-32oC. Adakecenderungan bahwa B. maydis umumnya dijumpai daerah dataran rendah.
3.
Penyakit Busuk Tongkol
Gejala : Kelobot yang terinfeksi pada umumnya
berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut
jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium
berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi
dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan
biji dan menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan
piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapangan. Gejala busuk
tongkol Diplodia disebabkan
oleh infeksi cendawan Diplodia
maydis.
II.
KESIMPULAN
Adanya 3 penyakit yang kami temukan pada lahan jagung yaitu :
penyakit busuk buah, penyakit karat, dan penyakit bercak daun .Penyakit busuk
tongkol disebabkannya oleh adanya Cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain
Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Penyakit karat diebabkan oleh Cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia
polypora Underw. Dan penyakit bercak daun disebabkan oleh cendawan
Helminthosporium turcicum.
III.
DAFTAR PUSTAKA
·
Diakses
Pada Tanggal 10 November 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar