Minggu, 02 Desember 2012

PRAKTIKUM 2 HAMA PENYAKIT TANAMAN



I.                     PENDAHULUAN
Gejala adalah ekspresi dari inang yang rentan terhadap kondisi patologik dimana suatu penyakit tertentu dapat dibedakan dengan penyakit lain . secara umum gejala penyakit tumbuhan digolongkan pada tiga kelompok besar yaitu nekrotik, hipoplasia, dan hiperplasia. Gejala nekrotik ditandai dengan adanya kematian sel atau jaringan tanaman yang terserang patogen seperti gejala bercak, hawar, layu, busuk, mati pucuk, dan lain sebagainya . Gejala  hipoplasia adalah menunnjukan adanya penghambatan pertumbuhan dari tanaman yang terserang patogen seperti kerdil, mosaik, etiolasi, dan sebagainya. Gejala hiperplasia adalah gejala penyakit yang menunjukan adanya pertumbuhan yang berlebihan dari tanaman terserang patogen seperti puru,kudis, pustul, keriting , dan lain sebagainnya .
·         Tujuan Praktikum
Memberikan pengalaman lapangan kepada mahasiswa dalam mengenali jenis penyakit tumbuhan dari gejala yang nampak pada tumbuhan yang terserang patogen.
·         Manfaat praktikum
Dapat mengenali secara langsung penyakit yang terserang pada suatu komoditi tertentu.
·         Lokasi dan waktu pelaksanaan praktikum
Lokasi praktikum penyakit tanaman ini bertempat pada lahan komoditi jagung di kawasan pertamina cibiru . waktu pelaksanaan praktikum hari

II.                  POKOK BAHASAN
Pengenalan jenis penyakit tumbuhan dari gejala yang nampak pada tumbuhan yang terserang  patogen.
III.                LOKASI PRAKTIKUM
Lokasi praktikum penyakit tanaman ini bertempat pada lahan komoditi jagung di kawasan cibiru kota Bandung.
IV.               LANGKAH KERJA
·                     ALAT DAN BAHAN
ü  Alat tulis
ü  Pinset
ü  Kamera
ü  Alkohol 95%
ü  Lahan jagung 



I.                    PEMBAHASAN
1        Penyakit karat daun ( Rust )
·         Gejala
Puccinia polysora membentuk irediosorus bulat atau jorong. Di lapangan kadang-kadang epidermis tetap mempunyai urediosorus sampai matang. Tetapi ada kalanya epidermis pecah dan mass spora dalam jumlah besar menjadi tampak. Setelah terbuaka urediosorus berwarna jingga atau jingga tua. Jamuur membeuntuk banyak urediosorus pada daun dan kadang-kadang pada upih daun. Karena adanya sorus ini permukaan atas daun menjadi kasar. Pada tingkatan yang jauh penyakit karat menyebakan mengeringnya bagian-bagian daun. Puccinia sorghi membentuk urediosorus panjang atau bulat panjang pada daun. Epidermis pecah sebagian dan massa spora dibebaskan yang menyebabkan urediosorus berwarna coklat atau coklat tua. Urediosorus yang masak berubah menjadi hitam bila teliospora terbentuk.

·         Daur penyakit
P.polysora mempertahankan diri dari musim ke musim pada tanaman jagung hidup yang selalu terdapat, dan dipencarkan olah uredyiospora. Spora ini dapat diterbangkan jauh oleh angin dengan tetap hidup, karena kering dan mempunyai dinding yang cukup tebal. Jamur ini mempunnyai dua marga yang mempunyai hubungn dekat dengan jagung, yaitu Euchlaena dan Tripsacum antara lain E.mexicana dan T.laxum. kedua macam tanaman ini pelatif jarang terdapat, sehingga kurang memegang peran dalam pemencaran P.polysora. rumput Guatemala sering di tanam di kebun-kebun the sebagai sumber bahan organic. Jamur karat tidak dapat hidup sebagai saprofit, sehingga tidak dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman jagung . tidak terdapat bahwa jamur ini mempertahankan diri dalam biji yang dihasilkan pada tanaman sakit. P.sorghi terutama juga mempertahankan diri pada tanaman jagung yang masih hidup, dandipencarkan pada urediospora yang dapat terangkut jarak jauholeh angin dengan tetap hidup. Selain pada jagung, jamur ini telah dijertahui membentuk uredium dan telium pada Euchlaenamexicana . P.sorghi membentuk piknidium dan aesium pada Oxalis. Namun sampai sekarang peran Oxalis yang abnyak terdapat sebagai gulma di pegunungan dan sering terserang oleh P.sorghi dalam pemencaran penyakit karat pada jagung belum diketahui dengan pasti. Sampai sekarang di Indonesia belum pernah dilakukan percobaan infeksi pada tanaman jagung dengan memekai aesiospora jamur karat Oxalis.
·         Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit
P.polysora terutama merugikan di daerah basah di tropika. Urediospora palinh banyak dipoencarkanmenjelang tengah hari. Suhu optimum untuk pekecambahan urediospora adalah 27-280C. pada suhu ini uredium terbentuk 9 hari setelah infeksi. Jamur mengadakan infeksi melalui mulut kulit. Penyekit dipengruhi oleh jenis tanaman jagung. Telah diketahui bahwa kwtahanan terhadap P.polysora ditentukan oleh gen-gen dominan atau dominan yang tidak penuh. P.sorghi terutama terdapat pada suhu yang agak rendah, di daerah pegunungan tropika atau di daerah beriklim sedang. Penyakit ini dibantu oleh suhu 16-230C. urediospora terdapat di udara paling banyak di waktu siang, pada tengah hari dan setelah tengah hari. Infeksi terjadi melalui mulut kulit, pada umumnya dengan pembentukan apresorium.
Ketahanan tanaman jagung terhadap P.sorghi ternyata sangat kompleks, ada yang ditentukan oleh gen dominan, gen dominan yang tidak penuh, tetapi ada juga yang ditentukan oleh gen resesif. Menurut pengujian Sudjono di Bogor diketahui bahwa XCI 47, XCJ 33, TCKUJ 1414,TC arren CI-23-3, Pool 168, dan Arjuna tahan terhadap P.polysora. seterusnya Sudjono menyatakan bahwa jenis Kalingga, Arjuna, Wiyasa, dan Pioner-2 tahan terhdap karat, sedangkan hibrida C1 terbukti rentan.

2.      Penyakit bercak Daun
Gejala : Lesio pada daun jagung biasanya memanjang di antara tulang daun dengan warna coklat muda danukuran mencapai 1,2 x 2,7 cm, berbentuk elip (hawar/bercak daun maydis/carbonum/ rostratum).Lesio sering dikelilingi oleh warna coklat dan dapat terjadi di batang, upih daun, dan tongkol.Tanaman yang tumbuh dari biji terinfeksi akan layu dan mati pada umur 3-4 minggu.
Penyebab penyakit bercak daun pada tanaman jagung adalah Bipolaris maydis (Nisik) Shoemaker,yang sinonim dengan Drechslera maydis (Nisik) Subran dan Jani. Stadia sempurnanya adalahCochliobolus heterostrophus Drecks. Perbedaan ras telah dilaporkan oleh Shurtleff (1980) dengan nama ras O dan T.

Siklus Hidup : Dalam kondisi tidak ada tanaman jagung di areal pertanaman, miselium dan spora jamur Bipolarisdapat bertahan hidup pada sisa tanaman dan biji terinfeksi. Konidia (Gambar 2b) diterbangkan olehangin atau terbawa percikan air untuk sampai ke tanaman baru. Siklus hidup lengkapnya mencapai60-72 jam (Shurtleff 1980). Pada pertanaman jagung manis yang ditanam setiap bulan sepanjangtahun di Maros, Sulawesi Selatan, penyakit bercak daun Bipolaris selalu terjadi sepanjang tahun,dengan intensitas yang berfluktuasi karena pengaruh curah hujan (Wakman dan Kontong 1997).Jamur Bipolaris berkembang baik pada keadaan udara lembab dengan suhu 20-32oC. Adakecenderungan bahwa B. maydis umumnya dijumpai daerah dataran rendah.

3.      Penyakit Busuk Tongkol
Gejala : Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut  jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot.  Infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapangan. Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.

II.                  KESIMPULAN
Adanya 3 penyakit yang kami temukan pada lahan jagung yaitu : penyakit busuk buah, penyakit karat, dan penyakit bercak daun .Penyakit busuk tongkol disebabkannya oleh adanya Cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Penyakit karat diebabkan oleh Cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw. Dan penyakit bercak daun disebabkan oleh cendawan Helminthosporium turcicum.

III.                DAFTAR PUSTAKA
·         Diakses Pada Tanggal 10 November 2012
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar