Minggu, 02 Desember 2012

PRAKTIKUM I Dinamika Populasi dan Identifikasi Hama



I.                    PENDAHULUAN
Serangga menjadi hama pabila mereka bertambah banyak sehingga mengakibatkan kerugian bagi manusia. Dinamika populasi adalah studi tentang kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi dalam populasi untuk kurun waktu tertentu. Apabila spesies hama telah berhasil diidentifikasi maka perlu kita mengelompokan hama menurut statusnya. Pengelompokan hama yang sering digunakan adalah membagi hama menurut kisaran bahaya yang diakibatkannya yaitu sebagai berikut :
-          Hama utama merupakan hama yang pada kurun waktu lama selalu menyerang pada suatu daerah dengan intensitas serangan yang berat sehingga memerlukan usaha pangendalian yang besar.
-          Hama minor merupakan jenis dimana kerusakan yang diakibatkannya masih dapat ditoleransi oleh tanaman.
-          Hama potensial merupakan sebagian besar janis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam memperoleh makanan.
-          Hama migran adalah hama yang tidak berasal dari agro-ekosistem setempat, tetapi datang dari luar karena sifatnya yang berpindah-pindah.
Populasi setiap organisme pada suatu ekosistem tidak pernah sama dari waktu ke waktu, tetapi naik turun yang berkirsar sekitar garis asimot yang sering disebut dengan kedudukan keseimbangan populasi.
·         Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengidentifikasi dan mengelompokan hama (hama utama,hama minor, hama potensial, dan hama migran), serta dapat menghitung perkembangan populasi hama dan intensitas kerusakan yang diakibatkan oleh hama tersebut dalam suatu ekosistem tanaman. Dalam praktikum ini mahasiswa mampu mengelola pengendalian hama terpadu berdasarkan konsep aras ekonomi.
·         Manfaat Praktikum
Mahasiswa menambah wawasan mengenai populasi hama utama, hama minor, hama potensial, dan hama migran pada suatu komoditi tertentu serta dapat menghitung populasi hama tersebut .
II.                  POKOK BAHASAN
Pengelompokan hama, perhitungan populasi hama dan keruskan yang diakibatkan oleh hama, serta aras keputusan ekonomi pengendalian hama.
III.                LOKASI PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan pada lahan tanaman jagung bertempat di daerah cibiru, kota Bandung.
IV.               BAHAN DAN ALAT
·         Jaring penangkap hama
·         Botol film untuk penyimpanan hama dari lapangan
·         Kamera
·         Alkohol 95 %
LANGKAH KERJA
·         Tetapkan wilayah pengamatan, boleh secara sampeling ataupun pengamatan secara keseluruhan.
·         Carilah hama yang terdapat pada wilayah tersebut.
·         Identifikasi hama tersebut.
·         Ambilah hama yang didapat dan tempatkan dalam botol film yang telah diisi dengan alkohol 95 %
·         Apabila ditemukan fase telur, larva, pupa, coba temuka imago dari hama tersebut kemudian dianalisis dengan cara
·         Hitunglah jumlah populasi dan intersitas serangan pada suatu luasan tertentu.
·         Amati kecepatan perubahab populasi selama 3 kali pengamatan dengan interval waktu 2 hari sekali.
·         Amati dan gambarlah ( atau ambil fotonya ) jenis-jenis hama dan gejala pada tanaman dengan gambar berwarna baik dari observasi langsung di lapangan atau dari sumber-sumber pustaka.


I.                    HASIL PENGAMATAN
Pengamatan ke 1 tanggal 3 november 2012
Jenis Hama
·         Belalang 10
·         Lege
·         Kumbang
·         Lalat
·         Wereng
Pengamatan ke 2 Tanggal 6 November 2012
Jenis Hama
·         Belalang 10
·         Ulat 3
·         Kumbang 1
·         Kungkang 1
Pengamatan ke 3 Tanggal 8 November 2012
Jenis Hama
·         Belalang 8
·         Kumbang 1
·         Lalat 1
 
I.                    PEMBAHASAN
·         Identifikasi jenis hama jagung
Belalang daun : Hama ini merupakan salah satu faktor penghambat dalam program peningkatan produksi tanaman. Kerusakan dan kerugian yang ditimbulakan olah hama belalang kembara sangat bervariasi diikuti dengan peningkatan populasi yang tinggi. Belalang ini mempunyai sifat cenderung untuk membentuk kelompok yang besar dan suka berpindah-pindah (berimigrasi), sehingga dalam waktu yang singkat dapat menyebar pada areal yang luas. Kelompok yang berimigrasi dapat memakan tumbuhan yang dilewatinya selama dalam perjalanan. Perilaku makan belalang kembara dewasa biasanya diwaktu hinggap pada sore hari sampai malam dan pada pagi hari sebelum terbang. Kelompok Nimfa yang berimigrasi dapat memakan tumbuhan yang dilokasi selama dalam perjalanan. Belalang ini cenderung memilih makanan yang lebih disukainya, terutama spesies tumbuhan dari Famili Graminae. Dalam keadaan eksplosi juga diserang daun-daun kelapa dan tanaman dari golongan Palma lainnya. Musuh-musuh alami belalang kembara yaitu berupa penyakit parasit dan predator. Penyakit yang menyerang belalang kembara antara lain penyakit bakteri, penyakit cendawan antara lain yaitu, parasit ini dari jenis Nematoda, dan predator dari bangsa burung dan semut. Dalam keadaan populasi belalang tinggi nampaknya peranan musuh alami ini relatif rendah.
Lalat bibit (Atherigona sp) :
Ciri-ciri hama :
1.                  Imago sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah.  Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mm sampai 4,5 mm. 
2.                  Telur mulai diletakkan oleh Imago betina tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun.
3.                  Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. 
Serangan : Serangan terjadi pada tanaman yang baru tumbuh (1-2 minggu setelah tanam). Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati.

Lege (kumbang) : Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros (L)) diklasifikasikan ke dalam ordo Coleoptera, famili Scarabidae dan subfamili Dynastinae. Kumbang ini merupakan hama utama yang menyerang kelapa sawit dan sangat merugikan di Indonesia, khususnya di areal replanting yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pada areal replanting, banyak tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan sebagai tempat berkembang biak hama ini.
Siklus Hidup : Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Musim kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat perkembangan larva serta ukuran dewasa yang lebih kecil dari ukuran normal. Suhu perkembangan larva yang sesuai adalah 27oC-29oC dengan kelembapan relatif 85-95% (Bedford, 1980). Satu siklus hidup hama ini dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan. Kumbang ini mempunyai telur yang berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk telur biasanya oval kemudian mulai membengkak sekitar satu minggu setelah peletakan dan menetas pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung dalam waktu 82-207 hari. Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerut-kerut, melengkung membentuk setengah lingkaran dengan panjang sekitar 60-100 mm atau lebih (Ooi, 1988). Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir dan menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari. Pupa berwarna cokelat kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan waktu 17-28 hari. Kumbang berwarna cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-50 mm dan lebar 20-23 mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala (Wood, 1968). Jantan memiliki tanduk yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai banyak rambut pada ujung ruas terakhir abdomen dan jantan tidak (Wood, 1968). Umur betina lebih panjang dari umur jantan.
Pengendalian Biologi : Pengendalian kumbang tanduk O. rhinoceros secara biologi menggunakan beberapa agensia hayati diantaranya jamur Metarhizium anisopliae dan Baculovirus oryctes. Jamur M. anisopliae merupakan jamur parasit yang telah lama digunakan untuk mengendalikan hama O. rhinoceros. Jamur ini efektif menyebabkan kematian pada stadia larva dengan gejala mumifikasi yang tampak 2-4 minggu setelah aplikasi. Jamur diaplikasikan dengan menaburkan 20 g/m2 (dalam medium jagung) pada tumpukan tandan kosong kelapa sawit dan 1 kg/batang kelapa sawit yang telah ditumbang. Baculovirus oryctes juga efektif mengendalikan larva maupun kumbang O. rhinoceros.

Kungkang / walang sangit : Berdasarkan hasil pengamatan dari walang sangit (Leptocorixa acuta). Tersusun atas caput tungkai depan, sayap depan, sayap belakang tungkai belakang, abdomen, toraks, dan antena. Serangga ini memiliki sayap depan yang keras,tebal,dan tanpa vena. Menurut Sudarmo (2009), Ordo Coleoptera yakni Walang Sangit (Leptocorixa acuta). Secara umum morfologinya tersusun atas caput tungkai depan, sayap depan, sayap belakang tungkai belakang, abdomen, toraks, dan antena. Serangga ini memiliki sayap depan yang keras,tebal,dan tanpa vena. Kerusakan yang hebat disebabkan oleh imago yang menyerang tepat pada masa berbunga, sedangkan nimpa terlihat merusak secara nyata setelah pada instar ketiga dan seterusnya (Kalshoven, 1981). Menurut Willis (2001), tingkat serangan dan menurunnya hasil akibat serangga dewasa lebih besar dibandingkan nimfa. Suharto dan Damardjati (1988) melaporkan bahwa 5 ekor walang sangit pada tiap 9 rumpun tanaman akan merugikan hasil sebesar 15%, sedangkan 10 ekor pada 9 rumpun tanaman akan mengurangi hasil sampai 25%. Kerusakan yang tinggi biasanya terjadi pada tanaman di lahan yang sebelumnya banyak ditumbuhi rumput-rumputan serta pada tanaman yang berbunga paling akhir (Willis, 2001).
Sayap belakang membraneus dan terlipat di bawah sayap depan saat serangga istirahat. Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala. Berdasarkan pengamatan gejala serangan Walang Sangit (Leptocorixa acuta). Diperoleh pada bulir padi tampak becak bercak hitam/kecoklatan. Serangan walang sangit Walang Sangit (Leptocorixa acuta) tidak sampai menghampakan padi, tetapi menghasilkan padi berkualitas jelek (goresan – goresan membujur pada kulit gabah dan pecah apabila dilakukan penggilingan/penumbukan). Pembasmian hama dilakukan menggunakan insektisida sesuai aturan (Oka, 2009).

II.                  KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa kami dapatkan adalah adanya beberapa jenis hama yang dapat diidentifikasi . diantaranya terdapat jenis hama utama yaitu belalang daun yang kerusakannya dapat memakan daun hingga habis, lalu adanya lalat bibit yang melakukan kerusakan pada batang tanaman jagung. Dan terakhir ditemukannya hama walang sangit yang merupakan hama , kerusakan yang diakibatkan oleh adanya hama ini adalah biji pada gabah jagung menjadi hapa . 
III.                DAFTAR PUSTAKA
diakses pada tanggal 12 November 2012
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar