BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Serangan organisme pengganggu
tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi
pertanian. Untuk pengendalian OPT, jalan pintas yang sering dilakukan adalah
menggunakan pestisida kimia. Padahal penggunaan pestisida yang tidak bijaksana
banyak menimbulkan dampak negatif, antara lain terhadap kesehatan manusia dan
kelestarian lingkungan hidup. Memperhatikan pengaruh negatif pestisida
tersebut, perlu dicari cara-cara pengendalian yang lebih aman dan akrab
lingkungan. Hal ini sesuai konsepsi pengendalian hama terpadu (PHT), bahwa
pengendalian OPT dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan,
aman bagi produsen dan konsumen serta menguntungkan petani.
Pestisida adalah bahan kimia
yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan/pertumbuhan dari hama, penyakit
dan gulma. Tanpa menggunakan pestisida akan terjadi penurunan hasil pertanian. Pestisida
secara umum digolongkan kepada jenis organisme yang akan dikendalikan
populasinya. Insektisida, herbisida, fungsida dan nematosida digunakan untuk
mengendalikan hama, gulma, jamur tanaman yang patogen dan nematoda. Jenis
pestisida yang lain digunakan untuk mengendalikan hama dari tikus dan siput
(Alexander, 1977). Berdasarkan ketahanannya di lingkungan, maka pestisida dapat
dikelompokkan atas dua golongan yaitu yang resisten dimana meninggalkan pengaruh
terhadap lingkungan dan yang kurang resisten. Pestisida yang termasuk organoc
hlorines termasuk pestisida yang resisten pada lingkungan dan meninggalkan
residu yang terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan melalui rantai
makanan, contohnya DDT, Cyclodienes, Hexachlorocyclohexane (HCH), endrin.
Pestisida kelompok organofosfat adalah pestisida yang mempunyai pengaruh yang
efektif sesaat saja dan cepat terdegradasi di tanah, contohnya Disulfoton,
Parathion, Diazinon, Azodrin, Gophacide, dan lain- lain (Sudarmo, 1991).
Dalam bidang pertanian pestisida
merupakan sarana untuk membunuh jasad pengganggu tanaman. Dalam konsep
Pengendalian Hama Terpadu, pestisida berperan sebagai salah satu komponen
pengendalian, yang mana harus sejalan dengan komponen pengendalian hayati,
efisien untuk mengendalikan hama tertentu, mudah terurai dan am an bagi lingkungan
sekitarnya. Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai
teknologi, seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola
tanam serta usaha pembukaan lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem
yang sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad penganggu.
Cara lain untuk mengatasi jasad penganggu selain menggunakan pestisida kadang-
kadang memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar dan hanya dapat dilakukan
pada kondisi tertentu. Sampai saat ini hanya pestisida yang mampu melawan jasad
penganggu dan berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil (Sudarmo,
1991). Informasi yang terperinci tentang tingkat keracunan, keberadaan dalam
tanah, jalan pengangkutan yang lebih dominan dari berbagai herbisida,
insektisida dan fungisida hendaknya diketahui. Kondisi cuaca penting
diperhatikan pada saat pengaplikasian (Loehr, 1984).
1.2 TUJUAN
Tujuan dalam pembuatan makalah ini
adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pestisida terhadap
mikroorganisme tanah dan pengaruh pestisida terhadap lingkungan .
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
pengaruh pestisida terhadap mikroorganisme tanah ?
2. Bagaimana
dampak petisida dapat berpengaruh terhadap lingkungan?
3. Bagaimana
pencegahan yang dapat dilakukan ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pestisida
2.1.1.Pengertian Pestisida
Pestisida adalah
substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai
hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan
cida berarti pembunuh. Yang dimaksud hama bagi petani sangat luas yaitu :
tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi
(jamur), bakteria dan virus, nematoda
(cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap
merugikan. Menurut peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1973 (yang dikutip oleh
Djojosumarto, 2008) pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain serta
jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
1) Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak tanaman
atau hasil-hasil pertanian.
2) Memberantas rerumputan.
3) Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan
tanaman atau bagian-bagian tanaman, tidak termasuk pupuk.
4) Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada
hewan-hewan peliharaan dan ternak.
5) Memberantas dan mencegah hama-hama air.
6) Memberikan atau mencegah binatang-binatang
dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan alat-alat pengangkutan,
memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia atau binatang yang
perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.
Pestisida
yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut produk perlindungan tanaman (crop protection products) untuk membedakannya dari
produk-produk yang digunakan dibidang lain. (Djojosumarto, 2008). Pengelolaan
pestisida adalah kegiatan meliputi pembuatan, pengangkutan, penyimpanan,
peragaan, penggunaan dan pembuangan / pemusnahan pestisida.Selain
efektifitasnya yang tinggi, pestisida banyak menimbulkan efek negatif yang
merugikan. Dalam pengendalian pestisida sebaiknya pengguna mengetahui sifat
kimia dan sifat fisik pestisida, biologi dan ekologi organisme pengganggu
tanaman. (Wudianto R, 2010).
3.2 RESIDU PESTISIDA TERHADAP TANAH
Residu
Pestisida adalah zat tertentu yang terkandung dalam hasil pertanian, bahan
pangan, atau pakan hewan baik sebagai akibat langsung maupun tak langsung dari
penggunaan pestisida. Istilah ini mencakup senyawa turunan pestisida, seperti
senyawa hasil konversi metabolit, senyawa hasil reaksi, dan zat pencemar yang
dapat memberikan pengaruh toksikologis.
3.2.1
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI RESIDU PESTISIDA DALAM TAHAN
Pada kenyataannya, saat ini pestisida
masih sangat sering dilakukan oleh para petani dilapangan. Para petani sering
menggunakan cara disemprotkan atau dengan disebar yang dengan tidak langsung
pestisida akan jatuh mengenai permukaan tanah. Artinya tanah pada lahan
pertanian akan mengandung bahan pestisida. Adapun beberapa faktor yang
mempengaruhi kandungan pestisida didalam tanah yaitu :
a. Absorpsi oleh partikel tanah
Pemupukan pestisida cenderung berada
pada permukaan tanah yang akan kaya dengan bahan organik . beberapa peneliti
mengemukakan bahwa insektisida aldrin mudah terabsorpsi dan sukar keluar
didalam tanah. Tinggi rendahnya bahan organik dipengaruhi oleh dinamika
persistensi pestisida dalam lingkungan .dengan demikian jika kandungan bahan
organik meninggi berarti mobilitas pestisida menurun, sehingga residu pestisida
akan meningkat. Hal ini disebabkan pengaruh limpasan permukaan dan kolasi yang
rendah .
b. Pencucian Air Hujan
Indonesia termasuk beriklim tropis,
suhu yang relatif tinggi dan curah hujan yang tinggi menyebabkan umur residu
lebih pendek, metabolisme lebih tinggi dan pencucian lebih cepat. Didalam
berbagai keadaan pestisida memiliki persistensi didalam air lebih pendek bila
dibandingkan didalam tanah.
c. Penguapan
Air berperan sebagai media
trasportasi pestisida. Pindahnya pestisida dapat bersama air da debu. Selain
itu pertisida dapat menguap dengan suhu yang tinggi .
d. Degrdasi/aktivasi mikroorganisme dalam tanah.
Kegiatan mikroba dalam tanah dapat
meningkatkan suhu, sehingga dapat menyebabkan putusnya ikatan hidrogen yang
terbentuk pada proses absorpsi dan akan terjadi proses debsorpsi beberapa
molekul pestisida ke dalam larutan tanah dan memungkinkan pencucian dan
penguapan dan memungkinkan ternydinya senyawa lain .
e. Pengolahan tanah
Sistem konservasi pengolahan tanah
dapat menurunkan residu petisida seperti karbofuran, terbufos, antrazine, dan
klorpiripos dalam limpasan permukaan dan erasi.
3.2.2
PENGARUH
PESTISIDA TERHADAP MIKROORGANIME TANAH
Tanah merupakan salah satu reservoir
utama bagi pestisida. Residu pestisida dalam tanah menunjukan banyaknya
pestisida yang non mobil dari jumlah yang diaplikasikan. Berikut ini diuraikan
pengaruh pestisida terhadap kehidupan organisme tanah :
1. Fungisida
Cacing tanah agak peka terhadap residu
fungisida. cacing tanah akan mengalami kematian dengan fungisida berkonsentrasi
tinggi. Fungisida sulfat tembaga yang digunakan secara terus menerus pada kebun
buah-buahan dapat menekan/menurunkan populasi cacing tanah dengan cepat.
2. Insektisida
Insektisida merupakan bahan yang
paling sering digunakan oleh para petani dilapangan. Bahan yang sering
digunakan ini ternyata berpengaruh teradap populasi tungau predator menurun
kerena adanya bahan hidrokarbon berklor. Selain itu penelitian Rodiquez-kabana
dan curl (1980) menunjukan bahwa perlakuan insektisida karbofuran pada tanaman
kacang tanah dapat menurunkan populasi jamur mikoriza 30 hari setelah tanam.
3.3 PENGARUH PESTISIDA TERHADAP LINGKUNGAN
Pestisida
masih diperlukan dalam kegiatan pertanian. Penggunaan pestisida yang tidak
bijaksana dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku dapat menimbulkan dampak
negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia . Berikut ini diuraikan beberapa dampak
negatif yang mungkin timbul akibat penggunaan pestisida dalam bidang pertanian,
yang tidak sesuai dengan aturan.
1. Pencemaran air dan tanah
Di
lingkungan perairan, pencemaran air oleh pestisida terutama terjadi melalui
aliran air dari tempat kegiatan manusia yang menggunakan pestisida dalam usaha
mena ikkan produksi pertanian dan
peternakan. Jenis-jenis pestisida yang persisten (DDT, Aldrin, Dieldrin) tidak
mengalami degradasi dalam tanah, tapi malah akan berakumulasi. D alam air,
pestisida dapat mengakibatkan biology magnification, padapestisida yang
persisten dapat mencapai
komponen
terakhir, yaitu manusia melalui rantai makanan. Pestisida dengan formulasi
granula, mengalami proses dalam tanah dan air sehingga ada kemun gkinan untuk
dapat mencemari
tanah
dan air.
2. Pencemaran udara
Pestisida
yang disemprotkan segera bercampur dengan udara dan langsung terkena sinar
matahari. Pestisida dapat mengalami fotodekomposisi di udara. Pestisida
mengalami perkolasi
atau
ikut terbang menurut aliran angin. Makin halus butiran larutan makin besar
kemungkinan ikut perkolasi dan makin jauh ikut diter -bangkan arus angin.
3. Timbulnya spesies hama yang resisten
Spesies
hama yang akan diberantas dapat menjadi toleran terhadap pestisida, sehingg a
populasinya menjadi tidak terkendali. Ini berarti bahwa jumlah individu yang
mati sedikit sekali atau tidak ada yang mati, meskipun telah disemprot dengan
pestisida dosis normal atau dosis lebih tinggi sekalipun. Populasi dari spesies
hama dapat pulih kembali dengan cepat dari pengaruh racun pestisida serta bisa menimbulkan
tingkat resistensi pestisida tertentu pada populasi baru yang lebih tinggi, hal
ini biasanya disebabkan oleh pestisida golongan organoklorin.
4. Timbulnya spesies hama baru atau ledakan
hama sekunder
Penggunaanpestisida
yang ditujukan untuk memberantas jenis hama tertentu, bahkandapat menyebabkan
munculnya jenis hama yang lain. Ledakan hama sekunder tersebut dapat terjadi
beberapa
saat setelah penggunaanpestisida, atau pada akhir musim tanam atau malah pada
musim tanam berikutnya. Ledakan hama sekunder dapat lebih merusak daripada hama
sasaran sebelumnya.
5. Resurgensi
Bila
suatu jenis hama setelah memperoleh perlakuan pestisida berkembang menjadi
lebih banyak dibanding dengan yang tanpaperlakuan pestisida, maka fenomena itu
disebutresurgensi .Faktor penyebab terjadinya resurgesi antara lain adalah (a)
butir semprotan pestisida tidak sampai pada tempat hama berkumpul dan makan;
(b) kurangnyapengaruh residu pestisida untuk membunuh nimfa hama yang menetas
sehingga resisten terhadap pestisida; (c) predator alam mati terbunuh
pestisida; (d) pengaruh fisiologis insektisida kepada kesuburan hama. Hama
bertelur lebih banyak dengan angka kematian hama yang menurun; (e) pengaruh fisiologis
pestisida
kepada tanaman sedemikian rupa sehingga hama dapat hidup lebih subur
(Djojosumarto, 2000).
6. Merusak keseimbangan ekosistem
Penggunaan
pestisidaseperti insektisida, fungisida dan herbisida untuk membasmi hama
tanaman, hewan, dan gulma (tanaman benalu ) yang bisa mengganggu produksi
tanaman sering
menimbulkan
komplikasi lingkungan (Supardi, 1994). Penekanan populasi insekta hama tanaman
dengan menggunakan insektisida , juga akan mempengaruhi predator dan
parasitnya, termasuk serangga lainnya yang memangs a spesies hama dapat ikut
terbunuh . Misalnya, burung dan vertebrata lain pemakan spesies yang terkena insektisida
akan terancam kehidupannya. Sehingga dengan demikian bersamaan dengan
menurunnya jumlah individu spesies hama, menurun pula parasitnya. Sebagai
contoh misalnya kasus di Inggris, dilaporkan bahwa di daerah pertanian dijumpai
residu organochlorin yang tidak berpengaruh pada rodentia tanah .Tapi
sebaliknya, pada burung pemangsa Falcotinnunculus dan Tyto alba, yang
semata-mata makanannya tergantungpada rodentia tanah tersebut mengandung residu
tinggi, bahkan pada tingkat yang sangat fatal. Sebagai akibatnya, banyak burung
-burung pemangsa yang mati. Begitu juga pada binatang jenis kelelawar. Golongan
ini ternyata tidak terlepas dari pengaruh pestisi da. Dari 31 ekor kelelawar
yang diteliti, semuanya mengandung residu senyawa Organochhlorindengan DDE (Hendrawan,
2002) .
7. Dampak terhadap kesehatan masyarakat
Penggunaan
pestisida dalam kegiatan pertanian dapat mengakibatkan dampak negatif pada
kesehat an manusia, misalnya : (a) terdapat residu pestisida pada pr oduk
pertanian; (b) b ioakumulasi dan biomagnifikasi melalui rantai makanan. Manusia
sebagai makhluk hidup yang letaknya paling ujung dari rantai makanan dapat memperoleh
efek biomagnifikasi yang p aling besar. Dampak ini ditimbulkan oleh pestisida
golongan organoklorin; (c) k eracunan pestisida, yang sering terjadi pada
pekerja dengan pestisida. Dampak negatif pestisida terhadap kesehatan manusia,
baik secara langsung maupun tak langsung yang dihubungkan dengan
sifat
dasar bahan kimianya (Keman, 2001 dan Djojosumarto, 2000):
a. Organoklorin (OK)
Merupakan
racun kontak dan racun perut. Merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat
karena sifat persistensinya sangat lama di lingkungan, baik di tanah maupun
jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. Persistensi organoklorin menimbulkan
dam-pak negatif seperti biomagnifikasi dan masalah kera cunan kronik yang
membahayakan. Herbisida senyawa 2,3,7,8 –TCDD merupakan senyawa toksik untuk
ternak termasuk manusia, masuk lewat kontak kulit atau saluran pencernakan,
menginduksi enzim oksidase, karsinogen kuat, teratogenik serta menekan reaksi
imun. Toksisitas golongan organoklorin ini yaitu sebagai anastesi, narkotik dan
racun sistemik. Cara kerja spesifiknya adalah sebagai depressant system saraf
pusat (narkosis),
kerusakan
jaringan liver dan kerusakan jaringan ginjal.
b. Organofosfat (OP)
Merupakan
racun kontak, racun perut maupun fumigan. Toksisitas karena paparan senyawa ini
meliputi system syaraf melalui inhibisi enzim kolinesterase.
c. Karbamat
Seperti
halnya golongan organofosfat, toksisitasnya dengan penghambatan aktivitas enzim
kolinesterase pada sistem syaraf.
2.4 PENCEGAHAN PENCEMARAN OLEH PESTISIDA
A. Pengelolaan Pestisida
Tindakan
pengelolaan terhadap pestisida bert ujuan untuk agar manusia terbebas dari
keracunan dan pencemaran oleh pestisida. Beberapa tindakan pengelolaan yang
perlu diambil untuk mencegah keracunan dan pencemaran ol eh pestisida ialah
penyimpanan, pembuangan serta pemusnahan limbah pestisida . Penyimpanan
pestisida sebagai barang berbahaya harus diperhatikan. Dari studi householdyang
pernah dilakukan oleh FAO di Alahan Panjang, Sumatera Utara dan Brebes ,banyak
ibu rumah tangga yang menyimpan pestisida di rumah satu ruang dengan tempat
menyimpan mak anan, minuman dan mudah dijangkau oleh anak (Depkes, 2000).
Pestisida harus disimpan pada tempat yang aman . Hal yang perlu diperhatikan
dalam penyimpanan pestisida, yaitu ( Siswanto, 1991 dan Depkes 2000) :
1.
Pestisida disimpan dalam kemasan aslinya ,jangan di pindahkan ke wadah lain
terutama wadah yang biasa digunakan untuk menyimpan makanan atau minuman.
2.
Dalam jumlah kecil, pestisida dapat disimpan dalam lemari tersendiri, terkunci
dan jauh dari jangkauan anak –anak dan binatang piaraan, tidak berdekatan denga
npenyimpanan makanan atauapi.
3.
Dalam jumlah besar, pestisida dapat disimpan dalam gudang dengan ketentuan
sebagai berikut :
a. Lokasi gudang harus terpisah dari aktivitas umum dan tidak
terkena
banjir dan lantai gedung harus miring.
b. Dinding dan lantai gudang kuat dan mudah dibersihkan.
c. Pintu dapat ditutup rapat dan diberi peringatan atau
dengan
tulisan
atau gambar.
d. Mempunyai ventilasi, penerangan yang cukup, dan suhu
memenuhi
ketentuan yang berlaku.
e. Selalu dikunci apabila tidak ada kegiatan.
f. Tidak boleh disim pan bersama-sama bahan lain.
g. Pemasangan instalasi listrik dan penggunaan peralatan
listrik
harus
memenuhi persyaratan yang berlaku.
h. Di luar ruangan penyimpanan ditulis papan peringatan.
4.
Cara penyimpanan pestisida harus memenuhi syarat yang berlaku terhadap
kemungkinan bahaya peledakan. Limbah pestisida biasanya berupa pestisida sisa
yang berada dalam kemasan. Pembuangan yang tidak benar selain dapat mencemarilingkungan
juga merupakan potensi bagi orang untuk terpapar secara tidak langsung dengan
pestisida. Pembuangan dan pemusnahan limbah pestisida, yang perlu memperhatikan
hal – hal sebagai berikut ( Siswanto, 1991 dan Depkes 2000) :
1) Sampah pestisida sebelum dibuang harus dirusak terlebih
dahulu sehingga tidak dapat digunakan lagi.
a. Drum dan kaleng yang terbua t dari logam setelah dirusak (dilubangi
dengan cara menusuk) dihancurkan serta selanjutnya di kubur. Jangan melakukan
pemusnahan pada kaleng-kaleng bekas aerosol.
b. Wadah yang terbuat dari plastik dirusak ( punctured) dan
selanjutnya
di kubur di tempat yang a man.
c. Wadah berupa gelas dipecah dan dikubur di tempat yang aman
d. Wadah berupa kertasatau karton dibakar
2) Pembakaran wadah pestisida harus dilakukan di suatu tempat
yang letaknya jauh rumah untuk mencegah terhirupnya asap yang ditimbulkan panas
pembakaran te rsebut. Pembuangan sampah atau limbah pestisida sebaiknya harus ditempat
khusus, bukan di tempat pembuangan sampah atau limbah umum.
3) Lokasi tempat pembuangan dan pemusnahan sampah atau limbah
pestisida harus terletak pada jarak yang aman dari daerah pemukiman dan badan
air.
4) Untuk melakukan pemusnahan pestisida, pilihlah tempat yang
permukaan air tanah pada musim hujan tidak lebih tinggi dari 3,25 meter di
bawah permukaan tanah.
6) Tempat penguburan pestisida letaknya harus jauh dari
sumber air, sumur, kolam ikan dan saluran air minum (100 meter atau lebih).
7) Jarak antara 2 (dua) lubang tidak boleh kurang dari 10
(sepuluh) meter.
B. Penggunaan Pestisida secara Aman
Dalam
penggunaan pestisida sangat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan mengingat
besarnya risiko yang diterima oleh masing-masing pihak. Kelompok yang perlu
mendapat perhatian adalah pekerja yang berhubungan dengan pestisida, karena merupakan
kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap keracunan pestisida. Pekerja
yang berhubungan dengan pe stisida dalam hal ini adalah pekerja dalam suatu
perusahaan pengelola pestisida ataupun petani sebagai pengguna pestisida Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Pangan Dunia (FAO), 1992 yang
meneliti 214 orang petani selama dua tahun, terj adinya keracunan akut yang
diderita oleh petani responden disebabkan petani tidak memahami bahaya
pestisida terhadap kesehatannya. Sedangkan pakaian pelindung yang aman, terlalu
panas untuk digunakan di daerah tropis dan harganya terlalu mahal, sehingga
para petani harus menerima keadaan sakit sebagai risiko bekerja di sektor
pertanian (Depkes, 2000). Para petani potensial sebagai penderita keracunan
pestisida yang dipergunakan di lahan usaha taninya. Keracunan terjadi disebabkan
oleh hal -hal berikut:
1. Kurang mengertinya petani akan bahaya pestisida.
2. Masih banyaknya pestisida yang sangat berbahaya yang
beredar dan mudah didapati oleh petani.
3. Tidak tersedianya alat pelindung diri yang aman, murah dan
enak digunakan oleh petani.
BAB III
KESIMPULAN
Adanya pengaruh pestisida terhadap beberapa aspek yaitu
mikroorgnisme didalam tanah dan terhadap lingkungan. Pengaruhnya yaitu adanya
residu pestisida yang dapat menurunkan populasi mikroorganisme tanah seperti
pada cacing tanah dan bakteri mikoriza . selain itu juga penggunaan pestisida
yang berlebihan akan berdampak negatif terhdap lingkungan yaitu :
1.
Pencemaran air dan tanah
2.
Pencemaran udara
3.
Timbulnya spesies hama yang resisten
4.
Timbulnya spesies hama baru atau ledakan hama
sekunder
5.
Resurgensi
6.
Merusak keseimbangan ekosistem
7.
Dampak terhadap kesehatan masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Darmono. 2001. Lingkungan
Hidup dan Pencemaran : Hubungannya dengan
Toksikologi
Senyawa
Log am. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
DjojosumartoP.
2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian . Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
FischerHP. 1992.
New Agrichemicals Based on Microbial Metabolites, dalam New Biopesticides.
Proceedingof
the ’92 Agric. Biotechnology Symposium on Biopesticide .September 1992. Suwon.
Korea.
dapusnya tentang residu mana ya?
BalasHapus