I.
PENDAHULUAN
Serangga menjadi hama pabila mereka bertambah banyak sehingga
mengakibatkan kerugian bagi manusia. Dinamika populasi adalah studi tentang
kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi dalam
populasi untuk kurun waktu tertentu. Apabila spesies hama telah berhasil
diidentifikasi maka perlu kita mengelompokan hama menurut statusnya.
Pengelompokan hama yang sering digunakan adalah membagi hama menurut kisaran
bahaya yang diakibatkannya yaitu sebagai berikut :
-
Hama
utama merupakan hama yang pada kurun waktu lama selalu menyerang pada suatu
daerah dengan intensitas serangan yang berat sehingga memerlukan usaha
pangendalian yang besar.
-
Hama
minor merupakan jenis dimana kerusakan yang diakibatkannya masih dapat
ditoleransi oleh tanaman.
-
Hama
potensial merupakan sebagian besar janis serangga herbivora yang saling
berkompetisi dalam memperoleh makanan.
-
Hama
migran adalah hama yang tidak berasal dari agro-ekosistem setempat, tetapi
datang dari luar karena sifatnya yang berpindah-pindah.
Populasi setiap
organisme pada suatu ekosistem tidak pernah sama dari waktu ke waktu, tetapi
naik turun yang berkirsar sekitar garis asimot yang sering disebut dengan
kedudukan keseimbangan populasi.
·
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan agar
mahasiswa mampu mengidentifikasi dan mengelompokan hama (hama utama,hama minor,
hama potensial, dan hama migran), serta dapat menghitung perkembangan populasi
hama dan intensitas kerusakan yang diakibatkan oleh hama tersebut dalam suatu
ekosistem tanaman. Dalam praktikum ini mahasiswa mampu mengelola pengendalian
hama terpadu berdasarkan konsep aras ekonomi.
·
Manfaat Praktikum
Mahasiswa menambah wawasan mengenai
populasi hama utama, hama minor, hama potensial, dan hama migran pada suatu
komoditi tertentu serta dapat menghitung populasi hama tersebut .
II.
POKOK BAHASAN
Pengelompokan hama,
perhitungan populasi hama dan keruskan yang diakibatkan oleh hama, serta aras
keputusan ekonomi pengendalian hama.
III.
LOKASI PRAKTIKUM
Praktikum ini
dilaksanakan pada lahan tanaman jagung bertempat di daerah cibiru, kota
Bandung.
IV.
BAHAN DAN ALAT
·
Jaring
penangkap hama
·
Botol
film untuk penyimpanan hama dari lapangan
·
Kamera
·
Alkohol
95 %
LANGKAH KERJA
·
Tetapkan
wilayah pengamatan, boleh secara sampeling ataupun pengamatan secara
keseluruhan.
·
Carilah
hama yang terdapat pada wilayah tersebut.
·
Identifikasi
hama tersebut.
·
Ambilah
hama yang didapat dan tempatkan dalam botol film yang telah diisi dengan
alkohol 95 %
·
Apabila
ditemukan fase telur, larva, pupa, coba temuka imago dari hama tersebut
kemudian dianalisis dengan cara
·
Hitunglah
jumlah populasi dan intersitas serangan pada suatu luasan tertentu.
·
Amati
kecepatan perubahab populasi selama 3 kali pengamatan dengan interval waktu 2
hari sekali.
·
Amati
dan gambarlah ( atau ambil fotonya ) jenis-jenis hama dan gejala pada tanaman
dengan gambar berwarna baik dari observasi langsung di lapangan atau dari
sumber-sumber pustaka.
I.
HASIL PENGAMATAN
|
Pengamatan ke 1 tanggal 3 november 2012
|
|
|
Jenis Hama
|
·
Belalang 10
·
Lege
·
Kumbang
·
Lalat
·
Wereng
|
|
Pengamatan ke 2 Tanggal 6 November 2012
|
|
|
Jenis Hama
|
·
Belalang 10
·
Ulat 3
·
Kumbang 1
·
Kungkang 1
|
|
Pengamatan ke 3 Tanggal 8 November 2012
|
|
|
Jenis Hama
|
·
Belalang 8
·
Kumbang 1
·
Lalat 1
|
I.
PEMBAHASAN
·
Identifikasi jenis hama jagung
Belalang daun
: Hama ini merupakan salah satu faktor penghambat dalam program peningkatan
produksi tanaman. Kerusakan dan kerugian yang ditimbulakan olah hama belalang
kembara sangat bervariasi diikuti dengan peningkatan populasi yang tinggi.
Belalang ini mempunyai sifat cenderung untuk membentuk kelompok yang besar dan
suka berpindah-pindah (berimigrasi), sehingga dalam waktu yang singkat dapat
menyebar pada areal yang luas. Kelompok yang berimigrasi dapat memakan tumbuhan
yang dilewatinya selama dalam perjalanan. Perilaku makan belalang kembara
dewasa biasanya diwaktu hinggap pada sore hari sampai malam dan pada pagi hari
sebelum terbang. Kelompok Nimfa yang berimigrasi dapat memakan tumbuhan yang
dilokasi selama dalam perjalanan. Belalang ini cenderung memilih makanan yang
lebih disukainya, terutama spesies tumbuhan dari Famili Graminae. Dalam keadaan
eksplosi juga diserang daun-daun kelapa dan tanaman dari golongan Palma
lainnya. Musuh-musuh alami belalang kembara yaitu berupa penyakit parasit dan
predator. Penyakit yang menyerang belalang kembara antara lain penyakit
bakteri, penyakit cendawan antara lain yaitu, parasit ini dari jenis Nematoda,
dan predator dari bangsa burung dan semut. Dalam keadaan populasi belalang
tinggi nampaknya peranan musuh alami ini relatif rendah.
Lalat bibit (Atherigona sp) :
Ciri-ciri hama :
1.
Imago sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah
atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Lama hidup
serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari dimana betina hidup dua
kali lebih lama dari pada jantan. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mm
sampai 4,5 mm.
2.
Telur mulai diletakkan oleh Imago betina tiga sampai lima hari
setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70
butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara
tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun.
3.
Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada
awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap.
Serangan : Serangan
terjadi pada tanaman yang baru tumbuh (1-2 minggu setelah tanam). Larva yang
baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar
batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati.
Lege (kumbang) : Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros
(L)) diklasifikasikan ke dalam ordo Coleoptera, famili Scarabidae dan
subfamili Dynastinae. Kumbang ini merupakan hama utama yang menyerang kelapa
sawit dan sangat merugikan di Indonesia, khususnya di areal replanting
yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia. Hal ini
disebabkan karena pada areal replanting, banyak tumpukan bahan organik
yang sedang mengalami proses pembusukan sebagai tempat berkembang biak hama
ini.
Siklus
Hidup : Siklus hidup
kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya.
Musim kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat
perkembangan larva serta ukuran dewasa yang lebih kecil dari ukuran normal.
Suhu perkembangan larva yang sesuai adalah 27oC-29oC
dengan kelembapan relatif 85-95% (Bedford, 1980). Satu siklus hidup hama ini
dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan. Kumbang ini mempunyai telur yang
berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk telur biasanya oval
kemudian mulai membengkak sekitar satu minggu setelah peletakan dan menetas
pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung dalam
waktu 82-207 hari. Larva berwarna putih kekuningan,
berbentuk silinder, gemuk dan berkerut-kerut, melengkung membentuk setengah
lingkaran dengan panjang sekitar 60-100 mm atau lebih
(Ooi, 1988). Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil
dari larva instar terakhir dan menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika
diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari. Pupa berwarna cokelat
kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan waktu 17-28 hari. Kumbang berwarna
cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-50 mm dan lebar 20-23 mm
dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala (Wood, 1968). Jantan
memiliki tanduk yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai
banyak rambut pada ujung ruas terakhir abdomen dan jantan tidak (Wood, 1968).
Umur betina lebih panjang dari umur jantan.
Pengendalian
Biologi : Pengendalian
kumbang tanduk O. rhinoceros secara biologi menggunakan beberapa agensia
hayati diantaranya jamur Metarhizium anisopliae dan Baculovirus
oryctes. Jamur M. anisopliae merupakan jamur parasit yang telah lama
digunakan untuk mengendalikan hama O. rhinoceros. Jamur ini efektif
menyebabkan kematian pada stadia larva dengan gejala mumifikasi yang tampak 2-4
minggu setelah aplikasi. Jamur diaplikasikan dengan menaburkan 20 g/m2
(dalam medium jagung) pada tumpukan tandan kosong kelapa sawit dan 1 kg/batang
kelapa sawit yang telah ditumbang. Baculovirus oryctes juga efektif
mengendalikan larva maupun kumbang O. rhinoceros.
Kungkang / walang sangit : Berdasarkan hasil pengamatan dari
walang sangit (Leptocorixa acuta). Tersusun atas caput tungkai depan, sayap
depan, sayap belakang tungkai belakang, abdomen, toraks, dan antena. Serangga
ini memiliki sayap depan yang keras,tebal,dan tanpa vena.
Menurut Sudarmo (2009), Ordo Coleoptera yakni Walang Sangit
(Leptocorixa acuta). Secara umum morfologinya tersusun atas caput tungkai
depan, sayap depan, sayap belakang tungkai belakang, abdomen, toraks, dan
antena. Serangga ini memiliki sayap depan yang keras,tebal,dan tanpa vena.
Kerusakan yang hebat disebabkan oleh imago yang menyerang tepat pada masa
berbunga, sedangkan nimpa terlihat merusak secara nyata setelah pada instar
ketiga dan seterusnya (Kalshoven, 1981). Menurut Willis (2001), tingkat
serangan dan menurunnya hasil akibat serangga dewasa lebih besar dibandingkan
nimfa. Suharto dan Damardjati (1988) melaporkan bahwa 5 ekor walang sangit pada
tiap 9 rumpun tanaman akan merugikan hasil sebesar 15%, sedangkan 10 ekor pada
9 rumpun tanaman akan mengurangi hasil sampai 25%. Kerusakan yang tinggi
biasanya terjadi pada tanaman di lahan yang sebelumnya banyak ditumbuhi
rumput-rumputan serta pada tanaman yang berbunga paling akhir (Willis, 2001).
Sayap
belakang membraneus dan terlipat di bawah sayap depan saat serangga istirahat.
Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan
baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya
terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.
Berdasarkan pengamatan gejala serangan Walang Sangit (Leptocorixa
acuta). Diperoleh pada bulir padi tampak becak bercak hitam/kecoklatan.
Serangan walang sangit Walang Sangit (Leptocorixa acuta) tidak sampai
menghampakan padi, tetapi menghasilkan padi berkualitas jelek (goresan –
goresan membujur pada kulit gabah dan pecah apabila
dilakukan penggilingan/penumbukan). Pembasmian hama dilakukan menggunakan
insektisida sesuai aturan (Oka, 2009).
II.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa kami dapatkan
adalah adanya beberapa jenis hama yang dapat diidentifikasi . diantaranya
terdapat jenis hama utama yaitu belalang daun yang kerusakannya dapat memakan
daun hingga habis, lalu adanya lalat bibit yang melakukan kerusakan pada batang
tanaman jagung. Dan terakhir ditemukannya hama walang sangit yang merupakan
hama , kerusakan yang diakibatkan oleh adanya hama ini adalah biji pada gabah
jagung menjadi hapa .
III.
DAFTAR PUSTAKA
diakses pada tanggal 12 November 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar